Daerah

Jeroan Hewan Kurban di Jakarta Barat Tak Selalu Dibuang, Ini Penjelasannya

0
×

Jeroan Hewan Kurban di Jakarta Barat Tak Selalu Dibuang, Ini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ke Mana Perginya Limbah Jeroan Hewan Kurban? Ini Jawabannya

jurnalistik.co.id – Di sejumlah lokasi pemotongan hewan kurban di Jakarta Barat pada Rabu (27/5/2026), limbah jeroan atau organ dalam hewan kurban tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan. Sebagian jeroan justru diminta warga untuk diolah menjadi makanan, sementara bagian lain dipisahkan karena dinilai tidak layak konsumsi.

Di lokasi pemotongan yang berada tak jauh dari kawasan Jalan Kota Bambu, Jakarta Barat, jeroan seperti hati, usus, babat, hingga paru menjadi bagian yang paling banyak dicari warga. Bagian-bagian itu kemudian dimanfaatkan untuk berbagai olahan rumah tangga, mulai dari sambal goreng, soto, hingga gulai. Pola ini membuat jeroan yang masih bagus langsung memiliki tujuan, yakni dibagikan kepada warga yang memang sudah mengetahui bagian mana saja yang bisa diminta.

Sementara itu, jeroan yang sudah rusak, bercampur kotoran, atau tidak layak konsumsi dipisahkan sejak awal oleh panitia. Langkah ini dilakukan agar bagian yang tak bisa dimanfaatkan tidak menumpuk di lokasi pemotongan dan tidak menimbulkan bau. Dengan cara itu, jeroan yang tidak memenuhi syarat konsumsi bisa langsung diarahkan ke proses pembuangan tanpa bercampur dengan bagian yang akan dibawa pulang warga.

Rahmat (35), salah satu pemotong hewan kurban yang bekerja sama dengan pengurus masjid di sekitar lokasi, mengatakan warga biasanya sudah mengetahui bagian jeroan yang bisa diminta. “Kalau masih bagus ya kami bagikan, tapi kalau sudah tidak layak langsung kami pisahkan untuk dibuang supaya tidak menumpuk dan menimbulkan bau,” ujar Rahmat saat ditemui Kompas.com, Rabu.

Selain jeroan, sejumlah pedagang di sekitar area juga terlihat menjual kulit hewan kurban. Kulit tersebut umumnya dibeli warga atau pelaku usaha kecil untuk diolah lebih lanjut, sementara sebagian lainnya dikumpulkan untuk dijual kembali sebagai bahan baku. Aktivitas ini menunjukkan bahwa pemanfaatan hasil kurban tidak hanya berhenti pada daging, tetapi juga menjangkau bagian lain yang masih bisa diolah dan diperdagangkan.

Di sisi lain, pengelolaan limbah menjadi perhatian utama selama proses penyembelihan berlangsung. Darah dan sisa jeroan tidak dibiarkan mengalir atau tercecer, melainkan langsung ditampung dan dimasukkan ke kantong khusus untuk kemudian dibuang melalui petugas kebersihan lingkungan. Upaya ini dilakukan agar area pemotongan tetap tertib, bersih, dan tidak mengganggu warga di sekitar lokasi.

“Kalau darah itu kami usahakan langsung sampai ke selokan. Begitu juga jeroan yang tidak dipakai langsung kami kumpulkan ke kantong besar dan dibuang. Ini sudah jadi SOP kami setiap tahun kerja sama dengan masjid dan panitia kurban,” kata Imam (28), pemotong lainnya. Pernyataan itu menggambarkan bahwa pengelolaan sisa pemotongan bukan pekerjaan yang dilakukan seadanya, melainkan mengikuti pola kerja yang sudah berulang setiap tahun.

Imam menambahkan, dalam satu hari pemotongan saat puncak Idul Adha, jumlah hewan yang ditangani bisa mencapai belasan ekor. Kondisi tersebut membuat pekerjaan harus dilakukan cepat namun tetap menjaga kebersihan dan kehigienisan area. “Kalau ramai, yang paling sulit itu mengatur waktu dan alur kerja. Harus cepat, tapi juga harus bersih karena lokasinya dekat rumah warga,” ujar dia. Di tengah situasi seperti itu, pemisahan jeroan layak konsumsi, pengumpulan limbah, serta penanganan kulit menjadi bagian dari alur kerja yang harus berjalan beriringan.

Situasi itu juga memperlihatkan bahwa proses kurban di permukiman padat tidak hanya soal pembagian daging, tetapi juga soal kedisiplinan dalam memilah bagian yang masih bernilai guna dan yang harus segera disingkirkan. Karena dikerjakan di tengah lingkungan tempat tinggal warga, setiap tahapan mesti berlangsung rapi agar aktivitas pemotongan tetap berjalan lancar tanpa meninggalkan gangguan di area sekitar.

Di lapangan, pemisahan sejak awal dinilai membuat alur kerja lebih efisien. Jeroan yang masih layak langsung masuk ke tangan warga yang membutuhkan, sedangkan bagian yang rusak segera dikeluarkan dari lokasi. Pola sederhana ini membantu menjaga kebersihan tempat pemotongan sekaligus memastikan hasil kurban dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh masyarakat.