jurnalistik.co.id – PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) memilih menjaga jarak waktu perjalanan atau headway pada lintas KRL Commuter Line Nambo. Perusahaan menegaskan langkah ini diutamakan dibanding menambah formasi gerbong, karena layanan di lintas tersebut masih menggunakan delapan gerbong.
Kebijakan itu diterapkan untuk menjaga kestabilan jadwal sekaligus meredam penumpukan calon penumpang di stasiun. Dalam penjelasannya, VP Corporate Secretary PT KAI Commuter, Karina Amanda, menyebut penyesuaian formasi kereta menjadi bagian dari strategi operasional KCI saat ketersediaan trainset siap jalan masih terbatas.
Karina menjelaskan bahwa pengaturan headway dilakukan terutama pada jam sibuk pagi maupun sore. Ia menilai pengaturan interval antarkereta menjadi cara untuk mengantisipasi kebutuhan sarana KRL dan membantu mengurai kepadatan pengguna yang menunggu perjalanan.
“Saat ini KAI Commuter mengutamakan dan menjaga headway atau jarak waktu perjalanan antar Commuter Line terutama pada jam sibuk pagi maupun sore hari. Headway ini merupakan langkah yang diambil untuk antisipasi kebutuhan sarana KRL dan mengurai kepadatan pengguna yang menunggu perjalanannya,” ujar Karina kepada Kompas.com, Selasa (4/8/2026).
Perbandingan interval layanan
Sebagai pembanding, jadwal KRL pada lintas Bogor utama pada jam sibuk pagi dan sore memiliki interval lima menit sekali. Sementara itu, lintas Nambo saat ini masih memiliki interval keberangkatan kurang lebih sekitar satu jam sekali.
Perbedaan interval tersebut menjadi salah satu alasan KCI berfokus pada pengaturan waktu perjalanan. Dengan mempertahankan headway, KCI berusaha agar proses perjalanan tetap stabil dan tidak memperbesar kepadatan di titik-titik tunggu penumpang.
Ratusan ribu pengguna dengan keterbatasan perjalanan
Di sisi permintaan, lintas Nambo harus melayani ratusan ribu pengguna setiap hari hanya dengan 32 perjalanan pulang-pergi (PP). Karina menyampaikan volume pengguna pada lintas Nambo berada di kisaran 135 ribu sampai 140 ribu pengguna per hari.
Jumlah tersebut dilayani melalui 16 perjalanan menuju Jakarta Kota dan 16 perjalanan dari Jakarta Kota. Karina mengakui bahwa komposisi perjalanan yang ada belum sepenuhnya mampu menampung seluruh mobilitas warga setempat.
Berita Terkait
Akibatnya, sebagian calon penumpang akhirnya mencari alternatif stasiun lain. Mereka disebut beralih ke Bojonggede, Citayam, dan Depok untuk berburu KRL yang dinilai lebih cepat.
Tersendat karena kesiapan trainset dan panjang peron
KCI menyampaikan bahwa armada dan frekuensi perjalanan saat ini belum ideal. Namun, pengoperasian rangkaian berkapasitas lebih besar, seperti SF10 dan SF12, di lintas Nambo masih terkendala oleh kesiapan sarana dan prasarana fisik stasiun.
Karina mencontohkan, di Stasiun Cibinong fasilitas peron saat ini didesain hanya cukup untuk menampung maksimal delapan gerbong. Jika pengoperasian dipaksakan menggunakan sepuluh gerbong pada skema SF10, maka akan ada gerbong yang berhenti di luar area peron.
Karena itu, penambahan jadwal secara full perjalanan (Nambo-Jakarta Kota) perlu dilakukan melalui koordinasi. Koordinasi tersebut ditujukan untuk penyesuaian kapasitas prasarananya, termasuk daya Listrik Aliran Atas (LAA) serta kapasitas peron di setiap stasiun lintas Nambo.
Menurut Karina, peningkatan kapasitas rangkaian maupun penambahan frekuensi perjalanan di lintas Nambo baru dapat direalisasikan secara penuh setelah pengadaan trainset baru rampung. Langkah lanjutan yang disebut diperlukan adalah pembenahan prasarana perkeretaapian sampai selesai.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, KCI menempatkan headway sebagai pilihan operasional untuk menjaga kestabilan jadwal. Di saat yang sama, rencana peningkatan kapasitas diarahkan agar bisa dijalankan setelah kesiapan sarana dan infrastruktur memenuhi kebutuhan layanan.
Selain untuk menjaga jadwal, pengaturan interval juga membantu KCI mengendalikan ritme layanan di lapangan agar arus masuk dan keberangkatan di stasiun tidak berubah ekstrem. Dengan pola waktu yang lebih terukur, penumpang dapat memperkirakan kedatangan kereta dan aktivitas penjadwalan tetap konsisten.
Dalam situasi ketersediaan trainset yang masih terbatas, perusahaan memandang kebijakan headway sebagai cara paling mungkin untuk menyelaraskan kebutuhan mobilitas harian dengan kemampuan operasional yang ada saat ini. Upaya ini juga menjadi pengimbang ketika masih ada keterbatasan pada aspek teknis dan ruang tunggu di sepanjang lintas.
Kendala fisik menjadi pertimbangan penting dalam rencana peningkatan kapasitas. Karena peron di sejumlah stasiun hanya dirancang untuk menampung maksimal delapan gerbong, penerapan skema yang membawa formasi lebih panjang memerlukan penyesuaian kapasitas hingga daya Listrik Aliran Atas (LAA), sehingga penambahan perjalanan penuh tidak bisa langsung dilakukan tanpa koordinasi.












