jurnalistik.co.id – JAKARTA — Warga korban kebakaran di Kampung Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, masih terus mengevakuasi barang-barang berharganya ke area Lapangan Jusuf Hamka pada Senin (1/6/2026) malam. Situasi di sekitar permukiman dan area pertokoan belum sepenuhnya tenang karena warga masih berupaya menyelamatkan barang dari lokasi yang terdampak api.
Pantauan di lokasi sekitar pukul 23.45 WIB menunjukkan lahan kosong yang biasa disebut Lapangan Jusuf Hamka digunakan sebagai tempat evakuasi warga. Dari dalam area permukiman, warga terlihat berbondong-bondong keluar sambil membawa barang berharganya, sementara sebagian lain masih bergerak masuk dan keluar melalui gang kecil.
Hingga tengah malam, aktivitas itu belum berhenti. Sejumlah warga masih hilir mudik dari area rumah mereka dengan menggotong perabotan seperti kasur dan lemari, serta membawa dokumen dan barang berharga lain ke tempat yang lebih aman. Di antara barang yang diamankan, tampak pula hewan peliharaan yang ikut dibawa keluar dari area permukiman.
Di sisi Jalan Benyamin Suaeb, suasana tak kalah padat. Area itu dipenuhi barang-barang milik pedagang Pasar Jiung yang dikeluarkan dari toko-toko mereka karena khawatir ikut habis dilalap api. Berbagai barang, mulai dari elektronik hingga karung besar, tersebar di sejumlah titik di jalan utama tersebut.
Barang dagangan diamankan
Tajudin (46), salah satu pedagang pakan ternak di Pasar Jiung, mengaku sengaja mengamankan barang dagangannya meski api cukup jauh dari lapaknya. Ia mengatakan langsung kembali ke lokasi setelah mendapat kabar kebakaran saat sedang berada di Mangga Dua.
“Panik lah, tadi saya sudah pulang, ke daerah Mangga Dua, ditelepon katanya kebakaran gede banget, langsung enggak ganti baju saya ngebut ke sini, takut habis semua kebakar,” kata Tajudin saat ditemui di lokasi, Senin malam.
Ia menegaskan dirinya belum mengetahui dari mana sumber awal kebakaran karena api sudah terlanjur membesar ketika ia tiba di lokasi. Menurut dia, yang terpenting saat itu adalah menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diamankan, terutama karena di bagian belakang ada dagangan toko tenda-tenda yang juga ikut terdampak.
“Saya enggak mikir (dari mana asal api), yang penting aman saja semua, soalnya di belakang yang dagangan toko tenda-tenda itu pada kena juga,” ucapnya.
Warga kembali masuk untuk selamatkan barang
Di sisi lain, Heni, seorang warga RW 04 Kebon Kosong, Kemayoran, mengaku kelelahan setelah bolak-balik mengamankan barang di rumahnya. Awalnya, ia sudah berhasil menyelamatkan diri ke area Lapangan Jusuf Hamka bersama warga lain yang mengungsi dari permukiman.
Namun, setelah itu Heni ikut bersama para tetangganya kembali masuk ke area rumah untuk menyelamatkan barang-barang berharga yang masih tersisa. Upaya itu dilakukan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya aman, saat warga masih terus bergerak keluar masuk kawasan permukiman sambil membawa barang masing-masing.
Situasi di Kampung Pasar Jiung pada malam itu memperlihatkan bagaimana warga berusaha menyelamatkan diri sekaligus mempertahankan barang-barang penting yang masih bisa dibawa keluar. Di tengah asap dan kepanikan, evakuasi barang berlangsung bersamaan dengan upaya warga memastikan rumah, kios, dan isi bangunan mereka tidak seluruhnya hilang terbakar.
Meski kondisi fisik tampak lelah, banyak warga tetap memilih bertahan di sekitar lokasi untuk memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal. Mereka bergerak cepat setiap kali ada kesempatan, memindahkan apa pun yang masih memungkinkan dibawa, mulai dari perlengkapan rumah tangga hingga berkas-berkas yang dianggap paling sulit digantikan. Dalam situasi seperti itu, kehati-hatian dan kecepatan menjadi dua hal yang berjalan bersamaan.
Di tengah kepadatan warga yang terus keluar masuk gang, suasana malam di Kemayoran juga menunjukkan betapa besar dampak kebakaran terhadap aktivitas harian mereka. Lapangan Jusuf Hamka berubah menjadi titik tumpu sementara, tempat orang-orang bernafas sejenak sebelum kembali mengevakuasi sisa barang dari rumah dan kios. Bagi warga, malam itu bukan hanya soal menyelamatkan harta, tetapi juga menjaga sisa kepastian di tengah kepanikan yang belum mereda.












