jurnalistik.co.id – JAKARTA — Kebakaran terjadi di Poins Square, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Senin malam, 25 Mei 2026. Objek yang terbakar adalah coffee shop AfterHour di lantai 2 pusat perbelanjaan itu, dan petugas pemadam kebakaran menyebut dugaan awal mengarah pada kebocoran gas.
Menurut keterangan Pemadam Kebakaran, laporan dari masyarakat masuk pada pukul 19.17 WIB melalui sambungan telepon. Setelah laporan diterima, unit berangkat pada pukul 19.19 WIB, tiba di lokasi pada 19.23 WIB, dan api berhasil dipadamkan pada 19.57 WIB.
Dalam penanganan kejadian tersebut, sebanyak 14 unit dikerahkan ke lokasi. Total 54 personel Damkar ikut terlibat dalam upaya pemadaman, memastikan api tidak menjalar lebih luas di area pusat perbelanjaan tersebut.
Pihak Damkar menyebut kebakaran diduga terjadi akibat kebocoran gas. Kronologi yang disampaikan menunjukkan peristiwa bermula saat seorang karyawan bernama Anto mencoba mengganti tabung gas 12 kilogram.
Namun, saat proses itu berlangsung, regulator gas disebut bermasalah. Ketika hendak diperbaiki, gas tiba-tiba menyambar dari tungku titik api, sehingga memicu kebakaran di area coffee shop tersebut.
“Setelah itu pihak coffee shop berusaha memadamkan api menggunakan apar, sementara pihak security gedung menghubungi Damkar. Petugas terdekat kemudian meluncur ke TKP,” kata Damkar.
Di tengah insiden itu, satu korban terdeteksi, yakni Eka, laki-laki berusia 36 tahun. Korban mengalami luka bakar 10 persen dan langsung dilarikan ke RS Selapa untuk mendapatkan penanganan medis.
Selain menimbulkan korban luka, kebakaran tersebut juga memunculkan kerugian material. Damkar menaksir kerugian akibat insiden di Poins Square itu mencapai Rp17.434.600.
Kejadian ini menjadi perhatian karena berlangsung di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Lebak Bulus. Meski api akhirnya dapat dikendalikan dalam waktu kurang dari satu jam sejak laporan masuk, insiden ini menunjukkan bagaimana masalah kecil pada instalasi gas dapat berkembang cepat menjadi kebakaran yang membutuhkan penanganan segera.
Di sisi lain, respon petugas dan pihak gedung berlangsung cepat sejak laporan pertama diterima. Koordinasi antara coffee shop, security gedung, dan Damkar membantu proses pemadaman berjalan lebih terarah hingga api dinyatakan padam pada malam itu juga.
Dengan kondisi tersebut, fokus utama kini tertuju pada penanganan korban serta evaluasi atas penyebab kebakaran. Dugaan kebocoran gas, masalah regulator, dan penyambaran api dari tungku titik api menjadi rangkaian awal yang disebut dalam kronologi resmi kejadian.
Peristiwa di Poins Square menambah daftar insiden kebakaran yang dipicu masalah instalasi gas di area usaha kuliner. Dalam kasus ini, laporan cepat dari masyarakat, pengerahan 14 unit, dan respons petugas di lapangan menjadi faktor penting dalam menghentikan kebakaran sebelum berkembang lebih besar.
Peristiwa ini juga menegaskan bahwa kejadian yang tampak sepele dapat berkembang cepat ketika melibatkan sumber panas dan material mudah terbakar di area usaha. Karena itu, pemeriksaan rutin terhadap tabung gas, regulator, dan sambungan instalasi menjadi bagian penting untuk mencegah risiko serupa muncul kembali.
Dari rangkaian kronologi yang disampaikan, tampak bahwa kecepatan penanganan menjadi faktor pembeda antara api yang segera terkendali dan potensi kerusakan yang lebih luas. Begitu laporan diterima, pergerakan unit, kedatangan petugas, hingga proses pemadaman berlangsung dalam alur yang relatif cepat dan terkoordinasi.
Meski api berhasil dipadamkan pada malam yang sama, insiden di Poins Square tetap meninggalkan catatan penting bagi pengelola tempat usaha dan pengunjung pusat perbelanjaan. Kewaspadaan terhadap instalasi gas serta kesiapan sarana pemadam awal di dalam gedung menjadi langkah yang tidak bisa diabaikan, terutama di area yang beroperasi dengan peralatan masak dan sumber api terbuka.












