jurnalistik.co.id – JAKARTA — Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah kehilangan hingga 30 unit pesawat terbang tanpa awak (drone) jenis MQ-9 Reaper sejak dimulainya konflik dengan Iran. Jumlah itu setara hampir seperlima dari total armada pra-perang yang dimiliki Washington, dengan nilai kerugian yang ditaksir mendekati US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17,72 triliun.
Sebagian besar drone tersebut hancur atau mengalami kerusakan yang sangat serius akibat serangan dari pihak militer Iran. MQ-9 Reaper sendiri merupakan alutsista yang punya kemampuan ganda, yakni untuk misi pengintaian sekaligus serangan udara. Satu unit drone ini diperkirakan bernilai lebih dari US$ 30 juta atau sekitar Rp 531,84 miliar.
Di sisi produksi, General Atomics masih disebut memproduksi beberapa varian khusus untuk pelanggan asing. Namun, produsen kedirgantaraan itu sebenarnya telah menghentikan produksi model MQ-9 Reaper sejak tahun lalu. Kondisi ini membuat kehilangan puluhan unit di medan konflik menjadi pukulan yang tidak kecil bagi armada drone tempur AS.
Dalam laporan media Bloomberg, sebagaimana dilansir dari RT, yang mengutip sumber anonim, dijelaskan seberapa besar dampak kerusakan yang diderita militer negara adidaya tersebut selama perang berlangsung. “Iran telah menghancurkan lebih dari dua lusin drone MQ-9 Reaper yang dioperasikan oleh pasukan AS sejak perang dimulai pada akhir Februari,” dikutip Senin (25/5/2026).
Selain ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Iran, beberapa unit lainnya juga dilaporkan hancur ketika masih berada di darat. Kerusakan itu terjadi akibat serangan rudal dan juga karena berbagai insiden kecelakaan. Rentetan kehilangan tersebut membuat jumlah armada Reaper milik AS terus menyusut tajam dari waktu ke waktu.
Letnan Jenderal David Tabor, Wakil Kepala Staf Perencanaan dan Program Pentagon, mengatakan jumlah armada kini turun ke sekitar 135 pesawat. Angka itu jauh di bawah batas minimum yang telah ditetapkan Angkatan Udara sejak lama, yaitu 189 unit. Dengan kondisi seperti ini, tekanan terhadap kesiapan operasional armada drone AS ikut meningkat.
Sebelumnya, pada awal bulan ini, Congressional Research Service yang merupakan lembaga riset independen di bawah Perpustakaan Kongres AS dan bekerja menggunakan materi sumber terbuka, juga merilis dokumen resmi berjudul “Kerugian Tempur Pesawat AS dalam Operasi Epic Fury”. Dokumen tersebut memperkirakan militer AS telah kehilangan 24 unit MQ-9 Reaper ditambah satu unit jenis MQ-4C.
Secara total, dokumen itu mencatat ada sekitar 42 pesawat militer AS yang hilang di medan perang. Rinciannya mencakup empat jet tempur F-15E, satu jet tempur F-35A, satu pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat tanker pengisi bahan bakar KC-135 Stratotanker, serta sebuah helikopter. Data itu menunjukkan bahwa kerugian di udara tidak hanya menimpa satu jenis alutsista, melainkan juga merembet ke sejumlah platform tempur lainnya.
Saat memberikan keterangan di hadapan subkomite pertahanan Komite Alokasi DPR AS pada hari Selasa lalu, Pelaksana Tugas Pengawas Keuangan Pentagon Jules Hurst mengungkapkan bahwa pembengkakan anggaran militer sekutu tersebut meningkat sangat drastis dari proyeksi semula. “Biaya operasi militer terhadap Iran telah membengkak dari yang diproyeksikan sebelumnya sebesar US$ 25 miliar (Rp 443,20 triliun) menjadi US$ 29 jam (Rp 514,11 triliun) karena adanya pembaruan biaya perbaikan dan penggantian peralatan,” ujar Hurst mengenai faktor penyebab membubungnya biaya perang tersebut.
Kerugian itu juga memperlihatkan betapa mahalnya konsekuensi sebuah operasi udara ketika lawan memiliki kemampuan pertahanan yang efektif. Di atas kertas, MQ-9 Reaper masih menjadi salah satu perangkat andalan untuk mengawasi dan menyerang sasaran dari jarak jauh, tetapi tingginya angka kehilangan membuat keunggulan tersebut ikut tergerus di lapangan. Dalam situasi seperti ini, setiap unit yang jatuh bukan hanya berarti hilangnya aset bernilai besar, melainkan juga berkurangnya ruang gerak operasional yang bisa langsung dirasakan di medan perang.
Dengan armada yang terus menyusut dan biaya penggantian yang makin membengkak, tekanan terhadap Pentagon diperkirakan belum akan mereda dalam waktu dekat. Kondisi tersebut menegaskan bahwa perang udara bukan semata soal jumlah perangkat yang dikerahkan, tetapi juga soal daya tahan logistik, kesiapan perawatan, dan kemampuan menjaga stok alutsista tetap pada level aman. Ketika faktor-faktor itu terganggu, beban strategis yang harus ditanggung militer akan ikut meningkat secara signifikan.












