Daerah

Kelangkaan Minyak Tanah dan Gas Elpiji Rp200.000, Warga Oesapa Kupang Beralih ke Kayu Bakar

×

Kelangkaan Minyak Tanah dan Gas Elpiji Rp200.000, Warga Oesapa Kupang Beralih ke Kayu Bakar

Sebarkan artikel ini
Minyak Tanah Langka dan Gas Elpiji Mahal, Warga Kupang Terpaksa Pakai Kayu Bakar Kembali Regional 22 Juni 2026
Ilustrasi: Minyak Tanah Langka dan Gas Elpiji Mahal, Warga Kupang Terpaksa Pakai Kayu Bakar Kembali

jurnalistik.co.id – Asap tipis dari tungku tradisional mulai kembali terlihat mengepul di sejumlah rumah warga Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perubahan cara memasak ini dipicu kelangkaan minyak tanah yang kian parah serta harga gas Elpiji yang melonjak di pasaran dalam beberapa waktu terakhir.

Untuk menyiasati pengeluaran yang membengkak, sebagian warga terpaksa memanfaatkan kayu bakar guna memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari. Fenomena tersebut menjadi potret nyata beratnya beban ekonomi yang tengah dirasakan warga kelas bawah, khususnya ibu rumah tangga.

Ketua RT 32/RW 11 Kelurahan Oesapa, Muhammad Mansur Dokeng, atau yang akrab disapa Dewa, menyebut beberapa kepala keluarga di wilayahnya telah beralih kembali ke metode memasak tradisional. Ia mengungkap hal itu saat dikonfirmasi pada Minggu (21/6/2026).

Mulai beralih ke kayu bakar sebagai cadangan

Dewa mengatakan penggunaan kayu api muncul sebagai langkah antisipasi ketika kebutuhan gas sulit dipenuhi atau dirasakan terlalu mahal. “Sekitar tiga sampai empat kepala keluarga sudah mulai menggunakan kayu api lagi sebagai cadangan. Biasanya untuk memasak air, menanak nasi atau membakar ikan. Mereka menganggap penggunaan gas sekarang cukup boros dan cepat habis,” ujar Dewa.

Menurutnya, warga saat ini berada dalam situasi dilematis yang menekan keseharian rumah tangga. Di satu sisi, pasokan minyak tanah bersubsidi kian sulit diperoleh di pangkalan, sedangkan di sisi lain harga gas Elpiji non-subsidi terus merangkak naik hingga memberatkan daya beli masyarakat setempat.

“Kenaikan ini sangat berpengaruh terhadap ekonomi keluarga. Yang paling merasakan tentu ibu-ibu rumah tangga karena mereka yang setiap hari mengatur kebutuhan dapur dan belanja keluarga,” kata Dewa menambahkan.

Harga gas elpiji melonjak hingga mendekati Rp200.000 dan Rp300.000

Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, harga gas Elpiji ukuran tabung 5 kilogram kini telah melonjak drastis hingga hampir menyentuh angka Rp200.000 per tabung. Sementara itu, untuk gas Elpiji ukuran tabung 12 kilogram, harganya sudah semakin melambung mendekati Rp300.000 per tabung.

Besarnya lonjakan membuat sebagian keluarga menyesuaikan pola belanja dan memasak. Di banyak rumah, dapur menjadi ruang utama yang merasakan dampak langsung, karena rutinitas memasak tidak dapat ditunda meski kondisi ekonomi sedang tertekan.

Antrean panjang di pangkalan memicu gesekan sosial

Krisis yang muncul tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga pada akses terhadap bahan bakar. Kelangkaan minyak tanah memaksa warga berburu dari satu pangkalan ke pangkalan lain yang jaraknya berjauhan agar bisa mendapatkan pasokan.

Warga tidak jarang harus antre berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk memperoleh jatah beberapa liter minyak tanah. Ironisnya, antrean yang mengular panjang kerap memicu gesekan sosial antarpenduduk, terutama ketika kehadiran warga dari luar wilayah administrasi pangkalan memantik protes dan teguran.

Mereka khawatir kuota atau jatah minyak tanah yang tersedia di pangkalan tersebut akan berkurang sebelum semua warga lokal terakomodasi. Kendati diwarnai ketegangan, kebutuhan dasar rumah tangga tetap mendorong warga bertahan dalam antrean.

Rida, salah seorang warga Kelurahan Oesapa yang ditemui di lokasi antrean, menjelaskan kondisi itu secara langsung. “Kalau tidak antre, kami tidak dapat minyak tanah. Mau tidak mau harus cari ke mana saja yang masih ada stok,” ungkap Rida.

Rida mengatakan saat ini ia mulai mengombinasikan penggunaan kompor dengan tungku kayu bakar sebagai bentuk penyesuaian. Menurutnya, beralih ke kayu bakar menjadi jalan pintas terakhir ketika harga gas elpiji semakin mahal dan tidak lagi sinkron dengan kondisi finansial keluarganya.

“Kalau semua masak pakai gas, pengeluaran jadi lebih besar. Karena itu saya mulai pakai kayu api lagi untuk beberapa kebutuhan supaya bisa lebih hemat,” tutur Rida.

Desakan agar pemerintah menjamin pasokan dan mengendalikan harga

Mewakili suara warga, Rida menaruh harapan agar pemerintah daerah maupun instansi terkait segera turun tangan mengambil langkah konkret. Warga mendesak perlunya jaminan kestabilan pasokan minyak tanah di setiap pangkalan resmi serta pengendalian regulasi harga gas Elpiji.

Langkah tersebut dinilai mendesak agar kebutuhan dasar domestik seluruh lapisan rumah tangga dapat terpenuhi secara layak. Warga berharap kondisi ini tidak terus memaksa mereka mundur dengan bergantung pada kayu bakar, metode memasak yang sebelumnya mulai mereka tinggalkan demi kesehatan dan efisiensi waktu.