Daerah

Zulkifli Mengemudi Angkot Lebih dari 40 Tahun di Jakarta: Bukan Impian, Demi Bertahan Hidup

×

Zulkifli Mengemudi Angkot Lebih dari 40 Tahun di Jakarta: Bukan Impian, Demi Bertahan Hidup

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Zulkifli 40 Tahun Lebih Jadi Sopir Angkot: Bukan Cita-cita, tapi Jalan Hidup

jurnalistik.co.id – Di Jakarta, ada rutinitas yang tak mudah diganti oleh perubahan sistem transportasi. Bagi Zulkifli, deru angkot setiap pagi adalah penanda hari dimulai, sekaligus cara bertahan yang ia jalani tanpa banyak pilihan.

Zulkifli, sopir angkot M44 rute Kampung Melayu–Karet Kuningan, kini berusia 67 tahun. Lebih dari separuh hidupnya ia habiskan di jalanan, mengantar penumpang dari satu titik ke titik lain dengan pola kerja yang sudah mengakar.

Pada Kamis (6/8/2026), ia ditemui di sekitar Stasiun Tebet, Jakarta Selatan. Dari perbincangan singkat itu, tampak bahwa pekerjaannya bukan sekadar pekerjaan harian, melainkan ritme hidup yang dibentuk oleh pengalaman panjang di tengah kota yang terus bergerak.

Mesin yang dinyalakan dan persiapan sebelum berangkat menjadi bagian dari rutinitasnya sejak lama. Zulkifli menuturkan bahwa sejak tahun 80-an ia sudah mampu mengemudikan kendaraan, seperti yang ia sampaikan saat ditemui, “Alhamdulillah saya udah separuh lebih dari separuh umur. Tahun 80 (1980-an) saya udah bisa bawa kendaraan”.

Ia juga menegaskan bahwa waktu yang panjang di jalan tidak selalu identik dengan keputusan yang sejak awal direncanakan. Menurutnya, profesi sebagai sopir angkot berjalan mengikuti keadaan, bukan lahir dari keinginan yang benar-benar ia bayangkan sejak muda.

“Itu bukan pilihan. Kalau ada modal nggak mungkin jadi sopir angkot saya, ngapain jadi sopir angkot. Kalau ada modal mendingan usaha,” kata Zulkifli. Pernyataan itu menggambarkan cara pandangnya: pekerjaan yang ia jalani lebih dekat pada kebutuhan hidup ketimbang ambisi pribadi.

Ketika ditanya soal arah hidup yang membawanya bertahan di sektor ini, Zulkifli menyebut semuanya terjadi karena situasi. “Seadanya, jalan hidupnya memang ketemunya di situ,” ujarnya, seakan menempatkan perjalanan hidup sebagai sesuatu yang mengalir dan mempertemukannya pada pekerjaan yang sama bertahun-tahun.

Bagi Zulkifli, cita-cita masa muda juga tidak pernah mengarah pada mengemudi angkot. Ia mengaku tidak pernah membayangkan akan menghabiskan hari-harinya di belakang kemudi kendaraan umum yang beroperasi di rute tetap, dan ia menyebutnya dengan tegas, “Enggak mungkin pengen jadi kerja angkotan (sopir angkot)”.

Pada usia senja, upaya untuk berpindah profesi pun terasa semakin sempit. Zulkifli menyampaikan bahwa ia pernah mengemudi JakLingko selama dua tahun, tetapi kesempatan untuk kembali mengambil alih pekerjaan yang berbeda tidak lagi terbuka seperti dulu.

Di sekitar lokasi yang sama, seorang sopir angkot lain turut menilai bahwa faktor usia menjadi penghalang. “Kalau untuk sekarang ini udah mentok usia,” kata sopir tersebut, menegaskan bahwa persaingan dan peluang kerja tidak selalu berpihak pada mereka yang sudah lama menggantungkan hidup dari aktivitas mengemudi.

Untuk Zulkifli, bertahan berarti menerima kenyataan bahwa perubahan transportasi tidak otomatis menghapus kebutuhan ekonomi. Ia tetap menjalankan rutinitas mengantar penumpang, meski ia juga menyadari bahwa Jakarta terus berbenah dan pola mobilitas masyarakat tidak lagi sama seperti puluhan tahun lalu.

Pengalaman bertahun-tahun membuat Zulkifli memahami kebutuhan penumpang dan ritme kendaraan di rute Kampung Melayu–Karet Kuningan. Ia mengemudi dengan cara yang sudah ia pelajari dari banyak perjalanan, termasuk bagaimana menghadapi kondisi hari-hari berbeda tanpa harus mengubah total kebiasaan kerja yang telah menjadi pegangan.

Di titik itulah terlihat bahwa bagi Zulkifli, bekerja sebagai sopir angkot bukanlah impian yang pernah ia kejar. Pekerjaan itu hadir sebagai jawaban atas keterbatasan dan peluang yang muncul sedikit demi sedikit, lalu bertahan lama karena itulah yang bisa ia lakukan untuk tetap hidup di Jakarta.

Di usia 67 tahun, Zulkifli tetap memulai hari dengan persiapan yang sama, dari tempat kendaraan diparkir hingga keputusan kapan mulai beroperasi. Bagi orang yang sudah puluhan tahun berada di jalan, kesimpulan akhirnya sederhana: pilihan tidak selalu datang dari mimpi, melainkan dari kebutuhan yang terus menuntut untuk berjalan.