jurnalistik.co.id – Sejumlah serangan udara dilaporkan melumpuhkan pasokan listrik di kota pelabuhan Sevastopol, di Krimea yang diduduki Rusia. Gubernur yang dipasang Moskow, Mikhail Razvozhayev, mengatakan pemadaman listrik terjadi setelah serangan Ukraina.
Razvozhayev menyatakan penyerangan itu menargetkan fasilitas daya utama di kota tersebut. Menurut Ukraina, drone menyerang gardu listrik utama Sevastopol pada malam Selasa hingga dini hari.
Dari dampak tersebut, Razvozhayev memperingatkan sebagian wilayah tidak akan memiliki listrik hingga Rabu malam. Ia juga menyampaikan bahwa otoritas telah menetapkan “special regime” di fasilitas energi sambil menilai kerusakan.
Razvozhayev mengatakan seluruh layanan darurat berada dalam status siaga penuh. Ia menegaskan warga tidak akan gentar menghadapi pemadaman listrik, sebagaimana disampaikan melalui pesan Telegram kepada publik.
“Kami tidak akan terintimidasi oleh ketiadaan cahaya. Kami sudah melewati lebih dari itu, dan kami akan bertahan sekarang,” tulis Razvozhayev. Ia menambahkan, “Musuh kembali menyerang dengan keji, berupaya merampas kondisi hidup yang biasa kami miliki dan menanam kepanikan.”
Pihak berwenang di Sevastopol kemudian meminta warga melakukan langkah penghematan daya. Di antaranya, mereka dianjurkan menyimpan baterai ponsel dengan menurunkan kecerahan layar dan mematikan aplikasi yang berjalan di latar belakang.
Warga juga diminta memeriksa tetangga lanjut usia sepanjang hari. Razvozhayev menyebut suhu yang diperkirakan mencapai 30C, sehingga perhatian terhadap kebutuhan warga rentan menjadi penting saat listrik padam.
Komandan Pasukan Sistem Nirkawak Ukraina, Robert Brovdi, menyatakan pada Rabu drone telah menargetkan 48 lokasi militer operasional dan yang direncanakan. Ia mengatakan gardu listrik utama Sevastopol menjadi sasaran selama serangan tersebut.
Selain Sevastopol, laporan terdengar adanya ledakan di Bakhchisarai dan Kerch. Ledakan juga dilaporkan terdengar di wilayah dekat Gunung Ai-Petri, tempat batalion rekayasa teknik radio dari Pasukan Dirgantara Rusia berada.
Dampak pada pasokan bahan bakar dan aktivitas warga
Situasi di Sevastopol turut dibayangi kekurangan bahan bakar. BBC melaporkan penjatahan dan pembatasan menyertai upaya Ukraina mengisolasi semenanjung yang dianeksasi Rusia pada 2014.
Sergei Aksyonov, pemimpin yang dipasang Rusia, pada Minggu mengumumkan seluruh penjualan bensin dihentikan. Aksyonov menyatakan pasokan kemudian sebagian besar dialihkan untuk layanan pemerintah.
Namun, sejumlah warga setempat mengatakan bengkel masih memiliki persediaan di tangki. Di sejumlah toko, mulai muncul kepanikan membeli, dengan gula disebut sebagai barang yang sangat sulit ditemukan.
Selain bahan bakar, Ukraina juga ditulis menargetkan jembatan-jembatan kunci yang menghubungkan semenanjung Krimea dengan wilayah lain Ukraina yang diduduki. Pada laporan itu disebutkan jalur darat melintasi wilayah pendudukan di selatan Ukraina, serta ada jembatan jalan dan rel melalui Selat Kerch.
Dalam konteks pengakuan internasional, Krimea diakui sebagai bagian dari Ukraina. Akan tetapi, sejak invasi Rusia, Krimea terhubung ke Rusia melalui jalur jalan dan rel.
Lintas operasi: penangkapan drone, serangan udara, dan respons
Laporan serangan terjadi di tengah perdebatan dan klaim yang saling bertentangan mengenai jumlah drone yang berhasil dicegat. Kementerian pertahanan Rusia menyatakan pihaknya menghancurkan lebih dari 300 drone Ukraina pada malam hari.
Sementara itu, militer Ukraina melalui angkatan udara menyebut Moskow meluncurkan 101 drone pada malam hari. Ukraina mengatakan 95 di antaranya dicegat dan dimusnahkan.
Di sisi lain, pada Kamis disebut terjadi serangan drone Ukraina yang melibatkan sekitar 200 drone terhadap kilang minyak di area tenggara Moskow. Warga melaporkan serpihan minyak hitam jatuh ke jalan setelah serangan, disertai kolom asap tebal yang membubung ke langit.
Pihak berwenang Moskow membantah adanya “oil rain”. Namun, warga yang berbicara kepada BBC bersikeras bahwa gerimis berminyak yang kotor itu terlihat membekas pada pakaian mereka.
Upaya diplomasi yang belum menemukan jalan
Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung selama empat setengah tahun sejak Ukraina diserang Rusia. Pada 4 Juni, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengirim surat terbuka kepada Putin yang menyerukan negosiasi langsung tatap muka untuk mengakhiri perang dan menghentikan tembak-menembak.
Putin disebut menilai surat tersebut sebagai “rude” dan menolak permintaan pertemuan. Ia juga bersikeras agar pembicaraan damai dilakukan terlebih dahulu sebelum sebarang gencatan senjata.












