Peristiwa

Keluhkan Makanan Berasa Aneh dan Tenggorokan “Nyegrak”, Puluhan Warga Sragen Tukar Minyakita

×

Keluhkan Makanan Berasa Aneh dan Tenggorokan “Nyegrak”, Puluhan Warga Sragen Tukar Minyakita

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Keluhkan Rasa Makanan Aneh dan Tenggorokan "Nyegrak", Puluhan Warga Sragen Kembalikan Bantuan Minyakita

jurnalistik.co.id – SRAGEN, Jawa Tengah, mendadak ramai sejak Minggu (28/6/2026) karena sejumlah warga mengembalikan minyak goreng bantuan pemerintah merek Minyakita. Mereka mengaku mengalami perubahan rasa serta muncul keluhan pada tenggorokan setelah menggunakan produk tersebut.

Keluhan bermula dari dugaan bahwa Minyakita yang beredar memiliki aroma menyengat dan menyerupai minyak tanah atau solar. Kondisi itu, menurut warga, membuat rasa masakan berubah sehingga menimbulkan kekhawatiran saat minyak dipakai untuk mengolah makanan.

Di Desa Gading, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, puluhan warga kemudian mendatangi kantor desa untuk menukar Minyakita yang mereka terima. Warga datang membawa kemasan berukuran satu liter, lalu mengikuti mekanisme pendataan yang dilakukan perangkat desa sebelum proses penukaran berlangsung.

Penukaran difasilitasi petugas lapangan Bulog yang berada di lorong Kantor Desa Gading. Setelah didata, warga diarahkan untuk menukarkan produk lama dengan Minyakita baru bermerek sama yang dinyatakan layak konsumsi.

Dipicu keluhan yang viral di media sosial

Kasi Kesra Desa Gading, Yuli Cahyono, menyampaikan bahwa langkah penukaran massal diambil sebagai respons cepat atas keresahan masyarakat yang sebelumnya ramai dibicarakan di media sosial. Ia mengaku berinisiatif menghubungi pihak terkait untuk memastikan proses penukaran berjalan.

“Beredar di medsos, saya inisiatif menghubungi pihak Bulog Tanon untuk dilakukan penukarannya,” kata Yuli, Minggu (28/6/2026).

Yuli menyebut, total sekitar 633 warga Desa Gading tercatat sebagai penerima manfaat bantuan minyak goreng tersebut. Hingga Minggu siang, sedikitnya sudah ada 83 warga yang datang ke kantor desa untuk menukarkan Minyakita yang berbau minyak tanah itu dengan produk baru bermerek sama.

“Sudah ada puluhan penerima manfaat yang mengembalikan dan menukar minyak goreng itu dengan yang baru,” ujarnya menambahkan.

Warga menguji sendiri saat minyak dipakai memasak

Salah seorang warga, Iswarni (46), mengaku mencoba minyak goreng bantuan itu setelah mendengar cerita dari tetangga. Ia menuturkan, bahan tersebut dipakai untuk kebutuhan dapur keluarganya, termasuk memasak nasi goreng dan tahu bakso untuk ibunya yang bernama Sanikem (82).

“Saya sudah coba gunakan minyak goreng itu. Hasilnya rasanya aneh,” kata Iswarni.

Menurut Iswarni, hidangan yang ia buat tidak bisa dinikmati karena muncul sensasi tidak nyaman di indra pengecap dan saluran pernapasan. Ia menggambarkan perubahan sensasi di lidah serta tenggorokan setelah minyak digunakan.

“Saya coba buat masak nasi goreng sama tahu bakso, rasannya tidak enak, di lidah seperti kering, tenggorokan nyegrak,” tuturnya.

Keluhan itu juga menguatkan keyakinan warga bahwa masalah tidak hanya pada aroma. Mereka menilai rasa dan efek ketika minyak dipakai untuk menggoreng menjadi bagian dari alasan mengapa banyak penerima akhirnya memilih mendatangi kantor desa untuk menukar produk.

Kasus serupa lebih dulu terjadi di Wonogiri

Sebelum keluhan di Sragen, kabar serupa juga lebih dulu menggegerkan warga di Kabupaten Wonogiri. Di wilayah tersebut, bantuan Minyakita dalam paket Program Bantuan Pangan (PBP) telah didistribusikan kepada 1.203 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 8 Juni 2026 lalu.

Lurah Gesing, Jamari, membenarkan adanya laporan dari warga penerima bantuan yang masuk sejak beberapa hari sebelum penarikan. Ia menyebut jumlah penyampai keluhan yang lebih awal melalui pesan WhatsApp.

“Sekira enam orang yang menyampaikan keluhan melalui WhatsApp, sekira tiga hari yang lalu,” kata Jamari.

Sampel juga diambil untuk uji

Selain menghimpun pengembalian dari warga, penyelidikan melalui pengambilan sampel turut dilakukan. Agus Iswadi, anggota Satreskrim Polres Karanganyar, disebut mengambil sampel minyak goreng bermasalah untuk diuji laboratorium di Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, pada Kamis (25/6/2026).

Rangkaian temuan di berbagai daerah itulah yang kemudian mendorong warga di Desa Gading mengambil langkah cepat. Mereka berharap proses penukaran bisa segera mengakhiri keraguan atas kualitas minyak goreng yang beredar, sekaligus memastikan produk yang dikonsumsi keluarga memenuhi standar yang semestinya.