jurnalistik.co.id – Penertiban bantaran rel di samping Pasar Gaplok, Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, berujung pada perubahan yang terlihat jelas. Pada Minggu (28/6/2026) sore, kawasan tersebut sudah bersih dari rumah-rumah liar warga.
Dari pantauan di lokasi, tidak tampak lagi hunian semi permanen yang menempel pada tembok pemisah antara area rel dan pasar. Sisa material bangunan yang sebelumnya terlihat di area tersebut juga sudah tidak ditemukan.
Selain pembersihan bangunan, kondisi sekitar rel turut dibenahi. Sampah yang sebelumnya menumpuk di lokasi yang sama disebut sudah dibersihkan hingga area tampak lebih rapi.
Di titik penertiban, terlihat satu unit alat ekskavator berada di tepi rel. Keberadaan alat tersebut diikuti oleh sejumlah petugas dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) serta petugas keamanan stasiun.
Pengamanan juga tampak dilakukan. Beberapa anggota kepolisian berjaga di sekitar lokasi, memastikan kegiatan berjalan tertib selama proses pembenahan berlangsung.
Dalam waktu yang sama, aktivitas perkeretaapian tetap berlangsung. Kereta api jarak jauh melintas bergantian dengan kereta rel listrik (KRL), sehingga proses penertiban berlangsung di tengah lalu lintas perjalanan kereta.
Setelah seluruh material yang terkait dengan hunian liar dibersihkan, area bantaran rel terlihat lebih tertata dan terasa lebih lega. Perubahan tata ruang tersebut membuat pandangan ke arah rel menjadi lebih terbuka dan tidak lagi terganggu oleh bangunan yang menempel di tepi kawasan.
Sejumlah warga yang sebelumnya tinggal di lokasi tampak mengamati hasil penertiban. Mereka duduk-duduk sambil melihat kondisi kawasan setelah proses pembersihan selesai.
Relokasi warga ke hunian baru
Salah satu warga yang merasakan perpindahan adalah Cono (56). Ia mengaku sudah pindah ke rumah hunian di Jalan Kramat Raya, setelah sebelumnya tinggal di bantaran rel Senen.
Menurut Cono, relokasi tersebut disediakan oleh pemerintah bagi warga yang sebelumnya mendirikan rumah liar di tepi rel. Ia menjelaskan bahwa rumah yang kini ditempati merupakan tempat baru setelah penertiban dilakukan.
Cono mengatakan sudah tiga hari tinggal di hunian tersebut bersama keluarganya. Ia menyebut tinggal bersama istri dan dua anaknya sejak menempati rumah relokasi.
Ia juga memaparkan ukuran rumah yang ia tempati. Cono menyebut luasnya sekitar 4×4 meter persegi, lengkap dengan fasilitas yang telah disediakan.
Di dalam hunian baru, ia menyebut telah mendapatkan dua kasur busa, satu kipas angin, dan satu lemari plastik. Bantuan perlengkapan tersebut, menurut Cono, menjadi bagian dari fasilitas setelah ia direlokasi.
Selama tiga hari menempati rumah baru, Cono merasa nyaman. Ia menilai kondisi hunian tersebut lebih sesuai untuk dihuni karena ruang terasa lebih lapang dibanding tempat sebelumnya.
Cono membandingkan rumah relokasi dengan gubuk yang ia tinggalkan. Ia menyatakan tinggal selama lebih dari 30 tahun di bantaran rel, namun ukuran maupun kenyamanan di tempat lama tidak sebaik hunian yang sekarang ditempati.
βLebih nyaman iya. Dan tidak berisik tentunya,β kata Cono. Ia menambahkan bahwa suasana yang lebih tenang menjadi salah satu hal yang dirasakan selama menempati rumah baru.
Meski begitu, Cono mengakui ada penyesuaian dari sisi jarak aktivitas kerjanya. Ia menyatakan pekerjaannya sebagai kuli panggul di Pasar Gaplok, sehingga ketika tinggal di lokasi baru, ia perlu berjalan sedikit lebih jauh untuk sampai ke tempat bekerja.
Dengan adanya penertiban bantaran rel serta relokasi warga, area di samping Pasar Gaplok kini berada dalam kondisi yang lebih bersih dan tertata. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dari hilangnya bangunan liar, tetapi juga dari tersedianya tempat tinggal yang lebih layak bagi warga yang sebelumnya menempati bantaran rel.












