jurnalistik.co.id – Jumlah calon siswa SD di Sekolah Rakyat Terintegrasi 78 Sragen masih berada di bawah kuota yang ditetapkan. Dinas Sosial (Dinsos) Sragen menyebut, salah satu faktor utama berasal dari orangtua yang tidak tega bila anaknya tinggal di asrama.
Saat ini, baru ada 5 anak yang mendaftar sebagai calon siswa SD. Batas waktu penerimaan peserta didik baru untuk tahun Ajaran 2026/2027 juga akan segera berakhir.
Kepala Dinsos Sragen, Yuniarti, menjelaskan bahwa sekolah rakyat tersebut menyiapkan tiga jenjang pendidikan. Tiga jenjang itu adalah SD, SMP, dan SMA.
Setiap jenjang pendidikan di sekolah rakyat tersebut terdiri dari tiga rombongan belajar (rombel) dengan kuota 30 siswa per rombel. Dengan skema itu, sekolah memiliki target penerimaan yang lebih besar dibanding jumlah calon siswa SD yang saat ini terkumpul.
Yuniarti juga menyampaikan bahwa calon siswa yang menjadi sasaran adalah anak dari keluarga kategori Desil 1 dan 2 serta anak putus sekolah. Namun, dalam pelaksanaan penerimaan saat ini, jumlah calon siswa SD masih kurang dari kuota yang tersedia.
Yuniarti mengatakan, “Kurang banget , kita baru dapat 5 anak. Karena ada kendala dari pihak orang tua khususnya,” saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (9/6/2026).
Menurut Yuniarti, calon siswa sebenarnya merasa senang karena fasilitas di sekolah rakyat tersebut disebut sudah lengkap. Akan tetapi, para orang tua tidak tega jika anak yang bersekolah di jenjang SD harus tinggal di asrama.
Yuniarti menegaskan, “Mereka (orang tua) umumnya tidak tega kalau anaknya SD itu di asrama,” ungkapnya. Ia mengaitkan penolakan orang tua dengan sistem pembelajaran di sekolah rakyat yang menggunakan pola boarding school.
Sesuai jadwal, batas waktu penerimaan peserta didik baru akan berakhir pada akhir Juni 2026. Meski demikian, Dinsos Sragen tidak menutup kemungkinan untuk tetap mencari dan menerima calon siswa SD melalui sistem multi entry.
Yuniarti menjelaskan bahwa penerimaan dengan sistem multi entry tidak harus dimulai dari kelas 1 (SD). “Tidak harus dimulai dari kelas 1 (SD). Misal kelas 2, kelas 4 bisa kita terima,” jelas Yuniarti.
Dengan opsi tersebut, Dinsos memberi ruang agar penerimaan siswa SD dapat disesuaikan pada jenjang kelas tertentu yang memungkinkan, tanpa harus menunggu pembukaan dari awal pada kelas 1.
Sementara itu, untuk jenjang pendidikan SMP dan SMA, jumlah calon siswa sudah disebut melebihi kuota. Kondisi ini menunjukkan bahwa kendala penerimaan lebih menonjol pada jenjang SD dibanding dua jenjang lainnya.
Di tengah upaya pemenuhan kuota, Dinsos Sragen tetap menempatkan pertimbangan keluarga kategori Desil 1 dan 2 serta anak putus sekolah sebagai bagian dari sasaran penerimaan. Penambahan calon siswa SD masih diupayakan menjelang akhir Juni 2026 melalui mekanisme multi entry, sambil menyesuaikan penerimaan sesuai kebutuhan kelas yang tersedia.
Di sisi lain, Dinsos menyebut sekolah rakyat itu sebenarnya sudah menyiapkan fasilitas yang lengkap sehingga anak-anak calon siswa diharapkan dapat belajar dengan nyaman. Namun, kegelisahan orang tua tetap menjadi hambatan utama dalam proses pendaftaran, terutama karena model pembelajaran yang berjalan dengan pola asrama membuat proses adaptasi keluarga dirasa lebih berat. Alhasil, minat yang masuk belum sebanding dengan sasaran yang telah ditetapkan.
Karena itu, meski tenggat penerimaan peserta didik baru akan berakhir pada akhir Juni 2026, Dinsos Sragen tetap membuka kemungkinan penambahan calon siswa SD melalui skema multi entry. Dalam mekanisme ini, penerimaan tidak harus menunggu pembukaan dari kelas awal, melainkan bisa disesuaikan pada jenjang kelas yang memungkinkan, sebagaimana disampaikan bahwa penerimaan bisa diarahkan untuk kelas tertentu. Dengan penyesuaian tersebut, pihak dinas berupaya melengkapi kekurangan jumlah calon siswa SD tanpa mengubah arah sasaran penerimaan yang menargetkan keluarga kategori Desil 1 dan 2 serta anak putus sekolah.












