jurnalistik.co.id – Peristiwa yang melibatkan kontingen Paduan Suara Wanita (PSW) asal Kepulauan Riau (Kepri) pada ajang Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, menjadi sorotan setelah video dan unggahan di media sosial menyebar luas.
Dalam unggahan tersebut, para peserta disebut sempat “tampil” di Bandara Soekarno-Hatta pada Rabu (24/6/2026) sebelum akhirnya tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Manokwari.
Menurut penjelasan yang kemudian berkembang, penampilan mendadak itu mencerminkan kekecewaan peserta terkait bantuan operasional berupa tiket yang sebelumnya disebut telah diberikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri.
Viralnya insiden itu kemudian memicu respons dari Pemprov Kepri.
Pertemuan masalah di tengah perjalanan
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kepri, Hendri Kurniadi, menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak memiliki kewenangan mencampuri urusan teknis di internal organisasi, termasuk pengelolaan dana bantuan yang telah disalurkan kepada pihak panitia.
Pihaknya juga menyayangkan gagalnya kontingen wanita Kepri tampil di ajang nasional tersebut, sekaligus berharap peristiwa serupa tidak kembali terjadi.
“Kami kaget menyaksikan konten viral di media sosial terkait permasalahan gagalnya peserta asal Kepri berangkat ke Manokwari. Tentu kami menyayangkan peristiwa itu terjadi dan memahami kondisi psikologis para peserta,” jelasnya melalui sambungan telepon, Minggu (28/6/2026).
Hendri menjelaskan bahwa dari laporan yang diterima Pemprov Kepri, seluruh biaya perjalanan kontingen telah dibayarkan kepada biro perjalanan yang ditunjuk.
Ia menyebut bahwa setelah menerima bantuan dari Pemprov Kepri, panitia mentransfer dana pembelian tiket sebesar sekitar Rp 1,016 miliar kepada pihak travel sejak 7 Mei 2026.
Hendri juga menerangkan bahwa proses pengurusan tiket tidak berada di tangan pemerintah daerah, melainkan menjadi tanggung jawab pihak travel yang ditunjuk panitia.
“Dari laporan yang masuk ke kami, seluruh pengurusan tiket dari Batam sampai Manokwari, termasuk perjalanan pulang, menjadi tanggung jawab pihak travel,” jelasnya.
Dalam keterangan tersebut, Hendri menuturkan bahwa panitia beberapa kali meminta kepastian terkait penerbitan tiket.
Namun, pihak travel kerap memastikan seluruh penerbangan dalam kondisi aman dan tiket telah tersedia.
Persoalan mulai terungkap ketika rombongan yang berangkat lebih dahulu pada 18 Juni 2026 tiba di Jakarta.
Pada tahap itu, panitia mengetahui bahwa tidak ada tiket lanjutan menuju Manokwari.
“Peserta dan panitia baru mengetahui ternyata tidak ada tiket lanjutan menuju Manokwari. Di situlah mereka menyadari ada masalah. Setelah kami telusuri, ternyata pihak travel tidak menyiapkan tiket,” ujarnya.
27 peserta PSW gagal berangkat, PSP tetap berlomba
Akibat masalah tersebut, sebanyak 27 peserta PSW yang menjadi rombongan Kepri gagal melanjutkan perjalanan ke Papua Barat.
Dengan kondisi itu, para peserta dinyatakan tidak dapat mengikuti perlombaan tingkat nasional yang menjadi agenda Pesparawi.
Di sisi lain, kontingen kategori Paduan Suara Pria (PSP) yang berjumlah 21 orang disebut berhasil tiba di Manokwari dan mengikuti perlombaan bersama sejumlah ofisial.
Perbedaan hasil keberangkatan antara rombongan wanita dan pria ini kemudian turut memperkuat atensi publik terhadap penjelasan yang disampaikan Pemprov Kepri.
Menepis tudingan penggunaan dana APBD
Selain persoalan tiket, Hendri juga membantah tudingan yang berkembang di media sosial dan masyarakat terkait dugaan bahwa dana APBD tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Ia menyatakan bahwa anggaran kegiatan berasal dari APBD yang disalurkan melalui Pemerintah Provinsi Kepri kepada panitia, lalu digunakan sesuai prosedur yang berlaku.
“Anggaran kegiatan memang berasal dari APBD yang disalurkan melalui Pemerintah Provinsi Kepri kepada panitia, kemudian digunakan sesuai prosedur, termasuk untuk pembayaran tiket kepada biro perjalanan,” jelasnya.
Dalam pandangan Pemprov Kepri, bantuan yang telah disalurkan itu merupakan bagian dari mekanisme kegiatan yang dijalankan melalui panitia dan pihak-pihak yang ditunjuk sesuai tahapan pengelolaan.
Dengan demikian, penjelasan Hendri menempatkan masalah pada tahap ketersediaan tiket lanjutan menuju Manokwari yang baru diketahui ketika rombongan lebih dahulu tiba di Jakarta.
Hendri juga berharap kontingen Kepri tetap dapat mengharumkan nama provinsi di berbagai ajang tingkat nasional, serta menegaskan bahwa Pemprov tidak menginginkan peristiwa viral seperti yang terjadi pada rombongan PSW tersebut.












