jurnalistik.co.id – Lonjakan investasi kecerdasan buatan (AI) kini mulai menjadi masalah nyata bagi Apple. Bukan hanya karena perusahaan dinilai tertinggal dalam perlombaan AI generatif, tetapi juga karena permintaan komponen yang dipicu kebutuhan AI berpotensi mendorong kenaikan harga iPhone untuk pertama kalinya.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa tekanan terhadap Apple datang dari dua arah sekaligus. Pertama, Apple masih berupaya mengejar pesaing seperti Google, OpenAI, dan Anthropic melalui fitur AI yang ditawarkan kepada konsumen. Di saat bersamaan, booming pembangunan pusat data AI telah memicu krisis pasokan memori yang menaikkan biaya produksi perangkat hardware Apple.
TechCrunch menyoroti bahwa masalah terbesar berawal dari komponen DRAM dan NAND flash. Dua jenis memori ini menjadi bagian penting untuk iPhone, iPad, dan Mac. Ketika kebutuhan AI global melonjak, pasokan untuk komponen memori tersebut ikut menegang.
Raksasa teknologi seperti Amazon, Microsoft, Alphabet, dan Meta disebut tengah menggelontorkan ratusan miliar dolar AS untuk membangun infrastruktur AI. Pembangunan skala besar itu membutuhkan pasokan memori dalam jumlah yang sangat besar, sehingga pasar global menjadi semakin ketat dan harga komponen ikut melonjak.
Di tengah kondisi tersebut, CEO Apple Tim Cook mengakui bahwa situasi ini sudah tidak bisa lagi dihindari. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal, ia menyebut bahwa selama ini Apple berusaha menyerap kenaikan biaya agar tidak dibebankan kepada konsumen. Namun, strategi itu kini sulit dipertahankan karena tekanan biaya bergerak semakin kuat.
Cook menilai kenaikan harga sebagai sesuatu yang “tidak dapat dihindari” akibat lonjakan biaya memori. Penekanan tersebut muncul pada saat Apple sendiri justru membutuhkan lebih banyak memori untuk mendukung fitur AI di perangkat.
Untuk menjawab kebutuhan itu, berbagai peningkatan pada Apple Intelligence dan Siri generasi baru memerlukan RAM yang lebih besar dibanding generasi sebelumnya. Laporan industri bahkan menyebut iPhone 18 berpotensi mendapatkan peningkatan RAM hingga 12 GB guna mendukung pemrosesan AI secara lokal di perangkat.
Namun, peningkatan kapasitas memori itu hadir ketika harga komponen sedang mengalami kenaikan. Data TechInsights menunjukkan bahwa biaya DRAM dan NAND yang digunakan pada iPhone 18 Pro bisa meningkat berkali-kali lipat dibanding generasi sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, biaya produksi satu unit iPhone 18 Pro diperkirakan naik sekitar 25% dibanding iPhone 17 Pro. Kenaikan biaya ini kemudian memunculkan ekspektasi bahwa Apple pada akhirnya akan meneruskan sebagian beban tersebut kepada konsumen.
Beberapa analis memperkirakan harga iPhone 18 Pro berpotensi naik dari US$1.099 menjadi sekitar US$1.299. Untuk model dengan spesifikasi lebih tinggi, proyeksi bahkan menyebut harga bisa menembus US$1.399 bila ditambah komponen kamera baru serta peningkatan perangkat keras lainnya.
Di sisi lain, situasi ini digambarkan sebagai sesuatu yang ironis bagi Apple. Tekanan biaya dan potensi kenaikan harga muncul ketika perusahaan tengah berupaya membuktikan kemampuan AI-nya kepada pasar.
Dorongan AI yang menambah kebutuhan memori
Upaya Apple untuk mengejar kompetitor dalam fitur AI tidak berlangsung dalam ruang hampa. Dari perspektif perangkat, pengembangan fitur Apple Intelligence dan Siri generasi baru justru menuntut perangkat keras dengan kapasitas lebih besar. Karena itu, peningkatan kebutuhan RAM menjadi faktor yang memperbesar tekanan biaya.
Lonjakan permintaan memori juga dipengaruhi oleh kenyataan bahwa AI tidak hanya berada di level fitur, tetapi juga terkait dengan infrastruktur. Pembangunan pusat data AI yang masif menciptakan krisis pasokan memori, yang berujung pada eskalasi biaya untuk komponen DRAM dan NAND flash.
Dengan pasokan yang semakin ketat, harga komponen menjadi lebih sulit ditekan. Ketika biaya komponen tidak lagi mudah diserap oleh perusahaan, pilihan untuk meneruskan sebagian biaya kepada konsumen menjadi semakin terbuka.
Risiko pada perhitungan harga iPhone 18 Pro
Dalam proyeksi yang disebutkan, kenaikan biaya produksi menjadi dasar utama penilaian terhadap potensi perubahan harga. TechInsights menekankan adanya potensi peningkatan biaya DRAM dan NAND yang bisa terjadi berkali-kali lipat pada iPhone 18 Pro dibanding generasi sebelumnya.
Selanjutnya, estimasi kenaikan biaya produksi sekitar 25% dibanding iPhone 17 Pro menjadi jembatan logis menuju skenario perubahan harga. Dari skenario tersebut, iPhone 18 Pro disebut berpotensi bergerak dari US$1.099 ke sekitar US$1.299.
Untuk varian yang lebih tinggi spesifikasinya, proyeksi menempatkan harga bisa menembus US$1.399 jika ada penambahan komponen kamera baru dan peningkatan perangkat keras lainnya. Angka-angka ini hadir sebagai perkiraan yang menghubungkan kenaikan biaya komponen dengan kemungkinan penyesuaian harga jual.
Ironi di balik pembaruan AI Apple
Tekanan yang datang dari rantai pasokan dan biaya memori dipotret berbarengan dengan langkah Apple dalam memperkuat kemampuan AI. Pada WWDC 2026, perusahaan memperkenalkan berbagai pembaruan Apple Intelligence dan Siri untuk mengejar ketertinggalan dari kompetitor.
Dengan kata lain, Apple berada dalam situasi ganda. Di satu sisi, perusahaan perlu meningkatkan perangkat agar fitur AI dapat berjalan lebih optimal, termasuk melalui kebutuhan RAM yang lebih besar. Di sisi lain, kebutuhan tersebut terjadi saat harga memori sedang melonjak, sehingga ruang manuver biaya makin terbatas.
Dalam narasi yang sama, Tim Cook juga menegaskan bahwa strategi untuk menyerap kenaikan biaya tanpa membebankan kepada konsumen kini sulit dipertahankan. Ia menyebut kenaikan harga sebagai sesuatu yang “tidak dapat dihindari” akibat lonjakan biaya memori.
Pada akhirnya, pembuktian kemampuan AI kepada pasar berjalan berdampingan dengan tantangan biaya produksi. Ketika komponen memori menjadi lebih mahal dan pasokan tetap ketat, prospek kenaikan harga iPhone 18 Pro dan varian lebih tinggi menjadi bagian dari konsekuensi yang paling mungkin muncul.












