jurnalistik.co.id – Di Kota Solo, Bambang (60) masih menyimpan jelaga yang terasa menempel dalam ingatan setelah peristiwa kebakaran asrama polisi (Aspol) Panularan yang terjadi Jumat sore, 31 Juli 2026. Dalam ceritanya, ia berusaha merunut kembali rangkaian momen yang baginya terasa mencekam, mulai dari munculnya api hingga ledakan yang datang bertubi-tubi.
Baginya, kebakaran itu bukan sekadar peristiwa yang lewat. Telinga, hidung, dan wajahnya bahkan masih seperti kembali merasakan hembusan hawa panas dari ledakan dua unit telepon genggam saat api melahap ruang tidurnya.
Menurut Bambang, awal mula kejadian bermula dari hal yang tampak sepele setelah ia bangun tidur. Ia menyalakan obat nyamuk bakar yang sebelumnya ia anggap sudah memudar, namun bara kecil ternyata masih bertahan dan kemudian menembus karpet di tempat ia beraktivitas.
“Karpet kebakar mungkin terus merambat ke spring bed ya. Nah, terus ya itu, tahu-tahu asap udah hitam itu. Saya, ‘Waduh, obat nyamuk ini.’ Terus saya lari, masuk menyirami kamar itu, semua habis semuanya,” ujar Bambang kepada Kompas.com, Senin (3/8/2026).
Dalam gambaran yang ia sampaikan, asap tebal lalu mengudara dan menutupi kediamannya. Dengan sisa tenaga yang tersisa, ia berusaha memadamkan api sendirian, sempat pula terlintas niat untuk menyelamatkan barang-barang, tetapi situasi cepat berubah di luar kendalinya.
“Waktu mau memadamkan api di kamar, ternyata HP di tempat tidur itu ada dua. Langsung nyamber HP meledak, dasss wusss, kena anginnya itu, kena api itu langsung panas muka, terus lari saya, enggak bisa menyelamatkan apa-apa. Udah besar,” ujarnya mengingat trauma yang tersisa di ingatan Bambang.
Ledakan dari dua HP yang ada di dekatnya membuat ia harus segera bergerak menjauh. Panasnya api dan hembusan setelah ledakan membuat ia tidak sempat lagi mengamankan apa pun dari kamar tersebut.
Berita Terkait
Akibat kejadian itu, Bambang mengalami sejumlah luka. Ia mengaku tetap membutuhkan bantuan medis, dan beruntung ia hanya mendapatkan perawatan dari PMI Solo tanpa harus dirawat di rumah sakit.
Meski peristiwa sudah berlalu, suara ledakan, asap yang pekat, dan panasnya api di sore itu masih terus kembali muncul dalam pikirannya. Ia menyebut semuanya menjadi bayang kelam yang bertahan, terutama karena kebakaran bermula dari obat nyamuk bakar.
Ledakan dan api yang menyebar kemudian berdampak luas bagi lingkungan asrama. Akibat obat nyamuk bakar tersebut, 12 rumah Aspol Panularan yang dihuni 10 kepala keluarga (KK) dilaporkan habis tak bersisa.
Relokasi sementara yang dirasa berat
Ibarat “nasi sudah menjadi bubur”, Bambang mengatakan kini yang bisa dilakukan adalah menanti bantuan agar kembali dapat menempati tempat tinggal yang layak. Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertahanan (Disperumkimtan) bersama BPBD sebelumnya telah menawarkan opsi relokasi sementara di rumah susun sederhana sewa (Rusunawa).
Rusunawa yang dipersiapkan berada di Semanggi, Mojo, Mangkubumen, hingga Mojosongo. Warga diberi fasilitas gratis untuk menempati rusun selama bulan Agustus.
Namun, tawaran relokasi tersebut menyisakan beban di hati para warga yang sebagian besar telah memasuki usia pensiun. Unit yang tersedia berada di lantai 4, sementara bangunan rusun tersebut tidak memiliki lift, sehingga mobilitas menjadi persoalan yang sulit diabaikan.
Perbedaan kebutuhan fisik ini membuat mereka harus menimbang ulang rencana bertahan selama masa pemulihan. Bambang berharap proses bantuan dapat berjalan lebih cepat, sehingga keterasingan akibat kebakaran tidak berlarut-larut dan hunian layak bisa segera kembali diwujudkan.












