Hukum & Kriminal

Kerap Dibully, Santri yang Diduga Dibakar Teman Pilih Keluar dari Ponpes

0
×

Kerap Dibully, Santri yang Diduga Dibakar Teman Pilih Keluar dari Ponpes

Sebarkan artikel ini
Kerap Dibully, Santri yang Diduga Dibakar Teman Pilih Keluar dari Ponpes Regional 7 Juni 2026
Ilustrasi: Kerap Dibully, Santri yang Diduga Dibakar Teman Pilih Keluar dari Ponpes

jurnalistik.co.id – Ahmad Devan Ramadhan (13), santri yang diduga menjadi korban pembakaran oleh kakak kelasnya di salah satu pondok pesantren di Kabupaten Lombok Tengah, mengaku kerap mengalami perundungan selama tinggal di pondok.

Devan menceritakan pengalamannya saat ditemui di rumahnya di Dusun Sintung Tengah, Desa Karang Sidemen, Kabupaten Lombok Tengah, Sabtu (6/6/2026). Menurut dia, perundungan tersebut disertai kondisi fisik yang ia rasakan.

“Sakit dan kadang gatal,” ujar Devan.

Devan merupakan salah satu korban dalam insiden kebakaran yang terjadi pada November 2025. Dalam peristiwa itu, ia mengalami luka bakar pada tangan, kaki, dan punggung.

Selain Devan, Sahid Al Hudry (13) juga menjadi korban dalam kejadian yang sama. Total, tiga santri mengalami luka bakar, dan satu di antaranya meninggal dunia pada Ramadhan 2026.

Kasus dugaan pembakaran ini kembali menjadi sorotan setelah video yang memperlihatkan kondisi para korban dengan luka bakar parah beredar luas di media sosial.

Hingga kini, kondisi lengan dan kaki Devan belum pulih sepenuhnya. Ia masih harus menjalani sejumlah operasi dan kontrol rutin di RSUD NTB di Mataram sebanyak dua kali dalam sepekan.

Meskipun biaya pengobatan ditanggung BPJS Kesehatan, keluarga mengaku tetap harus mengeluarkan biaya transportasi dan kebutuhan makan setiap kali menjalani kontrol.

Kronologi kejadian

Devan menceritakan bahwa insiden bermula ketika terduga pelaku hendak membuat ketapel di salah satu ruangan pondok. Dalam kesaksian Devan, pelaku diduga membawa bensin ke dalam ruangan dan memainkannya hingga memicu kebakaran.

Saat kejadian, terdapat lima anak di dalam ruangan tersebut. Dua santri berhasil menyelamatkan diri, sedangkan tiga lainnya terjebak di dalam.

Devan mengaku tidak dapat keluar karena pintu ruangan dalam kondisi rusak. Ia menjelaskan pintu dalam keadaan ketutup sehingga sulit dibuka dari posisinya.

“Enggak bisa karena pintunya ketutup, mau dibuka itu keras pintu enggak ada gagangnya,” tutur Devan.

Pengakuan keluarga

Ibunda Devan, Nuraini (35), mengatakan awalnya mengetahui anaknya mengalami kebakaran dari anak bungsunya yang juga tinggal di pondok yang sama. Nuraini menuturkan saat itu kakaknya datang menjemputnya.

“Kakaknya pulang jemput saya, katanya adiknya kebakaran dibawa ke Praya. Sampai sana terus lihat anak saya sudah begini keadaannya. Enggak bisa nanya saya cuma lihat anak saya seperti itu, cuma bisa menangis,” ujar Nuraini.

Nuraini menyampaikan bahwa keluarga baru mengetahui kronologi kejadian sekitar lima hari setelah peristiwa berlangsung. Informasi tersebut diperoleh dari Sahril Sobirin, korban lain yang kemudian meninggal dunia.

Dengan kondisi yang belum pulih sepenuhnya, Devan terus mengikuti rangkaian pemeriksaan dan perawatan yang dijadwalkan rutin. Ia menjalani operasi dan kontrol di RSUD NTB Mataram, sekaligus harus menyesuaikan kebutuhan keluarga selama proses pemulihan.

Perundungan yang ia ceritakan selama tinggal di pondok menjadi bagian dari pengalaman panjang yang, menurutnya, menyertai perjalanan setelah kebakaran terjadi pada November 2025. Sementara itu, kabar dugaan pembakaran yang sempat viral lewat video terus mengundang perhatian setelah insiden tersebut menimbulkan luka bakar pada tiga santri dan mengakibatkan satu korban meninggal dunia pada Ramadhan 2026.

Devan menjelaskan keluhan yang ia rasakan tidak berhenti setelah kejadian. Ia masih mengalami rasa sakit yang disertai rasa gatal pada bagian tubuh yang mengalami luka bakar. Karena itu, pemulihan berjalan dengan rangkaian perawatan yang terus ia jalani sesuai jadwal pemeriksaan di RSUD NTB Mataram.

Di sisi keluarga, informasi yang mereka terima juga tidak langsung lengkap pada hari kejadian. Nuraini mengaku awalnya hanya mengetahui dari kabar yang datang dari anak bungsunya di pondok. Sementara rincian kronologi baru dipahami beberapa hari kemudian, setelah pihak keluarga mendapat penjelasan dari korban lain yang mengalami peristiwa serupa, dan terus berkembang seiring proses penanganan.