Internasional

Kesuksesan Ekonomi Vietnam dan Dampaknya: Lonjakan Kasus Obesitas

0
×

Kesuksesan Ekonomi Vietnam dan Dampaknya: Lonjakan Kasus Obesitas

Sebarkan artikel ini
Bagaimana Kesuksesan Ekonomi Vietnam Bisa Picu Ledakan Obesitas? Global 15 Juni 2026
Ilustrasi: Bagaimana Kesuksesan Ekonomi Vietnam Bisa Picu Ledakan Obesitas?

jurnalistik.co.id – Keberhasilan ekonomi yang diraih Vietnam dalam beberapa dekade terakhir membawa konsekuensi yang tidak terduga. Seiring kesejahteraan dan daya beli masyarakat meningkat, negara ini kini harus berhadapan dengan lonjakan kasus kelebihan berat badan dan obesitas yang signifikan.

Data terbaru menunjukkan sekitar 20 juta warga Vietnam, atau hampir 20 persen dari total populasi, kini masuk dalam kategori kelebihan berat badan atau obesitas. Fenomena ini, menurut laporan, tumbuh paling subur di kawasan perkotaan besar seperti Hanoi dan Kota Ho Chi Minh.

Di Kota Ho Chi Minh, lebih dari setengah populasi remaja dilaporkan mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. Sementara di ibu kota Hanoi, angkanya telah menembus lebih dari 41 persen.

Lonjakan tersebut juga terlihat pada kasus yang dialami Dinh Tuan Huy, seorang remaja 16 tahun asal Hanoi. Dengan tinggi 1,78 meter dan berat badan 118 kilogram, indeks massa tubuh (BMI) Huy menyentuh angka 37,2, yang masuk kategori obesitas ekstrem.

Kasus Huy terungkap setelah ia sempat pingsan akibat masalah kesehatan yang dipicu oleh berat badannya. Gambaran ini menegaskan bahwa obesitas ekstrem tidak hanya soal angka, melainkan juga dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan yang dialami langsung.

Urbanisasi dan gaya hidup yang berubah

Menurut ahli endokrinologi Tran Quang Nam, meroketnya angka obesitas ini berkelindan erat dengan urbanisasi yang cepat dan perubahan pola hidup masyarakat kota. Nam menyoroti perubahan perilaku harian yang terjadi ketika aktivitas sehari-hari makin padat.

“Ketika orang-orang menjadi lebih sibuk, mereka mulai mengonsumsi lebih banyak makanan cepat saji, yang praktis, daripada makanan yang dimasak di rumah. Sementara itu, aktivitas fisik mereka berkurang karena gaya hidup menjadi lebih tidak aktif,” ujar Nam, dikutip dari Straits Times, Rabu (10/6/2026).

Penjelasan itu menggambarkan hubungan antara perubahan kebiasaan makan dan berkurangnya aktivitas fisik dalam kehidupan perkotaan. Dengan ritme yang makin menuntut, pilihan makanan dan pola gerak pun cenderung ikut berubah.

Senada dengan Nam, Nguyen Trong Hung dari Institut Gizi Nasional Vietnam menyebut situasi ini sebagai dampak langsung dari kemakmuran ekonomi. Ia menggambarkan bahwa akses terhadap makanan beralih dari keterbatasan menjadi kelimpahan.

“Dari yang dulu kesulitan memenuhi kebutuhan makan, kini orang-orang mampu membeli makanan apa pun yang mereka inginkan, dan sebanyak yang mereka inginkan. Hasilnya? Mereka makan banyak!” jelas Hung.

Dalam konteks itu, perubahan kemampuan membeli makanan disebut beriringan dengan pola konsumsi yang dapat meningkat. Perubahan tersebut kemudian bertemu dengan kondisi kehidupan kota yang membuat orang semakin sering memilih makanan siap saji dan bergerak lebih sedikit.

Meski penyebabnya dijelaskan melalui dua sudut pandang yang saling terhubung, ujungnya sama: peningkatan obesitas terjadi di wilayah perkotaan dengan tingkat perubahan gaya hidup yang cepat. Dari angka hampir 20 persen populasi hingga kasus Huy yang menunjukkan obesitas ekstrem, gambaran yang muncul adalah persoalan kesehatan yang tengah meluas.

Bagi Hanoi dan Kota Ho Chi Minh, lonjakan pada remaja menambah perhatian karena kelompok usia tersebut sedang berada dalam fase pembentukan kebiasaan jangka panjang. Ketika pola makan dan aktivitas fisik bergeser, risiko obesitas ikut meningkat, sebagaimana tercermin dari laporan persentase yang telah menembus lebih dari 41 persen di Hanoi dan lebih dari setengah remaja di Kota Ho Chi Minh.

Di tengah perubahan tersebut, obesitas kemudian tidak lagi muncul sebagai masalah yang terisolasi, melainkan terkait pola hidup yang berubah cepat di kota-kota besar. Ketika kebiasaan makan bergeser ke pilihan yang lebih praktis dan gerak harian menurun, tubuh menghadapi risiko penumpukan berat yang berujung pada gangguan kesehatan.

Gambaran kasus Huy mempertegas hubungan itu dalam skala yang paling nyata. Ketika pingsan muncul setelah masalah kesehatan yang dipicu oleh berat badan, kasus ini memberi ilustrasi bahwa obesitas ekstrem dapat hadir dengan dampak yang terasa langsung, bukan hanya sebagai statistik kesehatan masyarakat.