Internasional

Komunitas Yahudi Terbuka Hujat Israel, Pilih Membela Palestina

0
×

Komunitas Yahudi Terbuka Hujat Israel, Pilih Membela Palestina

Sebarkan artikel ini
Internasional Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina News 3 jam yang lalu
Ilustrasi: Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina
┊ review diff a//tmp/jurnalistik_source_text.txt → b//tmp/jurnalistik_source_text.txt @@ -0,0 +1,3 @@ +Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina login –> HOME MARKET MY MONEY NEWS TECH LIFESTYLE SHARIA ENTREPRENEUR CUAP CUAP CUAN CNBC TV Search Search Search History Loading… ins]:rounded-sm [&>ins]:bg-cnbc-primary-blue [&>ins]:px-2 [&>ins]:py-1 [&>ins]:text-white”> RESEARCH OPINION PHOTO VIDEO INFOGRAPHIC BERBUATBAIK.ID MARKET DATA MAJOR INDEXES INDO-FX USD-FX COMMODITIES BONDS CNBC Indonesia News Berita Internasional Komunitas Yahudi Terang-terangan Hujat Israel, Pilih Bela Palestina Comment SHARE url telah tercopy Verda Nano Setiawan , CNBC Indonesia 14 June 2026 22:07 Foto: Seorang anggota Neturei Karta, kelompok Yahudi pinggiran yang menentang negara Israel, berdiri di atas tanda dengan bendera Israel dengan simbol larangan di atasnya saat ia dan yang lainnya mengambil bagian dalam protes untuk mendukung Iran dan Palestina, di Times Square di New York City, AS, 16 Juni 2025. (REUTERS/Eduardo Munoz) Jakarta, CNBC Indonesia – Ketegangan yang telah lama berlangsung antara komunitas Yahudi progresif di Amerika Serikat dan pemerintah Israel kembali menjadi sorotan. Terutama ketika Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bersama sejumlah politisi sayap kanan Israel menghadiri Parade Hari Israel tahunan di Kota New York. Saat Smotrich bergabung dalam pawai pro-Israel yang melintasi Fifth Avenue, ia disambut teriakan “memalukan” dan “penjahat perang” dari para demonstran yang menentang kehadirannya. Baca: AS dan Iran Bersiap Damai, Trump Bakal Teken Isi Draf Hari Ini Juga! Parade Hari Israel di Fifth Avenue selama ini memang menuai kritik dari sebagian kalangan Yahudi yang ingin menjaga jarak dari kebijakan pemerintah Israel. Tahun ini, kontroversi semakin menguat di tengah perang yang masih berlangsung di Gaza dan kehadiran sejumlah tokoh yang dianggap berperan dalam kebijakan tersebut. Meski mendapat penolakan, Smotrich tetap menegaskan bahwa Israel dan komunitas Yahudi global memiliki hubungan yang tidak terpisahkan. “Negara Israel adalah rumah bagi seluruh bangsa Yahudi. Keamanan orang Yahudi di seluruh dunia bergantung pada kekuatan dan keamanan Negara Israel. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk tinggal selain di Israel,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Minggu (14/3/2026). Sementara itu, Wali Kota New York Zohran Mamdani menepati janji kampanyenya dengan tidak menghadiri parade tersebut. Keputusan itu mendapat apresiasi dari sejumlah organisasi Yahudi Amerika yang mengkritik kuatnya pengaruh kelompok sayap kanan dalam politik Israel. “Parade Hari Israel, yang menampilkan politisi Israel yang tidak hanya mendukung genosida terhadap Palestina, tetapi juga merupakan bagian dari pemerintah yang melakukan genosida tersebut, bukanlah perayaan identitas atau kebanggaan Yahudi. @NYCMayor tahu ini. Kami bersyukur dia tidak hadir,” ujar Israelis for Peace dan Jews for Racial & Economic Justice (JFREJ). Frustrasi terhadap Klaim atas Nama Komunitas Yahudi Sejumlah aktivis Yahudi di Amerika Serikat dan Eropa mengaku semakin frustrasi terhadap politisi Israel yang menurut mereka menggunakan identitas Yahudi untuk membenarkan tindakan militer di Gaza maupun pendudukan Tepi Barat. Kelompok-kelompok seperti Jewish Voice for Peace di AS dan Na’amod di Inggris menilai bahwa perlakuan terhadap warga Palestina bertentangan dengan nilai-nilai demokrasi dan keadilan yang selama ini diklaim Israel. Emily Hilton, salah satu pendiri Na’amod, mengatakan pandangannya terhadap Israel mulai berubah setelah serangan Israel ke Gaza pada 2014, khususnya setelah kematian empat anak Palestina yang tewas saat bermain sepak bola di pantai. “Saya mulai mempertanyakan penerimaan pemikiran Zionis sejak di universitas,” kata Hilton kepada Al Jazeera. “Saya pernah bertemu Zionis liberal yang mungkin mempertanyakan politik Israel, tetapi baru setelah saya kuliah di University College London saya mulai bertemu dengan orang Yahudi dan Palestina yang kritis terhadap Israel dan maknanya,” tambahnya. Hilton kemudian bergabung dengan kelompok aktivis Yahudi di Inggris yang mengadakan doa duka cita tradisional Yahudi untuk warga Palestina yang dibunuh oleh Israel selama Pawai Akbar Kepulangan di perbatasan Gaza pada tahun 2018. Kemudian, ia bergabung dalam acara peringatan setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober. Perang Israel selanjutnya di Gaza telah menewaskan lebih dari 75.000 warga Palestina di Gaza dan mengubah persepsi di antara beberapa komunitas Yahudi di seluruh dunia tentang hubungan mereka dengan negara tersebut. “Semakin banyak orang menyadari bahwa kita benar, Israel telah kalah dalam argumen moral,” kata Hilton. “Klaim apa pun yang pernah dimilikinya telah hilang. Sekarang, satu-satunya klaim yang tersisa adalah bahwa mereka bertindak atas nama komunitas Yahudi arus utama, dan bahkan itu pun terlihat semakin tidak pasti,” tambahnya. Ancaman politik utama bagi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, termasuk mantan perdana menteri sayap kanan Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, hanya memperdebatkan sejauh mana apartheid dan genosida harus diberlakukan, kata Hilton, dan tidak menawarkan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina. “Klaim bahwa mereka bertindak atas nama saya, terus terang, sangat keterlaluan. Tidak masalah apakah itu apartheid yang lebih halus yang dianjurkan oleh Lapid dan Bennett atau kekerasan dan kehancuran yang dianjurkan oleh pemerintah saat ini, masalahnya adalah sistemnya,” tambah Hilton. Jajak pendapat dari seluruh AS dan Eropa menunjukkan pandangan yang berbeda di antara komunitas Yahudi terhadap Israel. Sementara beberapa orang di AS dan Inggris melaporkan merasakan ikatan emosional yang kuat dengan Israel setelah kecaman global yang meluas terhadapnya atas perang di Gaza, banyak juga yang berpaling dari negara yang mereka rasa melakukan genosida atas nama mereka. “Sudah terlalu lama, lembaga-lembaga Yahudi Amerika mendukung tindakan pemerintah Israel dan mengulangi pembenarannya bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan orang-orang Yahudi di mana pun,” kata Sonya Meyerson-Knox, Direktur Komunikasi Jewish Voice for Peace, kepada Al Jazeera. “Dengan melakukan itu, mereka tidak hanya merekayasa dukungan untuk pendudukan Israel, apartheid, dan genosida terhadap Palestina, tetapi mereka juga membungkam dan mengucilkan orang-orang Yahudi yang menentang tindakan-tindakan ini, atau mencoba meminta pertanggungjawaban negara Israel atas kejahatan perangnya,” ujarnya. Mayoritas lembaga Yahudi Amerika terus mendukung Israel, kata Meyerson-Knox, meskipun terjadi “perubahan besar” di antara komunitas Yahudi Amerika secara keseluruhan. + +(wur/wur)

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Ketegangan yang sudah lama berlangsung antara komunitas Yahudi progresif di Amerika Serikat dan pemerintah Israel kembali mencuat ke permukaan. Sorotan itu menguat saat Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich bersama sejumlah politisi sayap kanan Israel hadir dalam Parade Hari Israel tahunan di Kota New York.

Ketika Smotrich bergabung dalam pawai pro-Israel yang melintasi Fifth Avenue, kehadirannya disambut teriakan dari para demonstran yang menentang keterlibatannya. Mereka meneriakkan kata “memalukan” dan “penjahat perang” di tengah parade yang selama ini memang kerap menuai kritik dari sebagian kalangan Yahudi yang memilih menjaga jarak dari kebijakan pemerintah Israel.

Tahun ini, penolakan terhadap parade itu terasa lebih kuat karena berlangsung di tengah perang yang masih berlanjut di Gaza. Kehadiran sejumlah tokoh yang dianggap berperan dalam kebijakan Israel juga membuat kontroversi semakin tajam dan memantik reaksi dari berbagai kelompok Yahudi yang menolak dikaitkan dengan langkah-langkah pemerintah Israel.

Meski mendapat penolakan, Smotrich tetap menegaskan bahwa Israel dan komunitas Yahudi global memiliki hubungan yang tak terpisahkan. “Negara Israel adalah rumah bagi seluruh bangsa Yahudi. Keamanan orang Yahudi di seluruh dunia bergantung pada kekuatan dan keamanan Negara Israel. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk tinggal selain di Israel,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera, Minggu (14/3/2026).

Di sisi lain, Wali Kota New York Zohran Mamdani menepati janji kampanyenya dengan tidak menghadiri parade tersebut. Keputusan itu mendapat apresiasi dari sejumlah organisasi Yahudi Amerika yang selama ini mengkritik kuatnya pengaruh kelompok sayap kanan dalam politik Israel.

“Parade Hari Israel, yang menampilkan politisi Israel yang tidak hanya mendukung genosida terhadap Palestina, tetapi juga merupakan bagian dari pemerintah yang melakukan genosida tersebut, bukanlah perayaan identitas atau kebanggaan Yahudi. @NYCMayor tahu ini. Kami bersyukur dia tidak hadir,” ujar Israelis for Peace dan Jews for Racial & Economic Justice (JFREJ).

Frustrasi terhadap klaim atas nama komunitas Yahudi

Di Amerika Serikat dan Eropa, sejumlah aktivis Yahudi mengaku kian frustrasi terhadap politisi Israel yang menurut mereka memakai identitas Yahudi untuk membenarkan tindakan militer di Gaza maupun pendudukan Tepi Barat. Kelompok seperti Jewish Voice for Peace di AS dan Na’amod di Inggris menilai perlakuan terhadap warga Palestina bertentangan dengan nilai demokrasi dan keadilan yang selama ini diklaim Israel.

Emily Hilton, salah satu pendiri Na’amod, mengatakan pandangannya terhadap Israel mulai berubah setelah serangan Israel ke Gaza pada 2014. Perubahan itu, kata dia, makin kuat setelah kematian empat anak Palestina yang tewas saat bermain sepak bola di pantai.

“Saya mulai mempertanyakan penerimaan pemikiran Zionis sejak di universitas,” kata Hilton kepada Al Jazeera. “Saya pernah bertemu Zionis liberal yang mungkin mempertanyakan politik Israel, tetapi baru setelah saya kuliah di University College London saya mulai bertemu dengan orang Yahudi dan Palestina yang kritis terhadap Israel dan maknanya,” tambahnya.

Hilton kemudian bergabung dengan kelompok aktivis Yahudi di Inggris yang mengadakan doa duka cita tradisional Yahudi untuk warga Palestina yang dibunuh oleh Israel selama Pawai Akbar Kepulangan di perbatasan Gaza pada 2018. Setelah itu, ia juga terlibat dalam acara peringatan usai serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober.

Perang Israel berikutnya di Gaza, yang menurut sumber itu telah menewaskan lebih dari 75.000 warga Palestina, ikut mengubah persepsi sebagian komunitas Yahudi di seluruh dunia tentang hubungan mereka dengan negara tersebut. Hilton menilai semakin banyak orang menyadari bahwa Israel telah kalah dalam argumen moral.

“Semakin banyak orang menyadari bahwa kita benar, Israel telah kalah dalam argumen moral,” kata Hilton. “Klaim apa pun yang pernah dimilikinya telah hilang. Sekarang, satu-satunya klaim yang tersisa adalah bahwa mereka bertindak atas nama komunitas Yahudi arus utama, dan bahkan itu pun terlihat semakin tidak pasti,” tambahnya.

Menurut Hilton, ancaman politik utama bagi pemerintahan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, termasuk mantan perdana menteri sayap kanan Naftali Bennett dan pemimpin oposisi Yair Lapid, pada dasarnya hanya memperdebatkan sejauh mana apartheid dan genosida harus diberlakukan. Ia menilai mereka tidak menawarkan masa depan yang lebih baik bagi warga Palestina.

“Klaim bahwa mereka bertindak atas nama saya, terus terang, sangat keterlaluan. Tidak masalah apakah itu apartheid yang lebih halus yang dianjurkan oleh Lapid dan Bennett atau kekerasan dan kehancuran yang dianjurkan oleh pemerintah saat ini, masalahnya adalah sistemnya,” tambah Hilton.

Sejumlah jajak pendapat di Amerika Serikat dan Eropa juga menunjukkan pandangan yang berbeda-beda di antara komunitas Yahudi terhadap Israel. Sebagian warga Yahudi di AS dan Inggris mengaku masih merasakan ikatan emosional yang kuat dengan Israel, terutama setelah kecaman global yang meluas atas perang di Gaza.

Namun, tidak sedikit pula yang justru menjauh dari negara itu karena merasa Israel melakukan genosida atas nama mereka. Perubahan sikap itu, menurut para aktivis, memperlihatkan jarak yang makin lebar antara kebijakan pemerintah Israel dan pandangan sebagian komunitas Yahudi di luar negeri.

“Sudah terlalu lama, lembaga-lembaga Yahudi Amerika mendukung tindakan pemerintah Israel dan mengulangi pembenarannya bahwa apa yang mereka lakukan adalah demi kepentingan orang-orang Yahudi di mana pun,” kata Sonya Meyerson-Knox, Direktur Komunikasi Jewish Voice for Peace, kepada Al Jazeera.

“Dengan melakukan itu, mereka tidak hanya merekayasa dukungan untuk pendudukan Israel, apartheid, dan genosida terhadap Palestina, tetapi mereka juga membungkam dan mengucilkan orang-orang Yahudi yang menentang tindakan-tindakan ini, atau mencoba meminta pertanggungjawaban negara Israel atas kejahatan perangnya,” ujarnya.

Meyerson-Knox menambahkan bahwa mayoritas lembaga Yahudi Amerika masih terus mendukung Israel, meski ada “perubahan besar” di antara komunitas Yahudi Amerika secara keseluruhan. Bagi kelompok-kelompok kritis, perubahan itu menandai perdebatan yang semakin terbuka soal siapa yang sesungguhnya berbicara atas nama komunitas Yahudi.