Olahraga

Koroner memutus: ribuan sundulan bola memicu penyakit otak Nobby Stiles

×

Koroner memutus: ribuan sundulan bola memicu penyakit otak Nobby Stiles

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Heading footballs caused Nobby Stiles' brain disease, coroner finds

jurnalistik.co.id – Norbert “Nobby” Stiles, pemenang Piala Dunia 1966 bersama Inggris, meninggal dunia dengan kondisi otak yang dikaitkan dengan kebiasaan menyundul bola secara berulang. Dalam persidangan inquest, seorang koroner menyimpulkan bahwa penyakit neurodegeneratif pada akhirnya menjadi penyebab kematiannya.

Stiles wafat pada 2020 pada usia 78 tahun, setelah menderita demensia berat. Sidang yang berlangsung di Stockport Coroners’ Court juga mendengar bahwa selama kariernya ia pernah menyundul bola sekitar 140.000 kali.

Menurut neuropatolog spesialis yang memberi keterangan, jumlah sundulan yang sangat besar itu dinilai memiliki hubungan dengan munculnya Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE). Koroner kemudian mencatat bahwa penentuan penyebab kematian memuat temuan CTE pada tahap “high stage”, disertai kondisi lain yang juga bersifat neurodegeneratif serta cerebrovascular disease.

Kesimpulan ahli soal CTE dan dampak sundulan

Neuropathology expert Dr Daniel Du Plessis menyampaikan keyakinannya kepada pengadilan. Ia menyatakan: “I’m quite convinced his heading the football that many times has caused his CTE [chronic traumatic encephalopathy].”

Koroner senior Alison Mulch merumuskan penyebab kematian sebagai Alzheimer’s disease, dengan kontribusi dari CTE berstadium tinggi. Dalam catatan lainnya, koroner juga menyebut adanya keterlibatan kondisi neurodegeneratif lain serta gangguan pembuluh darah otak.

Dalam penjelasannya, Dr Du Plessis menekankan bahwa pada kasus Stiles, demensia berat sudah berkembang, dan itulah yang dinilai menjadi penyebab utama kematian. Ia berkata: “In this case, it is quite clear that Mr Stiles had advanced dementia and he died of his dementia – that is the primary cause of death here.”

Ia menambahkan bahwa CTE ikut “memperparah” gambaran penyakit tersebut. Du Plessis menyebut: “Added to the mix was CTE – we know it is caused by people who have head injuries.”

Koroner lalu mengajukan pertanyaan spesifik untuk memastikan hubungan sebab-akibat yang ditanyakan dalam standar “balance of probability”. Du Plessis menjawab: “Yes. This is a very complicated issue and it is important to use such a death to highlight – that we do now know repeated head injuries have an impact on the brain.”

Jejak karier dan kesaksian keluarga

Norbert “Nobby” Stiles lahir di Collyhurst, Manchester, pada 1942. Ia dikenal sebagai gelandang bertahan yang keras dalam tekel dan memiliki peran penting di timnas.

Stiles tercatat telah membela Inggris sebanyak 28 kali dan menjadi bagian dari skuad yang menjuarai Piala Dunia 1966, termasuk pada laga final. Di level klub, ia bermain untuk Manchester United hampir 400 kali, sebelum kemudian menjalani kehidupan di Stretford, Greater Manchester.

Setelah memudar dari perhatian publik, keluarga memaparkan bahwa mereka mulai merasakan perubahan pada Stiles ketika usia mendekati penghujung dekade kelima dan memasuki awal dekade keenam. Koroner menanyakan apakah sepak bola merupakan faktor dominan dalam kehidupannya, dan putra Stiles menjawab dengan cara yang menekankan hal-hal personal keluarga.

John Stiles, putranya, menyampaikan: “Heading the ball in training was absolutely massive”, lalu menambahkan bahwa dengan estimasi yang sangat konservatif, Stiles menyundul bola 40 kali sehari, lima kali dalam seminggu, pada tiap musim selama 10 bulan. Ia juga menuturkan bahwa ayahnya memiliki sifat rendah hati: “very humble – he just happened to achieve quite a lot in the professional game”.

John menambahkan bahwa sepak bola tidak mengambil alih keseharian keluarganya. Ia berkata: “He went into his house and you wouldn’t know he was a footballer. Football was left at the door. Family was always his first priority and then his friends.”

Ketika koroner menyatakan tampaknya sepak bola “football, it wasn’t a dominant factor” dalam hidup ayahnya, John menanggapi: “It really wasn’t at all – he never talked about it – it was just something that happened to him. We were much more proud of the father than the footballer”.

Sidang juga mendengar bahwa di Old Trafford pernah ada bola yang digantung dari tribun, dan pemain didorong untuk menyundul bola tersebut. John menegaskan pula bahwa situasinya tidak bersifat pemaksaan langsung: “this wasn’t forced upon them but they obviously didn’t know what was happening”.

Dari tanda awal hingga keputusan menjual medali

John menjelaskan bahwa keluarga mulai mencatat Stiles lebih sering lupa dan mengulang pertanyaan yang sama pada akhir usia 50-an hingga awal usia 60-an. Ia menggambarkan fase yang panjang dengan perasaan yang ia sebut sulit diabaikan.

Ia menuturkan: “For a long time, there was a terrible impending feeling of doom by the family – we didn’t know what was happening but we could feel it coming on,” John said. Menurut kesaksiannya, pada 2010 kondisi ayahnya semakin tidak baik, dan pada fase itu ia mengambil keputusan menjual medali.

John menyampaikan: “that was when he made the decision to sell his medals”, seperti yang disebutnya kepada inquest. Keterangan keluarga ini ikut memperkuat narasi bahwa perjalanan menuju kondisi demensia berat terjadi bertahap, meski tidak sepenuhnya disadari sejak awal.

Kontribusi kondisi lain yang juga disebut koroner

Dalam sidang, koroner menyatakan bahwa analisis ahli pada otak Stiles menunjukkan demensia beratnya merupakan akibat Alzheimer’s disease, namun juga terkait CTE. Selain itu, koroner mencatat adanya kondisi bernama “stage three limbic predominant age related TDP-43” sebagai faktor kontribusi.

Koroner senior juga menyebut adanya cerebrovascular disease. Ia menambahkan sebuah pernyataan yang mengaitkan konteks persidangan dengan jadwal pertandingan, dengan mengatakan: “It seems strange that we are having this conversation on a day like today”.

Koroner merujuk pada pertandingan semi-final Piala Dunia Inggris melawan Argentina yang berlangsung pada Rabu malam tersebut. Setelah penutupan inquest, rangkaian kesimpulan itu menegaskan bahwa dalam kasus Stiles, sundulan bola yang sangat sering disertai cedera kepala berulang dipandang relevan dengan CTE, sementara Alzheimer’s disease dan kondisi lain ikut berperan dalam proses penyakit yang berujung pada kematiannya.