jurnalistik.co.id – Kredit kendaraan yang dibiayai perusahaan multifinance menunjukkan perlambatan pada Mei 2026. OJK mencatat pembiayaan kendaraan secara total terkontraksi 1,44% secara tahunan atau year on year (yoy), menjadi Rp 402,49 triliun.
Di dalamnya, pembiayaan untuk mobil baru maupun mobil bekas juga ikut melemah. Nilainya turun 3,61% yoy menjadi Rp 232,74 triliun pada periode yang sama.
OJK mengaitkan dinamika tersebut dengan kondisi ekonomi yang bergulir. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya, Agusman, menyebut adanya dampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dapat memengaruhi kinerja industri pembiayaan kendaraan.
Agusman mengatakan, meski tantangan masih ada, ruang pertumbuhan pada akhir tahun tetap terbuka. Pernyataan itu ia sampaikan dalam keterangan tertulis yang dikutip Minggu (12/6/2026): “Ke depan, segmen ini masih menghadapi tantangan, tetapi peluang pertumbuhan hingga akhir tahun tetap terbuka seiring kebutuhan masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan,”
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa meningkatnya PHK dapat berimbas pada kemampuan bayar debitur secara umum. Dampaknya, kata dia, bergantung pada profil debitur, kualitas portofolio, serta penerapan manajemen risiko di masing-masing pelaku usaha.
Karena itu, perusahaan pembiayaan didorong untuk memperkuat kualitas penyaluran dan menerapkan prinsip kehati-hatian. Tujuannya agar kinerja industri tetap sehat dan berkelanjutan, sekaligus menjaga daya tahan dalam menghadapi tekanan ekonomi.
Gambaran kinerja: total pembiayaan naik, kredit kendaraan melemah
Meski pembiayaan kendaraan terkontraksi, penyaluran pembiayaan secara umum justru tumbuh pada Mei 2026. OJK mencatat penyaluran pembiayaan meningkat 1,71% yoy menjadi Rp 513,19 triliun.
Agusman menilai peluang pertumbuhan hingga akhir tahun masih terbuka. Ia menyampaikan bahwa hal itu seiring dengan adanya ruang ekspansi pembiayaan di berbagai segmen industri.
Namun, ketika dilihat dari jenis pembiayaannya, pola pergerakan tidak seragam. Pembiayaan multiguna tercatat justru bertumbuh pada periode yang sama.
Berita Terkait
OJK menyebut total pembiayaan multiguna mencapai Rp 256,77 triliun pada Mei 2026. Angkanya tumbuh 5,21% yoy, yang menunjukkan minat terhadap skema dana tunai dalam pembiayaan multifinance tetap terjaga.
Multiguna sebagai pinjaman dana tunai
Dalam multifinance, pembiayaan multiguna merupakan jenis pinjaman berupa dana tunai. Lazimnya, debitur menggunakan surat kendaraan bermotor sebagai agunan, sehingga fasilitas ini dapat dicairkan sebagai dana segar.
Agusman menjelaskan bahwa dana tersebut bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari kebutuhan renovasi rumah hingga kebutuhan pendidikan anak.
Dengan pertumbuhan multiguna yang lebih tinggi dibandingkan pembiayaan kendaraan spesifik, pergeseran kebutuhan pembiayaan tampak lebih mengarah pada fleksibilitas produk. Fleksibilitas itulah yang membantu menjaga laju pembiayaan di tengah kondisi yang tidak sepenuhnya kondusif untuk kredit kendaraan.
Modal kerja dan investasi bergerak berbeda
Di luar multiguna, komposisi pembiayaan multifinance juga memperlihatkan perbedaan arah. Pembiayaan modal kerja tercatat sebesar Rp 55,36 triliun pada periode yang sama, atau tumbuh 7,96% yoy.
Sebaliknya, pembiayaan investasi berada pada tren melemah. Angkanya mencapai Rp 168,06 triliun, dengan kontraksi 5,79% yoy.
Perbedaan pergerakan pada modal kerja dan investasi menegaskan bahwa industri pembiayaan merespons kebutuhan pasar yang berubah-ubah. Pada saat sebagian lini mengalami tekanan, lini lain tetap dapat tumbuh sesuai karakter permintaan debitur.
Agusman menilai kondisi tersebut menggambarkan kebutuhan pembiayaan masyarakat yang masih terjaga. Ia menutup penjelasannya dengan kutipan: “Kondisi ini menunjukkan kebutuhan pembiayaan masyarakat masih terjaga, termasuk didukung fleksibilitas produk multiguna yang masih mendominasi pembiayaan multifinance,”












