Daerah

Puluhan Tahun Tanpa PLN, Warga Desa Tepal di Sumbawa Bangun PLTMH Mandiri

×

Puluhan Tahun Tanpa PLN, Warga Desa Tepal di Sumbawa Bangun PLTMH Mandiri

Sebarkan artikel ini
Puluhan Tahun Tak Tersentuh PLN, Kisah Warga Desa Tepal di Sumbawa Bangun PLTMH Mandiri Regional 22 Juni 2026
Ilustrasi: Puluhan Tahun Tak Tersentuh PLN, Kisah Warga Desa Tepal di Sumbawa Bangun PLTMH Mandiri

jurnalistik.co.id – Hujan baru saja reda di Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sela suasana sore pada Minggu, 21 Juni 2026, lampu-lampu rumah warga tetap menyala terang meski desa ini belum tersentuh jaringan listrik negara selama puluhan tahun.

Di pelataran rumah, Haris duduk sambil menyeruput kopi. Warga lainnya berjalan sambil membawa payung, sementara perempuan-perempuan mengurus aktivitasnya masing-masing di rumah panggung yang diterangi cahaya listrik.

Atap pegunungan, lampu tetap menyala

Di banyak wilayah lain, termasuk Jawa, Sumatera, Bali, dan kota-kota besar, pemadaman listrik terjadi ketika hujan dan cuaca berubah. Namun, di dataran tinggi pedalaman pegunungan Batulanteh, penerangan listrik dari desa berjalan tanpa putus seperti rutinitas yang sudah mengakar.

Haris Nasution menjelaskan bahwa masyarakat Desa Tepal bertahan dengan sistem listrik mandiri. “Kami masih menggunakan sistem listrik mandiri berbasis Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro ( PLTMH ), dan ada juga yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya ( PLTS ) secara mandiri,” ujar Haris Nasution, seorang pemuda warga Desa Tepal.

Sumber energi di desa ini tidak berdiri pada satu saluran saja. Pemanfaatan aliran sungai sebagai tenaga listrik disebut sudah dimulai puluhan tahun lalu dan dikelola melalui Koperasi Serba Usaha (KSU) Puncak Ngengas.

Desa Tepal juga memiliki tiga sumber mata air yang keberadaannya masih terjaga baik. Dengan kondisi itu, warga memandang wilayahnya memiliki potensi energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan dan bisa dijaga secara kolektif.

Perjalanan PLTMH

Sejarah pembangunan sistem PLTMH di Desa Tepal bermula pada tahun 2009. Saat itu, warga mengajukan permohonan penyediaan listrik, lalu pembangunan PLTMH pertama bertepatan dengan program dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Keberhasilan pembangkit pertama kemudian mendorong kelanjutan energi mandiri desa. Ahdar, warga yang terlibat dalam perjuangan PLTMH sejak tahap pengusulan hingga kini, mengingat ketahanan sistem yang sudah terbangun.

“Alhamdulillah, kami bertahan sampai belasan tahun. Listrik ini sangat membantu, terutama untuk kegiatan warga untuk ibadah dan pendidikan,” ungkap Ahdar.

Setelah fase awal, PLTMH kedua dibangun pada tahun 2013 dengan dukungan dari Kementerian Koperasi. Dari pengelolaan hingga operasionalnya, sistem dijalankan secara mandiri oleh koperasi sehingga warga dapat menjaga kestabilan layanan dengan cara yang mereka pahami bersama.

Iuran dan jadwal penyalaan

Ahdar menyebut bahwa biaya iuran listrik ditetapkan berdasarkan beban pemakaian. Rata-rata iuran berkisar antara Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per bulan, lalu sebagian dana dialokasikan untuk biaya perawatan.

Namun, proses perawatan tidak selalu berjalan mulus karena kebutuhan sering kali lebih besar daripada iuran yang terkumpul. “Sebagian dana tersebut dialokasikan untuk biaya perawatan, meski jumlahnya sering kali belum mencukupi,” kata Ahdar.

Meski begitu, semangat gotong royong membuat warga tetap berupaya menjaga sistem agar terus beroperasi. Nurhayati menyampaikan bahwa listrik memberi perubahan nyata terutama saat malam hari ketika aktivitas warga berlangsung.

“Kami lebih mudah beraktivitas di malam hari setelah ada listrik,” kata salah satu warga, Nurhayati. Dia mengatakan, energi listrik dari PLTMH biasanya menyala saat malam hari, namun saat pagi dan siang akan bergilir mati lampu.

Nurhayati juga menjelaskan cara pengaturan itu dilakukan agar penggunaan bisa lebih hemat tanpa menghilangkan penerangan sepenuhnya pada jam-jam tertentu. “Kalau malam diupayakan listrik menyala di semua rumah. Jika pagi dan siang, untuk menghemat maka ada rumah yang listriknya mati,” ujar Nurhayati.

Perubahan hidup sebelum listrik

Kepala Desa Tepal, Sudirman, menegaskan bahwa manfaat keberadaan PLTMH terasa langsung bagi keberlangsungan hidup warga. Ia mengenang masa-masa sebelum ada listrik mandiri yang menerangi rumah-rumah penduduk.

“Dulu sebelum ada listrik, kami menggunakan dila, lampu sederhana yang terbuat dari sumbu dan minyak tanah,” kenang Sudirman. Menurutnya, malam hari menjadi lebih sunyi dan gelap, sehingga anak-anak sulit belajar, dan aktivitas ekonomi harus berhenti segera setelah matahari terbenam.

Sudirman menambahkan bahwa kehadiran listrik mengubah segalanya dalam rutinitas masyarakat. “Kini, penerangan mengubah pola hidup masyarakat,” ujarnya.

Di Desa Tepal, listrik tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga menjadi penopang aktivitas sehari-hari, dari ibadah hingga pendidikan. Dengan PLTMH, dukungan PLTS secara mandiri, serta pengelolaan koperasi yang melibatkan warga, desa ini terus mempertahankan kemandirian energi yang telah dibangun dari waktu ke waktu.