Daerah

Lonjakan HIV/AIDS di Keerom: 25 Kasus Baru, Pasien Termuda 18 Tahun

×

Lonjakan HIV/AIDS di Keerom: 25 Kasus Baru, Pasien Termuda 18 Tahun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kasus HIV/AIDS Meningkat di Keerom Papua, Pasien Paling Muda Berusia 18 Tahun

jurnalistik.co.id – Lonjakan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Keerom, Papua, menjadi perhatian serius setelah Dinas Kesehatan mencatat adanya penambahan 25 kasus baru sepanjang 2026. Dari jumlah itu, usia pasien termuda tercatat 18 tahun.

Pemerintah Kabupaten Keerom kemudian mengeluarkan imbauan keras kepada generasi muda dan seluruh lapisan masyarakat untuk membentengi diri dari perilaku pergaulan bebas. Langkah ini dinilai sebagai upaya memutus rantai penularan penyakit menular seksual, khususnya infeksi HIV dan AIDS yang kondisinya terus mengkhawatirkan.

Imbauan tersebut muncul seiring laporan Dinas Kesehatan bahwa penularan tidak hanya menyasar kelompok tertentu. Temuan lapangan justru menunjukkan kasus baru juga melibatkan remaja dan anak muda dengan usia 18 tahun.

Temuan 25 kasus baru dari skrining RSUD Kwaingga

Pelaksana sementara (Plt.) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom, dr. Carla Deksiana Susan, menyampaikan bahwa pihaknya berhasil mendeteksi puluhan kasus baru pada pertengahan tahun ini. Penemuan dilakukan setelah tim medis melakukan pemeriksaan kesehatan intensif terhadap 1.250 pasien di RSUD Kwaingga, Kabupaten Keerom.

Carla menjelaskan, sasaran penapisan kesehatan mencakup ibu hamil, pasien pra-operasi, hingga kelompok usia remaja. Ia juga menegaskan bahwa proses tes bagian dari target program tahun 2026.

“Kami diberikan target untuk melakukan tes HIV dan AIDS di tahun 2026 sebanyak 4.803 orang. Sejauh ini yang sudah diperiksa ada 1.250 orang, dan yang positif ada 25 kasus,” ungkap Carla saat ditemui di ruang kerjanya di Arso Kota, Distrik Arso, Senin (13/7/2026).

Ia menilai temuan tersebut cukup mencengangkan sekaligus memprihatinkan karena memperlihatkan pola penularan yang semakin meluas. Berdasarkan data skrining terbaru, tren penularan menunjukkan angka yang tinggi pada fase usia awal kedewasaan, termasuk anak muda berusia 18 tahun serta kelompok ibu rumah tangga yang sedang mengandung.

“Dari 25 orang ini, hampir rata-rata adalah ibu hamil, dan pasien yang paling muda itu anak usia 18 tahun. Ini yang kita temukan di lapangan,” beber dr. Carla.

Dalam penjelasannya, kondisi ini dipandang sebagai alarm bagi orang tua, institusi pendidikan, serta pembuat kebijakan agar evaluasi terhadap edukasi kesehatan reproduksi dan pencegahan pergaulan bebas dapat diperkuat. Perlu ada penguatan agar pesan pencegahan tidak berhenti pada sosialisasi, melainkan benar-benar dipahami dan diikuti di kehidupan sehari-hari.

Status pengobatan ARV dan kendala yang menyertai pasien baru

Setelah 25 kasus baru terdeteksi, Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom bergerak cepat dengan langkah penanganan medis berupa pemberian obat Anti-Retroviral (ARV). Kendati demikian, Carla menyebutkan penanganan di lapangan tidak selalu berjalan mulus karena muncul kendala psikologis pada sebagian pasien.

Menurut data yang dihimpun, dari 25 pasien baru tersebut, 16 orang sudah rutin dan aktif menjalankan pengobatan ARV. Sementara itu, 6 pasien dilaporkan belum bisa dieksekusi pengobatannya karena dinyatakan belum siap secara mental. Adapun 3 pasien lainnya dilaporkan telah meninggal dunia sebelum pengobatan dapat berjalan maksimal.

Selain menangani pasien baru, Dinas Kesehatan juga memastikan pendampingan terhadap pasien lama tetap berlangsung. Dinas Kesehatan Keerom mengonfirmasi bahwa mereka masih melakukan pendampingan aktif terhadap 137 pasien HIV/AIDS dari tahun-tahun sebelumnya yang kini tengah rutin menjalani terapi obat ARV.

Menunggu logistik alat tes untuk skrining massal

Menanggapi situasi yang dianggap mendesak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Keerom, Lerviana Sitanggang, menyatakan pemerintah tidak akan tinggal diam. Ia menuturkan pihaknya sedang menunggu kedatangan logistik alat pemeriksaan HIV/AIDS yang baru dari pusat.

Begitu logistik dan alat tes medis tiba, Dinas Kesehatan berkomitmen untuk segera menggelar skrining massal dan menyeluruh. Lerviana menegaskan target operasional akan menyisir seluruh pusat kesehatan masyarakat yang berada di wilayah administrasi Kabupaten Keerom, termasuk wilayah pelosok di dataran tinggi.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat alat tes sudah tersedia, sehingga kami bisa segera turun melakukan skrining ke Puskesmas-Puskesmas hingga ke wilayah atas,” pungkas Lerviana.

Dengan rangkaian langkah pendeteksian dan penanganan yang sedang berjalan, Pemerintah Kabupaten Keerom berharap upaya skrining dapat menemukan potensi penularan sedini mungkin. Di saat yang sama, perhatian terhadap kesiapan mental pasien dan keberlanjutan pengobatan ARV menjadi bagian penting agar terapi dapat dijalankan lebih optimal.