jurnalistik.co.id – Baterai menjadi salah satu komponen paling penting sekaligus paling mahal pada mobil hybrid maupun kendaraan listrik berbasis baterai (BEV). Karena itu, banyak pemilik kendaraan bertanya apakah kondisi lalu lintas dan cuaca di Indonesia dapat memengaruhi usia pakai baterai.
Secara umum, pabrikan merancang baterai agar bisa bertahan dalam penggunaan normal selama bertahun-tahun. Namun, kondisi di lapangan tidak selalu sama dengan skenario ideal yang dipakai saat kendaraan dikembangkan.
Kepala Teknisi Domo Hybrid EV, Yogig Pramono, menyebut lingkungan berkendara di Indonesia memberi tantangan tersendiri bagi mobil hybrid maupun kendaraan listrik. Ia menilai perbedaan penggunaan sehari-hari membuat baterai bekerja dalam kondisi yang tidak sepenuhnya sebanding dengan skenario di negara asal produk tersebut.
Yogig mengatakan, lalu lintas yang padat dan suhu udara yang relatif tinggi sepanjang tahun membuat baterai memperoleh beban termal yang lebih besar. Ia menyatakan pendinginan pada situasi tersebut juga tidak berjalan optimal.
“Kalau misalnya dipakainya di kota jalan macet, untuk mobil hybrid sama EV sebenarnya lebih cepat panas juga untuk baterainya karena pendinginannya juga masih kurang,” kata Yogig saat ditemui di Jakarta Utara, belum lama ini.
Menurutnya, banyak mobil hybrid dan listrik yang beredar di Indonesia berasal dari pabrikan Jepang, Korea Selatan, China, maupun Eropa. Proses pengembangan produk mereka dilakukan dengan mempertimbangkan iklim di negara asal masing-masing.
Yogig lalu menekankan karakter iklim Indonesia yang berbeda dari negara lain. Ia menjelaskan Indonesia hanya memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau, dengan suhu udara yang cenderung hangat hingga panas sepanjang tahun.
“Anggap saja ini mobil Jepang. Mobil Jepang kan ada beberapa musim, ada musim dingin juga. Nah kalau di Indonesia musimnya cuma dua, hujan dan kemarau,” ujar Yogig.
Perbedaan kondisi tersebut membuat pabrikan perlu menyesuaikan kendaraan ketika mulai dipasarkan di Indonesia. Salah satu penyesuaian yang disebut Yogig adalah pembaruan perangkat lunak atau software secara berkala.
Ia menambahkan, tidak sedikit mobil listrik yang baru masuk Indonesia memperoleh pembaruan software dalam waktu relatif singkat setelah peluncuran. Pembaruan ini, menurut Yogig, dilakukan untuk menyesuaikan sistem kendaraan dengan pola penggunaan konsumen dan kondisi lingkungan di Tanah Air.
“Makanya beberapa mobil EV, utamanya kalau mobil masih baru masuk Indonesia, pasti cepat update software-nya. Dari resmi juga pasti memantau terus data penggunaan di Indonesia, cuacanya seperti apa, cocoknya bagaimana,” kata Yogig.
Dengan data penggunaan dan informasi cuaca tersebut, pabrikan dapat mengoptimalkan manajemen baterai serta sistem pendinginan. Pabrikan juga dapat menyusun strategi pengisian daya agar lebih sesuai dengan kondisi lokal yang ditemui pengguna.
Yogig menegaskan, kendaraan yang tidak mendapatkan penyesuaian software berpotensi mengalami masalah lebih cepat ketika digunakan di Indonesia. Ia mencontohkan kemungkinan kejadian pada kendaraan yang diimpor langsung dari luar negeri tanpa dukungan resmi dari pabrikan.
“Kalau misalnya tidak di-update atau mobilnya CBU, didatangkan sendiri dari luar negeri ke sini, biasanya mobil itu lebih cepat rusak karena software-nya tidak cocok dengan cuaca di Indonesia,” kata Yogig.
Meskipun demikian, Yogig menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti baterai mobil hybrid dan listrik akan cepat rusak hanya karena dipakai di Indonesia. Ia mengaitkan ketahanan baterai dengan kepatuhan kendaraan terhadap pembaruan software sesuai rekomendasi pabrikan.
“Dengan begitu, selama kendaraan mendapatkan pembaruan software sesuai rekomendasi pabrikan dan digunakan secara normal, usia pakai baterai tetap dapat bertahan dalam jangka panjang,” kata Yogig dalam penjelasannya. Ia juga menggarisbawahi pentingnya perawatan rutin.
Karena itu, pemilik kendaraan disarankan menjalani servis berkala di bengkel resmi atau bengkel spesialis. Rekomendasi ini khususnya relevan untuk mobil listrik dan hybrid generasi terbaru yang memerlukan akses terhadap pembaruan sistem kendaraan.
Intinya, tantangan utama bagi baterai di Indonesia datang dari kombinasi lalu lintas padat dan suhu udara yang cenderung hangat hingga panas sepanjang tahun. Penyesuaian melalui pembaruan software yang memadai menjadi faktor penting agar sistem baterai tetap bekerja sesuai kondisi penggunaan di lapangan.
Bagi pengguna, langkah paling mendasar adalah memastikan kendaraan rutin mendapatkan pembaruan yang dianjurkan pabrikan. Dengan begitu, baterai dapat mempertahankan usia pakai dalam jangka panjang meski beroperasi di lingkungan yang berbeda dari skenario pengembangan awal.












