Nasional

Menhaj Sampaikan Pesan Tri Sukses Penyelenggaraan Haji di Arafah

0
×

Menhaj Sampaikan Pesan Tri Sukses Penyelenggaraan Haji di Arafah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menhaj Berikan Pesan Tri Sukses Penyelenggaraan Haji di Arafah

jurnalistik.co.id – ARAFAH — Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan menyampaikan pesan “Tri Sukses Haji” dalam sambutannya di Arafah, Arab Saudi, Selasa (26/5/2026). Ia menegaskan bahwa arah besar penyelenggaraan haji 2026 harus mengacu pada tiga hal pokok yang saling menguatkan.

“Tri Sukses Haji harus disampaikan sebagai arah besar penyelenggaraan (Haji 2026),” katanya.

Menurut Gus Irfan, Tri Sukses Haji yang dimaksud mencakup sukses secara ritual, sukses ekosistem ekonomi haji, serta sukses keadaban dan peradaban. Tiga hal itu, kata dia, harus dipahami sebagai satu kesatuan dalam penyelenggaraan ibadah haji, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Ia menjelaskan, sukses ritual berarti ibadah jemaah sah, tertib, dan khusyuk. Dengan kata lain, pelaksanaan rangkaian ibadah harus tetap berada dalam koridor manasik yang benar, sekaligus memberi ruang agar jemaah dapat beribadah dengan tenang.

Ekosistem ekonomi haji

Sementara itu, sukses ekosistem ekonomi haji dimaknai sebagai penyelenggaraan yang memberi manfaat bagi bangsa, pelaku usaha, dan tata kelola pembayaran dam, terutama untuk haji tamattu’. Dalam penjelasannya, Gus Irfan menempatkan aspek ini sebagai bagian penting dari penyelenggaraan haji yang tak bisa dilepaskan dari dampak lebih luas bagi Indonesia.

Ia juga menegaskan bahwa Kementerian Haji dan Umrah menempatkan keselamatan jiwa dan keabsahan ibadah sebagai satu kesatuan kebijakan. Bagi pemerintah, dua hal itu tidak boleh dipertentangkan karena keduanya sama-sama menentukan kualitas penyelenggaraan haji.

“Ketiga, sukses keadaban dan peradaban, berarti haji melahirkan pribadi yang lebih sabar, disiplin, santun, dan membawa atsar kebaikan bagi Indonesia,” ucapnya.

Gus Irfan mengatakan, penyelenggaraan haji tidak berhenti pada kelancaran prosesi di Tanah Suci. Menurut dia, ibadah ini juga harus memberi jejak moral dan sosial yang baik setelah jemaah kembali ke Tanah Air. Karena itu, dimensi keadaban dan peradaban ditempatkan sejajar dengan aspek ritual dan ekonomi.

Skema murur untuk jemaah tertentu

Dalam sambutannya, Gus Irfan juga menyinggung skema murur, yakni bermalam di Muzdalifah dengan cara tanpa turun dari kendaraan. Skema ini disiapkan untuk jemaah lansia, jemaah berisiko tinggi, dan jemaah dengan komorbid.

“Skema ini mengurangi kepadatan, menekan kelelahan, dan tetap menjaga rangkaian manasik sesuai bimbingan petugas,” katanya.

Ia menilai skema tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga agar jemaah tetap aman sekaligus tetap dapat menjalankan ibadah sesuai tuntunan. Dengan begitu, pengaturan di lapangan dapat disesuaikan dengan kondisi jemaah tanpa mengurangi substansi pelaksanaan manasik.

219.147 jemaah berada di Armuzna

Sebagai informasi, puncak ibadah haji sudah dimulai hari ini, Selasa (26/5/2026), dengan pelaksanaan wukuf di Arafah. Setelah wukuf, para jemaah nantinya akan bermalam di Muzdalifah untuk kemudian bergerak menuju Mina dalam proses lontar jumrah. Tiga fase penting itu dikenal sebagai Armuzna, singkatan dari Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Gus Irfan menjelaskan, sebanyak 202.551 jemaah haji reguler yang diterbangkan lewat 527 kelompok terbang sudah berada di Arafah. Selain itu, ada 16.596 jemaah haji khusus yang juga telah berada di lokasi yang sama.

Jika dijumlahkan, keseluruhan jemaah yang mengikuti prosesi di Armuzna mencapai 219.147 orang. Ratusan ribu jemaah itu didampingi atau dibantu oleh 2.098 petugas jemaah haji yang tersebar di berbagai titik.

Penyampaian pesan Tri Sukses Haji di Arafah ini menjadi penanda bahwa pemerintah ingin menekankan bukan hanya kelancaran teknis ibadah, tetapi juga manfaat yang lebih luas bagi jemaah dan bangsa. Di tengah padatnya prosesi puncak haji, pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa penyelenggaraan haji harus menghadirkan ibadah yang sah, tertib, aman, dan membawa kebaikan yang berlanjut setelah jemaah kembali ke Indonesia.