jurnalistik.co.id – Mirza Ukail Arfia (10), bocah asal Desa Burneh, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, berhasil mewujudkan niatnya membeli satu ekor kambing untuk kurban setelah menabung selama satu tahun. Siswa kelas 4 sekolah dasar itu mengumpulkan uang sedikit demi sedikit dari sisa uang saku sekolah dan madrasah, lalu membuka celengannya pada Sabtu, 23 Mei 2026, sepulang sekolah.
Uang yang terkumpul di celengan milik Mirza mencapai Rp 3.178.500. Dengan jumlah itu, ia kemudian dibawa ke pasar hewan di Desa Langkap untuk memilih kambing yang akan dijadikan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah. Kambing yang dipilih harganya Rp 3.350.000, sehingga kekurangannya ditambah oleh sang ayah, Abdurrahem.
Mirza mengatakan bahwa ini bukan kali pertama ia membeli hewan kurban dari tabungannya. Pada tahun 2024, ia juga pernah melakukan hal yang sama. Pengalaman itu membuatnya ingin menabung lagi agar bisa membeli kambing kurban pada tahun berikutnya.
“Jadi pengen lagi, makanya saya nabung lagi supaya cukup untuk beli kambing,” ujar Mirza, Minggu (24/5/2026).
Untuk memudahkan kebiasaannya menabung, orangtuanya membelikan celengan berbentuk tabung. Setiap hari, Mirza menyisihkan uang saku dari sekolah dan madrasah. Ia mengaku biasa memasukkan uang mulai dari Rp 2.000 sampai Rp 5.000 ke dalam celengannya.
“Saya selalu menyisakan uang saku. Jadi setiap hari celengan saya isi mulai Rp 2.000 sampai Rp 5.000,” ungkapnya.
Tabungan Mirza juga bertambah ketika ia mendapat uang pemberian dari keluarga besar saat Lebaran. Pecahan Rp 50.000 hingga Rp 100.000 ikut dimasukkan ke celengan hingga jumlahnya terus membesar dari waktu ke waktu. Kebiasaan itu membuat tekadnya untuk membeli kambing kurban semakin kuat.
Belajar dari pelajaran agama
Di balik keinginannya membeli kambing kurban, Mirza mengaku mendapat dorongan dari pelajaran yang ia terima di sekolah. Salah satu gurunya pernah menjelaskan bahwa hewan kurban dapat menjadi tabungan pahala dan dianalogikan bisa menjadi tunggangan di akhirat kelak. Penjelasan itu membekas di pikirannya, meski usianya masih sangat kecil.
“Kalau hewan kurban bisa dibawa mati, bisa jadi pahala untuk kita nanti,” katanya.
Abdurrahem mengaku sempat terkejut dengan niat puteranya itu. Ia mengatakan, di saat yang sama, kakak Mirza justru sedang membuka celengan untuk membeli ponsel. Namun, Mirza malah menunjukkan pilihan yang berbeda. Menurut Abdurrahem, sang anak menyampaikan bahwa handphone tidak dibawa mati, sedangkan kambing kurban bisa menjadi amal yang dibawa sampai akhirat.
“Sama mbaknya itu digoda, ‘ayo dek beli hape’ gitu. Tapi Mirza ini malah bilang kalau handphone tidak dibawa mati, kalau kambing (kurban) bisa dibawa mati. Saya juga heran bisa ada pikiran seperti itu, padahal masih kecil,” ujar Abdurrahem.
Abdurrahem juga mengatakan bahwa anak bungsunya itu sejak kecil memang tertarik dengan pelajaran agama Islam. Karena itu, keluarga merasa bersyukur ketika melihat arah minat Mirza tumbuh ke hal-hal yang positif. Ia bahkan menyebut, setelah lulus SD nanti, Mirza meminta untuk bisa masuk ke pondok pesantren.
“Kita sebagai orangtua sangat bersyukur kalau anak-anak ke arah yang positif. Tentu kita juga mengarahkan supaya memahami batas-batasnya,” katanya.
Saat celengan dibongkar, keluarga melihat hasil tabungan yang dikumpulkan Mirza selama setahun memang cukup berarti. Setelah dihitung, uang itu mencapai Rp 3.178.500. Dengan uang tersebut, keluarga lalu menambahkan kekurangan agar bisa membawa pulang kambing seharga Rp 3.350.000 dari pasar hewan.
Mirza kini juga ikut menyiapkan tempat untuk kambingnya di rumah. Menurut Abdurrahem, pekarangan rumah sedang dibersihkan untuk dijadikan kandang sementara sebelum kambing itu dikurban. Kambingnya sendiri masih dititipkan pada penjual dan akan dibawa esok hari.
“Mirza juga antusias menyiapkan tempat untuk kambingnya. Dia juga bantu bebersih pekarangan supaya kambingnya nanti bisa dirawat sebelum dikurban,” pungkasnya.








