jurnalistik.co.id – Tantangan mobilitas jemaah menjadi fokus utama jelang wukuf di Arafah
Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia Mayjen TNI (Purn) Dendi Suryadi memaparkan sejumlah poin krusial yang menjadi perhatian petugas haji menjelang wukuf di Arafah yang akan dilaksanakan pada Senin (25/5/2026). Menurut dia, dua hal yang paling menonjol adalah kepadatan pergerakan jemaah dan suhu udara yang sangat panas.
Dendi menyebut, salah satu titik paling rawan adalah pergerakan jemaah Indonesia dari Makkah menuju Arafah yang berlangsung bersamaan dengan mobilitas jutaan jemaah dari berbagai negara ke lokasi yang sama. Situasi itu membuat pengaturan arus menjadi bagian penting dari kesiapan petugas di lapangan.
“Pergerakan jemaah Indonesia dilakukan 8 Dzulhijah, pada hari Senin (25/5/2026) jam 07.00 WAS. Jemaah bergerak dari hotel-hotel di seluruh Makkah menuju Arafah, inilah salah satu titik krusialnya,” katanya usai memimpin apel kesiapan petugas Arafah di Makkah, Sabtu (23/5/2026).
Pengaturan tenda dan layanan setelah wukuf juga jadi sorotan
Selain arus keberangkatan, Dendi menegaskan bahwa pengaturan jemaah menuju tenda serta pengelolaan setelah wukuf juga menjadi perhatian. Ia menilai, tahapan ini memerlukan kesiapan petugas yang benar-benar matang karena jumlah jemaah Indonesia sangat besar.
Jumlah jemaah Indonesia pada musim haji tahun ini mencapai 221.000 orang, dengan sekitar 203.000 di antaranya merupakan jemaah haji reguler. Angka tersebut membuat pengaturan layanan di Arafah harus dilakukan dengan cermat agar seluruh jemaah dapat terlayani sesuai kebutuhan masing-masing.
Dendi tidak menutup mata terhadap kondisi cuaca yang juga berpotensi menyulitkan pelayanan. Menurut dia, suhu udara di Arafah diperkirakan sangat panas saat puncak haji berlangsung.
“Tahun ini diperkirakan oleh BMKG-nya Arab Saudi bisa mencapai 47 derajat celcius,” kata dia.
Dengan kondisi seperti itu, pelayanan operasional haji saat wukuf di Arafah akan dikoordinasikan oleh Satgas Arafah di bawah Satuan Operasi Armuzna. Koordinasi ini menjadi bagian penting dari penyelenggaraan layanan agar semua unsur yang bertugas bisa bergerak dalam satu komando yang jelas.
Petugas bandara mulai bergerak lebih awal
Dendi menjelaskan bahwa petugas daerah kerja (daker) bandara akan bergerak menuju Arafah pada Minggu (24/5/2026) atau 7 Dzulhijah. Pergerakan lebih awal itu dilakukan untuk memastikan seluruh fasilitas di Arafah sudah siap digunakan ketika jemaah tiba.
“Ketika jemaah datang pada 8 Dzulhijah atau 25 Mei 2026, semua petugas sudah siap,” ujarnya.
Dengan skema tersebut, kesiapan petugas tidak hanya diukur dari kehadiran fisik di lokasi, tetapi juga dari kemampuan memastikan tenda, layanan, dan kebutuhan operasional lain benar-benar dalam kondisi siap pakai. Di tengah padatnya arus jemaah dan suhu yang ekstrem, aspek kesiapan inilah yang disebut menjadi penentu kelancaran pelayanan di Arafah.
Armuzna jadi tolok ukur keberhasilan pelayanan haji
Sebelumnya, Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia Mochamad Irfan Yusuf meminta petugas haji Indonesia mempertahankan pelayanan prima kepada jemaah selama fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Ia menilai, fase ini merupakan puncak haji yang sangat menentukan keberhasilan operasional layanan.
Menurut Gus Irfan, keberhasilan Armuzna tidak hanya menyangkut kelancaran ibadah jemaah, tetapi juga menjadi cermin kesiapan seluruh sistem pelayanan haji. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga kualitas layanan di seluruh titik pelayanan yang dilalui jemaah.
“Puncak dari haji adalah Armuzna, jika Armuzna berjalan sesuai harapan artinya kesuksesan sudah 80 persen,” ungkap Gus Irfan.
Dengan perhatian pada kepadatan pergerakan, pengaturan tenda, kondisi suhu, serta koordinasi petugas di Arafah, pemerintah berharap layanan kepada jemaah Indonesia tetap berjalan tertib pada salah satu fase paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.










