Nasional

Menkes Sebut Daging Kurban Setara Whey Protein Mahal

0
×

Menkes Sebut Daging Kurban Setara Whey Protein Mahal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menkes: Daging Kurban Setara Whey Protein Mahal - Gaya Hidup

jurnalistik.co.id – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menilai daging kurban memiliki kandungan protein tinggi yang manfaatnya bisa setara dengan whey protein, bahan suplemen yang harganya disebut bisa mencapai jutaan rupiah. Pandangan itu ia sampaikan melalui unggahan di media sosial menjelang perayaan Idul Adha.

“Daging kurban itu berkahnya besar sekali loh. Karena protein yang ada di dalamnya setara dengan whey protein yang harganya jutaan,” kata Budi dalam unggahan Instagramnya, dikutip Jumat (28/5).

Menurut Budi, daging kurban tidak sebaiknya langsung dihabiskan dalam satu kali makan. Ia menyarankan masyarakat membaginya ke dalam beberapa porsi kecil agar daging bisa dimanfaatkan untuk beberapa kali konsumsi.

Saran itu, menurutnya, penting agar manfaat daging kurban bisa dirasakan lebih merata. Dengan membaginya menjadi porsi yang lebih kecil, masyarakat tetap dapat menikmati makanan ini tanpa harus mengonsumsinya sekaligus dalam jumlah besar.

Budi juga menjelaskan bahwa dalam setiap 100 gram daging sapi terkandung sekitar 26 gram protein. Protein tersebut dibutuhkan tubuh, terutama untuk pembentukan otot, pemulihan setelah olahraga, hingga menjaga kebugaran tubuh.

Penjelasan itu membuat daging kurban diposisikan bukan hanya sebagai hidangan khas perayaan, tetapi juga sebagai sumber protein yang bernilai bagi tubuh. Di sisi lain, pernyataan Budi menegaskan bahwa kandungan gizi dalam daging sapi memang layak diperhatikan, terutama saat masyarakat menerima daging kurban dalam jumlah yang cukup banyak.

Unggahan tersebut muncul di tengah suasana menjelang Idul Adha, ketika tradisi penyembelihan hewan kurban kembali menjadi perhatian publik. Di momen seperti ini, daging kurban umumnya didistribusikan kepada masyarakat untuk diolah di rumah masing-masing.

Karena itu, imbauan untuk membagi daging ke dalam beberapa porsi kecil menjadi relevan. Selain memudahkan pengaturan konsumsi, cara ini juga membuat daging kurban bisa dinikmati lebih dari sekali tanpa harus dihabiskan dalam satu waktu.

Dengan pernyataannya, Budi mencoba menekankan bahwa daging kurban memiliki nilai gizi yang tinggi dan bisa menjadi asupan protein yang bermanfaat. Ia mengaitkannya langsung dengan whey protein yang selama ini dikenal sebagai suplemen berprotein tinggi dan berharga mahal.

Dalam konteks itu, pesan yang disampaikan Budi lebih menekankan cara pandang bahwa daging kurban bisa diperlakukan sebagai bahan pangan bernilai tinggi, bukan sekadar lauk yang disantap tanpa pertimbangan. Karena kandungan proteinnya cukup besar, pengolahannya pun menjadi penting agar manfaatnya tetap terasa saat daging disantap dalam beberapa kesempatan berbeda.

Ia juga mengarahkan perhatian publik pada cara konsumsi yang lebih terkendali. Dengan membagi daging menjadi bagian-bagian kecil, masyarakat dapat menyesuaikan porsi makan sesuai kebutuhan tanpa kehilangan kesempatan untuk memperoleh asupan protein dari daging kurban. Pola seperti ini membuat daging tidak cepat habis dalam satu waktu, tetapi tetap memberi nilai gizi yang bisa dinikmati secara bertahap.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pesan bahwa daging kurban memiliki tempat tersendiri di tengah perayaan Idul Adha. Di satu sisi, makanan ini hadir sebagai bagian dari tradisi berbagi. Di sisi lain, daging kurban juga membawa manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh penerimanya ketika diolah dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan dalam satu kali konsumsi.

Dengan menyinggung kesetaraan kandungan protein daging kurban dan whey protein, Budi pada dasarnya ingin menunjukkan bahwa bahan pangan yang akrab di masyarakat itu memiliki nilai yang patut diperhatikan. Penekanan semacam ini membuat daging kurban tidak hanya dipandang dari sisi perayaan, tetapi juga dari sisi manfaatnya sebagai sumber protein yang mendukung kebutuhan tubuh.