jurnalistik.co.id – Mohammad Bashir, 31, dijatuhi hukuman seumur hidup dengan masa minimum 17 tahun oleh Pengadilan Crown Court Manchester. Putusan itu dijatuhkan setelah ia mengaku bersalah menyiapkan tindakan terorisme terkait rencana terpisah bersama Jihad Al-Shamie.
Dalam persidangan, terungkap Bashir mengantar Al-Shamie dalam perjalanan pulang-pergi selama 10 jam untuk melakukan pengintaian permusuhan di Defence Academy, Shrivenham, Oxfordshire, pada 14 Agustus 2025.
Jaksa menyusun rangkaian peristiwa yang kemudian mengarah pada serangan di sinagoge Heaton Park, yang menewaskan dua pria Yahudi. Serangan itu terjadi beberapa minggu setelah perjalanan pengintaian tersebut.
Peran Bashir dalam “hostile reconnaissance”
Mrs Justice Cheema-Grubb menyampaikan bahwa pada Agustus tahun lalu, Bashir telah menjadi seorang “firmly committed jihadist”. Ia juga menilai hubungan keduanya dalam perencanaan berada pada posisi yang sama, dengan menyatakan Bashir dan Al-Shamie “equally engaged” dalam menyusun serangan terhadap target militer Inggris.
Hakim mengutip maksud dari rencana itu dengan kalimat, “in which you and he expected to kill and be killed”. Pernyataan tersebut menjadi dasar penilaian hakim bahwa niat yang dipersiapkan oleh keduanya tidak bersifat insidental atau setengah hati.
Hakim menolak pandangan yang disampaikan Bashir kepada petugas masa percobaan, bahwa ia tidak lagi memegang pandangan ekstremis dan menyesali tindakannya. Dalam putusan, ia mengatakan: “I consider you remain dangerous. You have given no grounds that your attitude has really changed at all.”
Selain menyebutkan putusan, pengadilan juga menggambarkan momen setelah vonis. Bashir, yang juga memegang paspor Pakistan, tampak tersenyum kepada anggota keluarga di galeri publik sebelum meninggalkan ruang sidang.
Komunikasi ekstremis dan catatan di lokasi
Polisi penanggulangan teror mengungkap persahabatan Bashir dengan Al-Shamie setelah meninjau ponsel mereka usai serangan terhadap sinagoge pada Oktober 2025. Greater Manchester Police (GMP) menyampaikan bahwa keduanya memegang pandangan ekstremis dan membahas persiapan untuk “war”.
GMP juga menyebut adanya percakapan WhatsApp yang berisi komentar antisemit. Dalam konteks pengintaian, Bashir mengemudikan Al-Shamie ke Shrivenham, sementara Al-Shamie membuat catatan mengenai pengaturan keamanan di pangkalan pada teleponnya dengan judul “espionage”.
Berita Terkait
Mereka berhenti di lokasi yang melatih personel militer Inggris dan Civil Service, termasuk mahasiswa asing, hanya selama 13 menit sebelum kembali ke rumah pada hari yang sama. Setelah perjalanan itu, keduanya membuang ponsel mereka, tetapi polisi kemudian dapat mengakses data cloud yang terkait dengan perangkat mereka.
Dari penelusuran tersebut, polisi menemukan bahwa Al-Shamie melakukan pencarian menggunakan istilah seperti ‘weapons, potential target sites, and individuals with links to the Israeli military’. Temuan lain yang memperkuat keterangan penyidik adalah rekaman CCTV yang menunjukkan Bashir dan Al-Shamie berdiskusi mengenai rencana serangan.
Rekaman CCTV di masjid dan penilaian “dangerous individual”
Pasangan itu juga terpantau pada 9 Agustus melalui CCTV di Al Sunnah Mosque, Manchester. Mereka diduga merasa telah bersembunyi dari kamera dan yakin pembicaraan mereka tidak akan didengar orang lain.
Assistant Chief Constable Rob Potts menyatakan Bashir yang berasal dari kelahiran Manchester sebagai “dangerous individual”. Ia menambahkan bahwa penuntutan sebelumnya menyebut pasangan itu merencanakan serangan di UK Defence Academy dengan senjata “that would cause multiple fatalities and have national and international impact.”
Namun, Potts menekankan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan Bashir mengetahui rencana untuk menyerang Heaton Park Synagogue. Artinya, pengadilan menilai keterlibatan Bashir berada pada tingkat perencanaan teror yang terfokus, tetapi elemen target serangan terhadap sinagoge tidak dapat dipastikan sebagai pengetahuannya.
Serangan sinagoge Heaton Park
Melvin Cravitz dan Adrian Daulby menjadi korban setelah Al-Shamie, yang berasal dari Prestwich, mengemudikan Kia Picanto ke gerbang sinagoge dan mulai menyerang orang-orang dengan pisau. Saat serangan terjadi, para jemaah berkumpul untuk memperingati Yom Kippur, hari paling suci bagi umat Yahudi dalam setahun.
Al-Shamie mengenakan “fake suicide belt” dan tewas ditembak oleh polisi di lokasi kejadian. Setelah serangan tersebut, Bashir sempat pergi ke Pakistan.
Ia kemudian ditangkap di Manchester Airport ketika kembali. Tim pembela berargumen bahwa ia mengalami “change of heart” setelah perjalanan pengintaian, tetapi hakim menolak alasan itu.
Di bagian penutup penilaian kepolisian, Potts menegaskan bahwa Bashir akan menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dengan menyatakan: “Bashir is now facing the consequences of his actions and I hope his sentence will act as a deterrent to anybody considering taking part in extremist activity.”
Vonis seumur hidup dengan minimum 17 tahun tersebut menutup rangkaian perkara yang berawal dari pengintaian di Shrivenham dan berkelindan dengan rencana kekerasan yang berujung pada tragedi di Heaton Park.












