jurnalistik.co.id – Di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, aktivitas bongkar muat sudah bergerak sejak dini. Di balik deretan truk kontainer dan trailer yang melintas, para sopir menyiapkan mental untuk menjalani hari yang panjang—bahkan berpotensi terus berlanjut tanpa titik pulang yang jelas.
Setiap kali kendaraan raksasa itu menuntut mereka kembali bekerja, waktu istirahat bukan lagi bagian yang mudah didapat. Ketika jeda tak kunjung datang dan antrean terus menuntut, kabin truk beralih fungsi menjadi ruang makan, tempat melepas lelah, hingga rumah sementara di tengah kerasnya ritme kawasan logistik terbesar di Indonesia.
Selama 31 tahun berprofesi sebagai sopir truk, Santoso mengaku sudah lama membiasakan diri bekerja selama 24 jam. Kebiasaannya itu terlihat dari cara ia mengatur tidur dan ruang personalnya—seakan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari menyatu dalam satu paket yang bergerak.
Santoso (49) menyampaikan bahwa ia sudah delapan tahun menjadikan kendaraan sebagai tempat tinggal. Ia menuturkan bahwa sejak tahun 2018, ia jarang mengontrak rumah karena tuntutan pekerjaan yang harus mengejar antrean sekaligus menghindari kemacetan.
Keputusan itu juga terkait dengan kondisi keluarga. Santoso memilih tidak mengontrak rumah “bulat” karena anak dan istrinya berada di Brebes, Jawa Tengah, sementara waktu kerjanya menyerap hampir seluruh momentum yang seharusnya bisa dipakai untuk tinggal bersama.
Menurut Santoso, banyaknya waktu yang habis di jalan membuatnya merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk mengontrak rumah. Tubuhnya pun sudah terbiasa menahan kerasnya jok kemudi truk, yang menjadi alas utama untuk tidur selama ritme kerja berputar.
Untuk memperpanjang kenyamanan saat berada di pelabuhan, Santoso melengkapi ruang bawah truk dengan ayunan jaring. Ayunan itu diikat ke besi-besi kendaraan raksasa, sehingga ia bisa merebahkan tubuh sejenak ketika harus mengantre berjam-jam.
Ia merangkum kebiasaan tersebut dalam penjelasannya saat diwawancarai di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (18/6/2026). Santoso mengatakan, “Sekarang saya lebih banyak tidur di mobil. Sejak tahun 2018 sudah jarang mengontrak rumah karena tuntutan pekerjaan yang harus mengejar antrean dan menghindari macet,” ucap dia ketika diwawancarai Kompas.com di sekitar Pelabuhan Tanjung Priok, Kamis (18/6/2026).
Jam kerja yang ditentukan antrean
Bagi Santoso, persoalan paling menentukan adalah ketidakpastian jam kerja yang ikut bergerak mengikuti proses bongkar muat. Ia menegaskan bahwa waktu kerja sopir seperti dirinya tidak bisa disamakan dengan pola jam tetap.
Ia menjelaskan bahwa jadwal bergantung pada seberapa cepat muatan bisa diproses. “Kalau sopir seperti ini tidak menentu (jam kerjanya). Tergantung kita cepat bongkar muat atau tidak. Selagi mata masih kuat, kita jalan terus,” tutur dia.
Di sisi lain, sebagian perusahaan truk disebut mengawasi sekaligus mengimbau agar sopir beristirahat setiap empat jam. Namun, Santoso menyebut imbauan itu sulit diwujudkan di lapangan karena tuntutan operasional yang tidak memberi ruang cukup.
Persaingan antar perusahaan trucking juga turut membentuk tekanan kerja. Sopir dituntut dapat mengangkut dan mengantar muatan tepat waktu, sehingga bila jadwal melenceng sedikit saja, konsekuensi bisa muncul di tingkat koordinasi kerja dan penilaian kinerja.
“Kalau ada tugas dari kantor malam-malam untuk ambil barang di pelabuhan, kita harus berangkat karena jamnya dibatasi oleh pihak pengelola pelabuhan. Kalau telat, bisa kena denda atau kena tegur bos,” ungkap Santoso.
Pengalaman sopir lain: dari 06.00 WIB hingga 06.00 WIB
Pengalaman Santoso tidak berdiri sendiri. Hayatul Mujahidin (56) juga mengaku kerap kali menghabiskan waktu di jalan hingga mencapai pola kerja 24 jam.
Ia membandingkan ritme tersebut dengan karyawan pada umumnya yang bekerja delapan jam. Hayatul menjelaskan bahwa perbedaannya terutama terasa pada durasi yang “menguras” tenaga ketika sopir harus menyesuaikan waktu pelaksanaan dan batasan operasional di pelabuhan.
Di lokasi yang sama, Hayatul menyampaikan, “Kalau karyawan biasa kan bekerja normal delapan jam sesuai Undang-Undang, tapi kami sering terkuras habis dari jam 06.00 WIB sampai jam 06.00 WIB lagi. Kadang bisa lebih dari 24 jam,” kata dia.
Dalam narasi Hayatul, yang ditekankan bukan hanya panjangnya waktu kerja, melainkan juga pola yang dipaksa oleh rangkaian tugas yang berurutan. Saat pekerjaan terikat pada tenggat dan ritme antrean, batas “wajar” jam kerja terasa sulit dipertahankan.
Kesaksian keduanya menunjukkan bagaimana kehidupan sopir truk terbentuk oleh kebutuhan logistik yang menuntut kontinuitas. Di tengah antrean yang menekan dan pengaturan yang dibatasi, kendaraan akhirnya bukan sekadar alat kerja, melainkan ruang bertahan untuk rehat dan melanjutkan perjalanan.
Kerja yang dapat berlangsung sepanjang 24 jam membuat kabin dan bagian-bagian kendaraan berubah fungsi, dari tempat mengemudi menjadi ruang pemulihan. Dari perspektif para sopir, kebiasaan itu bukan pilihan sepenuhnya, melainkan konsekuensi dari tuntutan operasional, kompetisi perusahaan, serta jadwal yang tidak selalu memberikan jeda.
Dengan demikian, nasib sopir truk di Tanjung Priok tidak hanya terkait pada perjalanan dan muatan, tetapi juga pada bagaimana waktu hidup mereka dibentuk ulang oleh antrean dan batasan proses bongkar muat. Dalam kondisi tersebut, kendaraan pun berubah menjadi tempat tinggal sementara, tempat mereka bertahan sebelum giliran berikutnya datang.












