Daerah

Peternak Kebumen Curhat: Produksi Telur 85% Naik, Harga Kandang Turun Hingga Rp23.000/kg

×

Peternak Kebumen Curhat: Produksi Telur 85% Naik, Harga Kandang Turun Hingga Rp23.000/kg

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Curhat Peternak Kebumen: Produksi Telur Melimpah, Harga Malah Anjlok

jurnalistik.co.id – Kebumen tengah memasuki fase ketika telur ayam ras terlihat semakin melimpah. Namun bagi peternak, kondisi itu tidak otomatis berbanding lurus dengan pendapatan, karena harga di tingkat kandang justru ikut melemah.

Ahmad Samingan, peternak asal Desa Tambakprogaten, Kecamatan Klirong, Kabupaten Kebumen, menjadi salah satu yang merasakan langsung perubahan tersebut. Menurutnya, produksi sedang berada pada puncak, tetapi pasar seperti tidak merespons dengan semestinya.

Sandingan usaha ini berjalan di tengah situasi permintaan yang dinilainya menurun saat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) libur. Saat penyerapan telur melambat, harga jual harian turut terdorong turun, sehingga margin peternak terasa semakin menipis.

Setelah sekitar empat setengah tahun menekuni ayam petelur, Samingan mengaku terus menjaga produktivitas melalui peremajaan kandang secara berkala. Saat ini, jumlah ternaknya sekitar 450 ekor, dan proses peremajaan masih berlangsung.

Dengan pola perawatan yang dilakukan secara rutin, tingkat produksi telur miliknya dapat mencapai sekitar 85 persen. Ia menyebut pencapaian tersebut berada pada fase produksi terbaik, bahkan ketika populasi masih dalam tahap pembaruan kandang.

“Saya sudah sekitar 4,5 tahun menggeluti peternakan ayam petelur. Saat ini populasinya sekitar 450 ekor dan masih dalam proses peremajaan. Produksi sekarang sedang puncaknya, bisa mencapai 85 persen,” kata Samingan Minggu (5/7/2026).

Meski produksi meningkat, harga telur ayam ras yang diterima peternak tidak ikut membaik. Dalam beberapa pekan terakhir, harga di tingkat kandang bergerak turun, dari kisaran Rp 25.000 hingga Rp 26.000 per kilogram menjadi sekitar Rp 23.000 per kilogram.

Penurunan tersebut dinilainya cukup terasa, terutama karena biaya produksi—terutama pakan ternak—masih relatif tinggi. Saat biaya tetap menjadi beban, penurunan harga membuat perputaran usaha semakin ketat.

Saringan menduga pelemahan harga dipengaruhi oleh berkurangnya permintaan pasar. Salah satu pemicunya, ia menunjuk pada berhentinya sementara program MBG selama libur sekolah, yang membuat serapan telur ikut menurun.

“Harga telur sekarang lagi anjlok, sekitar Rp 23.000 per kilogram dari kandang. Sebelumnya bisa mencapai Rp 25.000 sampai Rp 26.000 per kilogram. Kemungkinan salah satu penyebabnya karena permintaan berkurang, mungkin juga karena program MBG sedang libur,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, harapan Samingan mengarah pada langkah penstabilan harga oleh pihak terkait. Ia ingin peternak tidak terus menanggung tekanan ketika produksi berada di level tinggi, tetapi pasar justru tidak menyerap sebanding dengan jumlah telur yang dihasilkan.

Situasi ini memperlihatkan adanya jeda antara kondisi di kandang dan respons pasar. Ketika telur tersedia dalam jumlah lebih banyak, peternak tetap berada pada fase produksi yang harus dijaga agar tidak turun, tetapi harga yang berlaku justru mengikuti arah sebaliknya. Akibatnya, peternak merasa usaha yang sedang berjalan baik di sisi output belum tentu berbuah pada penerimaan yang sebanding.

Di tengah peremajaan kandang yang masih berlangsung, Samingan berupaya memastikan produksi tetap stabil dengan pola perawatan yang rutin. Ia menempatkan pembaruan populasi sebagai bagian dari strategi jangka menengah, agar performa dapat kembali pada level optimal tanpa mengorbankan kelangsungan usaha. Dengan pendekatan itu, ia berharap kondisi di pasar setidaknya tidak terlalu timpang, terutama pada saat produksi sedang berada pada puncaknya.

Menurunnya harga juga membuat beban semakin terasa karena biaya produksi—terutama pakan—tidak ikut turun dengan sendirinya. Saat harga jual bergerak ke bawah, peternak harus menahan laju pengeluaran tetap berjalan, sehingga ruang keuntungan menyempit dan perputaran usaha terasa lebih ketat. Dalam kondisi seperti ini, peternak cenderung lebih fokus pada menjaga kelangsungan produksi sambil menantikan perbaikan harga.

Ke depan, harapan Samingan tertuju pada adanya langkah penstabilan harga agar tekanan tidak terus dialami pada periode produktivitas tinggi. Ia menilai pemulihan permintaan menjadi kunci, terlebih setelah serapan pasar sebelumnya sempat melambat saat program MBG libur. Ketika penyerapan kembali bergerak normal, ia berharap harga di tingkat kandang dapat kembali seimbang dengan tingkat produksi yang dihasilkan.