Olahraga

Steve Borthwick: Kontrak Pelatih Kepala Inggris Diperpanjang Setelah Six Nations 2028

×

Steve Borthwick: Kontrak Pelatih Kepala Inggris Diperpanjang Setelah Six Nations 2028

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Steve Borthwick: England head coach set for contract extension past 2028 Six Nations

jurnalistik.co.id – Rugby Football Union (RFU) telah memutuskan untuk memperpanjang kontrak pelatih kepala timnas Inggris, Steve Borthwick, melampaui Six Nations 2028. Langkah ini diambil agar posisi pelatih dan stafnya tidak lagi digantung menjelang serta ketika Rugby World Cup tahun depan berlangsung.

Menurut RFU, kepastian kontrak sampai pertengahan 2028 memberi ruang waktu untuk menentukan kepemimpinan jangka panjang tim. Conor O’Shea, performance director RFU, menegaskan bahwa ketidakjelasan menjelang turnamen besar tidak sejalan dengan kebutuhan tim yang sedang fokus pada penampilan di kompetisi global.

“Anda tidak ingin mereka mencari pekerjaan menjelang [Piala Dunia],” kata O’Shea. Ia menambahkan bahwa semua pihak memang akan menilai performa pada Piala Dunia, tetapi tim tidak boleh masuk ke momen itu dengan ketidakpastian, terlebih karena menyangkut timing dan persiapan.

O’Shea juga menyebut perpanjangan kontrak ini akan “memberi kepastian” sekaligus memberi waktu bagi RFU untuk menilai langkah yang tepat secara menyeluruh. “Jadi kami akan memberi kepastian itu, dan itu juga memberi kami waktu untuk melihat dengan saksama,” ujarnya.

Keputusan ini muncul setelah RFU melakukan peninjauan terhadap performa Inggris pada Six Nations awal tahun ini yang dinilai “horrendous”. Dalam evaluasi tersebut, Borthwick mendapatkan dukungan untuk memimpin tim melewati periode menuju Piala Dunia.

RFU juga menyatakan tidak melihat skenario di mana Borthwick tidak menjadi pelatih kepala saat Inggris berlaga di Australia tahun depan. Keyakinan tersebut disampaikan O’Shea, yang menilai Borthwick dapat membawa tim sesuai arah yang diinginkan RFU.

Dalam bagian kompetisi Nations Championship pada putaran Juli, Inggris sempat bangkit setelah kekalahan telak saat melawan Afrika Selatan di Johannesburg. Dari hasil itu, mereka meraih kemenangan atas Fiji di Liverpool dan kemudian menyingkirkan Argentina, sehingga menutup kampanye dengan dua kemenangan dari tiga pertandingan.

O’Shea menyinggung bahwa berbeda dengan Inggris, Irlandia memilih jalur komitmen jangka panjang lewat kontrak Andy Farrell sampai 2031. Ia menekankan bahwa RFU ingin memastikan Inggris tidak menghadapi situasi “mencari kepastian” di saat tim seharusnya sedang berada pada fase persiapan turnamen terbesar.

“Saya melihat pada Steve sosok yang benar-benar ‘berdarah’ untuk Inggris, dan ingin Inggris sukses lebih dari apa pun yang bisa Anda bayangkan,” tutur O’Shea. Ia menambahkan bahwa tim Inggris berada di antara kelompok tim yang berpeluang besar memenangi Piala Dunia berikutnya.

“Tim Inggris ini, tanpa ragu, adalah salah satu dari mungkin lima tim yang bisa memenangi Piala Dunia tahun depan. Saya percaya tim ini dapat memenangkan Piala Dunia,” lanjutnya. Ia kemudian menilai kesiapan skuad dengan kalimat tegas, “Apakah talenta ada? Seratus persen.”

Keyakinan itu juga disertai pandangan mengenai periode 12 bulan ke depan. “Jika dalam 12 bulan mendatang tim Inggris menunjukkan versi terbaik dirinya, saya tahu tim ini bisa mengalahkan siapa pun di dunia,” kata O’Shea.

Di luar isu kontrak, O’Shea turut membahas aturan seleksi pemain yang menjadi ciri model timnas Inggris. Seperti yang berlaku pada sejumlah pelatih sebelumnya, Borthwick hanya dapat memilih pemain yang berkompetisi di English Premiership.

Artinya, pemain yang bermain di liga luar tidak bisa dipanggil sesuai aturan tersebut. Salah satu contoh yang disebut adalah Jack Willis, flankerdari Toulouse, yang menurut aturan tidak memenuhi syarat untuk membela timnas Inggris.

Namun, Courtney Lawes mengemukakan pandangan berbeda. Lawes—centurion cap yang kembali ke liga Inggris bersama Sale setelah dua musim di Brive—berpendapat bahwa RFU perlu meninjau kebijakan agar pemain terbaik tetap tersedia untuk tim.

Sementara itu, O’Shea tetap mempertahankan posisi bahwa aturan tersebut bekerja untuk kepentingan rugby Inggris secara keseluruhan. Ia mengatakan kebijakan itu dibuat tidak hanya untuk kepentingan timnas, melainkan untuk ekosistem rugby Inggris.

“Ini bukan dilakukan untuk England saja, tetapi untuk rugby Inggris,” ucap O’Shea. Ia memperingatkan dampak bila kebijakan dilonggarkan, terutama terkait kemungkinan berkurangnya investasi pada jalur pengembangan pemain di dalam liga.

O’Shea menjelaskan bahwa jika semua pemain terbaik dipilih, lalu berakhir bermain di luar negeri, maka jumlah pemain papan atas di liga akan menyusut. Dalam kondisi itu, investasi pemilik dalam program jalur pemain bisa menurun karena alasan yang menurutnya logis: “mengapa berinvestasi pada jalur-jalur itu jika pemain terbaik justru akan diambil pergi?”

“Saya paham sepenuhnya soal pengalaman hidup itu bagus,” tambahnya. Tetapi, menurut O’Shea, untuk permainan Inggris aturan tersebut “adalah hal yang tepat”.

Dalam konteks lebih luas, O’Shea juga dikenal memimpin dominasi tim perempuan Inggris sejak bergabung dengan RFU pada Januari 2020. Ia menyebut dukungan dari pembentukan dan pengembangan Premiership Women’s Rugby (PWR), yang ikut memperkuat daya saing serta perkembangan pemain.

RFU menilai Red Roses menjalani periode luar biasa: tak terkalahkan selama empat tahun dan memenangkan seluruh Six Nations sejak 2018. O’Shea menolak anggapan bahwa tim perempuan tidak bisa “terlalu kuat”, karena kompetisi dan standar tinggi justru dibutuhkan untuk menjaga kemajuan.

Ia juga mengaitkan gagasan tersebut dengan pengalaman dari olahraga lain yang memiliki figur dominan. “Apakah ketegangan kompetitif menciptakan komersialisasi dan siaran yang lebih besar? Saya paham itu,” ujarnya, sebelum menegaskan bahwa kontribusi PWR memberi ruang bagi banyak pemain untuk datang, berkembang, dan meningkatkan kualitas mereka.

O’Shea kemudian menyinggung contoh atlet-atlet besar seperti Tiger Woods dan Serena Williams. Ia menilai, ketika mereka menjadi standar lewat dominasi, hal itu bukan masalah yang merugikan, melainkan justru momen untuk merayakan teladan yang ditetapkan oleh para juara.