Pendidikan

Lucy Powell: sistem pinjaman pelajar Plan 2 jadi perhatian utama, tarif bunga dinilai “egregious”

×

Lucy Powell: sistem pinjaman pelajar Plan 2 jadi perhatian utama, tarif bunga dinilai “egregious”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Powell says student loan system at top of her in-tray

jurnalistik.co.id – Lucy Powell menegaskan isu pinjaman pelajar, khususnya skema Plan 2, menjadi salah satu prioritas utama yang kini “mengisi kotak masuk” miliknya sebagai sekretaris negara pendidikan terbaru. Ia menilai tarif bunga yang dikenakan kepada lulusan Plan 2 adalah “egregious” dan meminta sistemnya ditinjau agar lebih adil.

Powell mengatakan ia ingin memastikan keberlakuan sistem pinjaman itu benar-benar “fair”. Dalam pernyataannya kepada BBC, ia menyatakan komitmen untuk menelaah persoalan tersebut sambil mengakui bahwa perubahan tidak bisa dipastikan.

Wakil pemimpin Partai Buruh itu menyatakan ia tetap konsisten dengan komentar yang pernah ia sampaikan pada Februari. Saat itu, ia menyebut tarif bunga yang dibayar lulusan Plan 2 adalah “egregious”.

Ia menyebut pemerintah memang telah berkomitmen melakukan peninjauan. Namun, Powell juga menegaskan, “I can’t make any promises” mengenai bentuk dan waktu perubahan yang mungkin terjadi.

Powell menjelaskan latar persoalan yang ia soroti tidak hanya soal kapan seseorang mulai membayar, tetapi juga besaran bunga. Ia menyoroti mekanisme bunga “RPI plus 3%”.

Ia menyampaikan, “I think it’s not just about the threshold of when people start to pay it back, but also the interest rate which is RPI [retail prices index] plus 3%.” Ia menegaskan penilaian itu tidak berubah meski kini menjabat, dengan mengatakan, “I think I’ve called it in the past egregious and I’m not going to change my opinion on that just because I’m now the secretary of state.”

Menurut Powell, pemerintah telah menempatkan peninjauan tersebut dalam prioritas tinggi. “The government has committed to a review of that, it’s very much at the top of my in-tray as the secretary of state, and I want to make sure we look at this so it’s fair for students,” katanya.

Ia menggambarkan dampaknya sebagai “real cost-of-living issue” bagi anak muda. Dalam keterangannya, Powell menekankan bahwa peminjam menghadapi cicilan besar sementara pokok pinjaman tidak secepat yang diharapkan.

Powell menambahkan, “They’re paying high repayments and never, ever paying off the capital of their student loan.” Ia kemudian menyatakan bahwa penelaahan itu tetap akan dilakukan, meski dengan batasan yang sama terkait kepastian kebijakan.

Ketika ditanya apakah ini sesuatu yang akan ia telaah, Powell menjawab, “Yes. I can’t make any promises, but it needs looking at.”

Powell juga menjelaskan kedekatannya dengan persoalan ini. Ia menyatakan bahwa ia “very familiar” dengan isu tersebut karena anak sulungnya memiliki pinjaman Plan 2.

Gambaran kebijakan Plan 2 juga berada dalam sorotan karena sejumlah keputusan pemerintah sebelumnya. Plan 2 diambil mahasiswa di Inggris sejak September 2012 hingga Juli 2023, dan skema ini masih diterbitkan di Wales.

Dalam mekanismenya, para lulusan membayar kembali saat penghasilan mereka berada di atas ambang pembayaran (repayment threshold), dengan tingkat pembayaran sebesar 9%. Pada November tahun lalu, mantan kanselir Rachel Reeves mengumumkan ambang pembayaran untuk pemegang Plan 2 akan dibekukan di angka £29,385 pada periode 2027 hingga 2030, alih-alih mengikuti inflasi.

Powell merujuk pada dampak yang dikhawatirkan dari pembekuan tersebut, yaitu pembayaran mulai dilakukan lebih cepat dibanding skenario tanpa pembekuan. Seiring gaji yang meningkat, jumlah pembayaran yang harus ditunaikan juga berpotensi makin besar, dan keputusan itu kemudian memicu seruan agar kebijakan tersebut dibalik.

Reeves sebelumnya juga menyatakan langkah-langkah pemerintah “fair and proportionate” untuk menyeimbangkan “the balance right between tax and spending”.

Selain pembekuan ambang pembayaran, ada pula kebijakan lain terkait bunga. Pada April, pemerintah mengatakan bunga untuk sebagian pinjaman pelajar di Inggris—termasuk Plan 2—akan dicap (capped) sebesar 6%.

Di tingkat parlemen, Powell menyampaikan sorotan yang lebih luas mengenai cara pemerintah membandingkan skema pembayaran pinjaman. Anggota parlemen dari Treasury Committee pada bulan ini menyebut perbandingan cicilan pinjaman pelajar dengan kontrak telepon atau tiket bioskop sebagai “amounted to mis-selling”.

Sorotan itu muncul setelah investigasi BBC menemukan bahwa pemerintah pernah membandingkan pembayaran pinjaman pelajar dengan kontrak telepon seharga £30 per bulan dalam presentasi promosi kepada remaja satu dekade lalu.

Sementara itu, pemimpin Konservatif Kemi Badenoch juga pernah menyatakan akan memotong tarif bunga untuk pinjaman Plan 2. Ia mengatakan bunga akan dibatasi sebatas RPI saja, dan saat ini RPI berada di tingkat 3%.

Dengan penegasan terbaru tersebut, Powell menempatkan tinjauan sistem Plan 2 sebagai agenda yang “needs looking at”. Ia mengulang bahwa tujuannya bukan sekadar mengubah kapan pembayaran dimulai, melainkan juga menilai secara menyeluruh tingkat bunga yang dikenakan agar skema tersebut bisa dipandang lebih adil bagi mahasiswa.