Peristiwa

Tiga SD di Aceh Timur Rusak Banjir, Pemerintah Siapkan Ruang Kelas Darurat

×

Tiga SD di Aceh Timur Rusak Banjir, Pemerintah Siapkan Ruang Kelas Darurat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 SD Hancur Terdampak Banjir di Aceh Timur, Pemerintah Disiapkan Ruang Darurat

jurnalistik.co.id – Untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan setelah banjir besar pada 26 November 2025, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur menyiapkan ruangan kelas darurat bagi tiga sekolah dasar yang mengalami kerusakan. Langkah ini diarahkan agar kegiatan sekolah memasuki tahun ajaran baru tetap bisa berjalan pada 17 Juli 2026.

Selama persiapan belum rampung, sekolah-sekolah tersebut sebelumnya menggunakan tenda dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI untuk kegiatan belajar dan mengajar. Rencana pengalihan ke ruangan darurat menjadi bagian dari upaya agar murid tidak perlu menunggu terlalu lama sampai pembangunan sekolah pengganti selesai.

Pembangunan sekolah baru dan persiapan ruang darurat

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Timur, Bustami, menjelaskan bahwa ruangan darurat tengah dikerjakan dengan target agar dapat digunakan ketika libur sekolah selesai pada 17 Juli 2026. “Pengerjaan ruang darurat kita kebut terus, agar anak-anak selesai libur dan tahun ajaran baru dimulai, bisa langsung menempati ruang darurat ini,” katanya.

Menurut Bustami, ruang darurat akan dipakai sampai bangunan sekolah baru yang menjadi pengganti benar-benar selesai dikerjakan. Ia menyebut bahwa anggaran untuk sekolah baru berada pada tahun ini. “Ruang darurat akan digunakan sampai bangunan sekolah barunya selesai dikerjakan. Sekolah baru anggarannya tahun ini,” ujarnya.

Ketiga sekolah yang terdampak dan menjadi fokus penanganan adalah SDN Sarah Gala Kecamatan Pante Bidari, SDN Ranto Payang Rubek Kecamatan Ranto Panjang, serta SDN 2 Lokop Kabupaten Aceh Timur. Dalam dokumentasi penanganan, Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky juga sempat meninjau lokasi pembangunan SD Negeri Sarah Gala, di Desa Sahraja, Kecamatan Pante Bidari, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, pada Rabu (1/7/2026).

Proses penyiapan sekolah baru sempat menghadapi hambatan pada tahap awal, terutama terkait lokasi dan lahan pembangunan. Bustami menyampaikan bahwa sekolah dibangun baru sepenuhnya karena kondisi terdampak banjir pada tahun sebelumnya. Ia menegaskan bahwa keputusan titik pembangunan baru bisa ditentukan setelah ada kesepakatan terkait lahan.

“Awalnya ada perbedaan pandangan antar masyarakat di lokasi untuk menentukan dimana lahan yang akan dibangun sekolah baru itu. Bupati Al-Farlaky juga sudah turun, sehingga sudah ada kesimpulan dimana titik pembangunannya. Kita menunggu surat tanahnya, setelah itu langsung kita bangun,” katanya saat dihubungi Jumat (3/7/2026).

Lebih lanjut, Bustami menyebut pembangunan tiga gedung sekolah tersebut bersumber dari Kemendikdasmen RI. Ia menjelaskan bahwa pengerjaannya dilakukan layaknya pembangunan sekolah baru, sehingga tidak hanya ruang kelas yang dibangun, melainkan juga fasilitas pendukung. “Pembangunannya layaknya pembangunan baru, seluruhnya baru dan lengkap. Mulai dari ruang kelas, kantor guru dan kepala sekolah, toilet dan lain sebagainya. Karena ini namanya pembangunan unit sekolah baru,” ujarnya.

Dengan kombinasi pengerjaan ruang darurat dan kelanjutan pembangunan sekolah baru, pemerintah berupaya menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di Aceh Timur pasca banjir. Targetnya, ketika tahun ajaran baru dimulai pada pertengahan Juli 2026, murid dapat belajar di tempat yang lebih layak sambil menunggu sekolah pengganti selesai dikerjakan secara penuh.

Untuk menjamin kelangsungan belajar mengajar, pengalihan dari tenda sementara terus dipersiapkan secara bertahap. Setelah masa persiapan menuju awal masuk sekolah selesai, pihak dinas menargetkan kegiatan dapat langsung kembali normal di lingkungan yang telah disiapkan, tanpa membuat jadwal belajar terhenti terlalu lama.

Selain percepatan pekerjaan, proses penetapan lahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rencana pemulihan. Melalui koordinasi dengan Bupati dan melibatkan kesepakatan warga, titik pembangunan akhirnya diputuskan setelah ada kepastian mengenai status tanah. Tahapan lanjutan dilakukan segera begitu dokumen yang dibutuhkan tersedia.

Pada akhirnya, rencana ini memadukan pemanfaatan ruang darurat dengan pembangunan unit sekolah pengganti. Dengan konsep pembangunan yang meliputi ruang kelas serta fasilitas penunjang, kegiatan pendidikan diharapkan tetap berjalan dengan kondisi yang lebih nyaman bagi siswa dan tenaga pengajar, sekaligus mempercepat transisi menuju sekolah baru.