jurnalistik.co.id – Setiap akhir pekan, Yoga Pratama menyiapkan puluhan buku yang ia simpan di tas punggungnya. Laki-laki berusia 25 tahun itu tidak mengambil buku dari perpustakaan, melainkan membawa koleksi pribadinya yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Ia tinggal di Jalan Cenget, RT 17, RW 08, Sido Binangun, Way Seputih, Lampung Tengah. Setelah memuat buku-buku tersebut, Yoga menempuh perjalanan sekitar satu jam menuju Bandar Jaya untuk membuka lapak baca di ruang-ruang publik.
Sesampainya di lokasi, Yoga membentangkan tikar hitam di taman atau sudut kafe. Buku-buku kemudian disusun satu per satu tanpa perangkat penunjang yang lazim ditemui di ruang baca modern.
Tidak ada rak kayu, tidak ada ruangan berpendingin udara, dan tidak diperlukan kartu anggota untuk ikut mendekat pada koleksi yang dipajang. Melalui cara yang sederhana itu, sebuah gerakan literasi bernama Kampung Seni Lampung Tengah lahir.
Yoga menyebut gagasan itu berangkat dari kegelisahannya melihat kondisi literasi di daerahnya. “Awalnya kami melihat indeks literasi masyarakat Lampung Tengah termasuk yang terendah. Padahal Lampung Tengah ini kabupaten tua, secara infrastruktur dan jumlah penduduk seharusnya bisa lebih baik,” kata Yoga.
Bagi Yoga, kebiasaan membawa buku dan menggelar lapak baca bukan aktivitas sambilan semata. Ia merupakan sarjana Hubungan Internasional, alumnus Universitas Wahid Hasyim Semarang, dan lulus pada 2023.
Bersama dua rekan sesama kreator konten, Yoga memulai gerakan itu pada 14 April 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Buku Sedunia.
Pada penyelenggaraan pertama, Kampung Seni Lampung Tengah menggandeng komunitas Sobat Bermain. Komunitas itu memiliki pendekatan yang mengajak anak-anak dan generasi muda kembali memainkan permainan tradisional.
Berita Terkait
Namun, pada kegiatan perdana, antusiasme publik belum langsung muncul. Yoga mengungkapkan, “Yang datang waktu itu ya teman-teman Sobat Bermain saja. Mungkin sekitar 10 orang.”
Meskipun pengunjung yang hadir terbatas, mereka tetap mendokumentasikan kegiatan dan mengunggahnya ke media sosial. Dari unggahan yang sederhana itu, mereka kemudian melihat respons yang memberi harapan.
Dua pekan setelah pelaksanaan pertama, lapak baca kembali digelar. Kali ini, situasinya berbeda: puluhan anak muda berdatangan untuk melihat, membaca, sekaligus berinteraksi dengan koleksi yang dipajang.
Wajah-wajah baru itu datang dari berbagai wilayah di Lampung. Sejumlah peserta datang dari Bandar Lampung, Kotabumi, Kalirejo, hingga Padang Ratu, termasuk dari pelosok Lampung Tengah.
Dengan pengaturan yang tetap mengutamakan buku dan ruang yang terbuka, Yoga dan tim terus memegang prinsip yang mereka bangun sejak awal. Meski tanpa fasilitas rumit, lapak baca yang berpindah-pindah mampu menciptakan titik temu antara koleksi bacaan dan minat masyarakat.
Perjalanan Kampung Seni Lampung Tengah, dari kegiatan perdana yang nyaris sepi hingga pertemuan berikutnya yang lebih ramai, memperlihatkan bahwa minat baca bisa tumbuh ketika akses dibuat dekat dengan keseharian. Bagi Yoga, buku-buku dalam tas punggungnya menjadi cara untuk memancing rasa ingin tahu, sekaligus memberi ruang agar orang lain ikut menemukan bacaan yang bisa mereka bawa pulang dalam bentuk pengalaman.
Dalam setiap pertemuan, fokus mereka tetap pada interaksi yang sederhana. Buku-buku diletakkan sedemikian rupa agar pengunjung bisa memilih sendiri, mendekat tanpa prosedur, dan membaca langsung di ruang terbuka yang tersedia di sekitar mereka.
Yoga dan tim juga memanfaatkan dokumentasi dari kegiatan sebelumnya sebagai bahan evaluasi. Dari catatan yang mereka unggah, mereka bisa melihat perubahan minat dari waktu ke waktu, sekaligus memahami bahwa cerita tentang lapak baca dapat menjangkau orang-orang yang belum pernah hadir.
Ketika agenda yang digelar berulang, efeknya terasa: dari awal yang didatangi sekitar satu komunitas, jumlah peserta kemudian melebar hingga melibatkan puluhan anak muda dari berbagai daerah di Lampung. Perkembangan itu memperkuat gagasan bahwa literasi bisa dibangun lewat pendekatan yang dekat, tidak menuntut fasilitas rumit, dan memberi kesempatan masyarakat menemukan bacaan sesuai minat mereka.












