jurnalistik.co.id – Puluhan orang tua siswa SMA Negeri 2 Limboto, Kamis (18/6/2026), membawa pulang bibit cabai dan tomat hasil Aksi Kokurikuler Ketahanan Pangan. Penyerahan tersebut diapresiasi Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie.
Dalam kegiatan itu, Idah menyerahkan bantuan bibit cabe dan tomat kepada perwakilan orang tua siswa. Bibit yang telah tumbuh dan mulai berbuah disiapkan sebagai bagian dari program ketahanan pangan sekolah.
Setiap orang tua siswa menerima masing-masing dua pohon tomat dan dua pohon cabai. Bantuan tersebut merupakan hasil budidaya para siswa melalui program ketahanan pangan sekolah, yang kemudian ditindaklanjuti dengan pengasuhan di lingkungan keluarga.
Idah mengatakan, bentuk bantuan yang diserahkan bukan sekadar tanaman baru yang baru ditanam. Ia menilai kondisi bibit yang sudah berkembang dan mulai berbuah akan memudahkan orang tua dalam merawat agar tetap produktif.
“Saya sangat bersyukur karena bibit yang diserahkan hari ini bukan lagi tanaman yang baru ditanam, tetapi sudah tumbuh dengan baik dan bahkan mulai berbuah. Ini tentu akan memudahkan para orang tua karena tinggal merawat dan memeliharanya agar terus produktif. Semoga hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari,” ujar Idah.
Menurut Idah, pemanfaatan lahan pekarangan meskipun terbatas dapat menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan dapur rumah tangga. Ia memandang, praktik sederhana ini dapat membantu keluarga membangun kebiasaan produktif yang berkelanjutan.
Ia juga menekankan bahwa informasi mengenai perawatan tanaman saat ini mudah diperoleh melalui berbagai media. Dengan demikian, orang tua yang terlibat dalam perawatan bibit yang diterima dapat terus mengembangkan keterampilan bercocok tanam.
Di sisi lain, Idah menyoroti adanya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam membangun budaya produktif di masyarakat. Keterlibatan orang tua dalam menerima dan merawat hasil budidaya siswa dinilai menjadi penguatan nyata dari program yang dijalankan.
“Keterlibatan orang tua dalam menerima dan merawat hasil budidaya siswa menjadi bentuk kolaborasi yang baik antara sekolah dan keluarga dalam membangun budaya produktif di masyarakat. Saya berharap semakin banyak sekolah yang mengembangkan kegiatan serupa sebagai bagian dari pembelajaran sekaligus penguatan ketahanan pangan keluarga,” paparnya.
Idah berharap, kegiatan seperti Aksi Kokurikuler Ketahanan Pangan dapat terus berkembang di sekolah lain. Dengan model yang melibatkan keluarga, pembelajaran tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi diteruskan dalam aktivitas perawatan di rumah.
Program yang berjalan di SMA Negeri 2 Limboto juga menunjukkan bahwa hasil budidaya siswa dapat langsung ditransfer menjadi manfaat bagi keluarga. Bibit yang tumbuh dan mulai berbuah memberi sinyal bahwa proses pembelajaran telah menghasilkan tahap yang siap dirawat agar tetap produktif.
Diketahui, bantuan bibit tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo. Dinas tersebut telah mendistribusikan sekitar 900 bibit ke sekolah-sekolah di Kabupaten Gorontalo, dengan rincian 450 bibit tomat dan 450 bibit cabai.
Distribusi bibit dalam jumlah itu memperlihatkan skala dukungan terhadap program ketahanan pangan di tingkat sekolah. Melalui pembelajaran budidaya, siswa tidak hanya belajar secara praktik, tetapi juga menghasilkan produk yang kemudian dilanjutkan perawatannya oleh orang tua.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program ketahanan pangan yang dijalankan di sekolah diarahkan untuk memperkuat ketahanan keluarga. Aktivitas merawat bibit di pekarangan rumah tangga juga diharapkan dapat menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan melibatkan orang tua secara langsung, program ini mendorong terbangunnya kesadaran bahwa kemandirian pangan dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Apresiasi yang disampaikan Idah dalam kesempatan penyerahan di SMA Negeri 2 Limboto menegaskan pentingnya kolaborasi yang saling menguatkan antara sekolah dan rumah.
Di akhir sesi, penyerahan bibit menjadi penanda bahwa hasil program bukan berhenti sebagai kegiatan kelas. Bibit cabai dan tomat yang diterima orang tua menjadi langkah lanjutan untuk dirawat, dipelihara, dan dimanfaatkan bagi kebutuhan keluarga sesuai arahan Idah.












