Hukum & Kriminal

Rekayasa Video Korban Begal untuk Konten, Remaja Pekalongan Berujung Dibina Polisi

×

Rekayasa Video Korban Begal untuk Konten, Remaja Pekalongan Berujung Dibina Polisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Remaja Pekalongan Rekayasa Jadi Korban Begal demi Konten, Berujung Dibina Polisi

jurnalistik.co.id – Video seorang remaja di Kabupaten Pekalongan yang sempat viral di media sosial memperlihatkan seolah-olah dirinya menjadi korban pembegalan bersenjata tajam. Namun, setelah dilakukan penyelidikan, polisi memastikan rekaman tersebut merupakan rekayasa.

Dalam pengakuannya, remaja berinisial BW (17), warga Kecamatan Doro, menyatakan video berdurasi 1 menit 1 detik itu sengaja dibuat untuk konten. Ia mengaku ingin terlihat keren di hadapan teman-temannya, bukan menggambarkan peristiwa kriminal yang benar-benar terjadi.

BW menyampaikan pengakuan tersebut pada Selasa (4/8/2026). Ia mengatakan, “Saya khilaf, Pak. Cuma buat konten doang, buat keren-kerenan. Nggak ngira kalau viral seperti ini,” ujar BW, dikutip dari Tribun Jateng.

Video dibuat pada malam sebelumnya

Menurut BW, video tersebut dibuat pada Sabtu (1/8/2026) malam. Di dalam rekaman, ia menarasikan seolah menjadi korban pembegalan di wilayah Kecamatan Doro hingga mengalami luka serius.

Setelah proses pembuatan selesai, BW mengunggah video itu ke status WhatsApp. Ia menyebut unggahan tersebut hanya bertahan sekitar lima menit sebelum akhirnya dihapus.

BW menjelaskan, “Saya upload cuma lima menit, habis itu saya hapus. Tapi ternyata sudah sempat tersebar dan viral pada Minggu (2/8/2026),” katanya.

Meski telah dihapus, BW mengungkapkan video itu terlanjur tersimpan di sejumlah perangkat milik teman-temannya. Dari sana, rekaman kemudian menyebar ke berbagai platform media sosial, termasuk Facebook dan Instagram.

Respon warga dan penyelidikan polisi

Rekaman yang beredar luas membuat banyak orang khawatir karena tampak seolah menggambarkan aksi kriminal yang benar-benar terjadi. Warga ikut resah lantaran isi video dianggap menunjukkan peristiwa pembegalan di lokasi yang disebut dalam rekaman.

Menindaklanjuti keresahan tersebut, Polres Pekalongan melakukan penyelidikan. Polisi mendatangi lokasi yang disebut dalam video, sekaligus memeriksa pihak yang berperan sebagai pembuat konten.

Dari hasil pemeriksaan, polisi memastikan tidak pernah terjadi aksi pembegalan seperti yang ditampilkan dalam rekaman. Dengan kata lain, video yang viral tidak merefleksikan kejadian di lapangan, melainkan hasil rekayasa untuk kebutuhan konten.

Bukan bagian kelompok tertentu

BW juga menegaskan bahwa pembuatan video itu merupakan inisiatif pribadi. Ia menyatakan tidak ada kaitan dengan kelompok tertentu, termasuk isu gangster yang sempat beredar di media sosial.

Pengakuan BW sekaligus menjadi penjelasan atas mengapa peristiwa yang tergambar dalam video tidak ditemukan pada saat dilakukan penelusuran. Polisi menilai penyebaran rekaman yang sempat singgah di berbagai platform berawal dari unggahan awal BW yang kemudian tersalin oleh orang lain sebelum akhirnya dihapus.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana konten yang awalnya dimaksudkan untuk tampilan hiburan dapat berujung pada kegaduhan ketika dianggap menggambarkan tindakan kriminal nyata. Viralitas yang cepat membuat informasi ikut menyebar lebih luas, sementara koreksi atas status rekayasa baru muncul setelah polisi memastikan fakta di lapangan.

Hingga proses penyelidikan rampung, polisi memfokuskan penelusuran pada kesesuaian antara narasi dalam video dan kenyataan kejadian. Hasilnya, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa tindakan pembegalan sebagaimana tertulis dalam rekaman tidak berlangsung, sehingga konten tersebut termasuk rekayasa.

Dengan demikian, BW harus berurusan dengan polisi setelah video rekayasa itu menarik perhatian publik. Ke depan, kasus ini menjadi pengingat agar pembuatan dan penyebaran konten tidak mengabaikan dampak sosial, terutama ketika sebuah rekaman dapat menimbulkan dugaan tindakan kriminal di masyarakat.

Selain menimbulkan kepanikan, beredarnya rekaman tersebut juga menunjukkan betapa cepat persebaran konten bisa terjadi ketika sebuah unggahan awal sudah disalin oleh orang lain. Perubahan konteks dari hiburan menjadi dugaan kriminal akhirnya baru dipahami setelah penelusuran pihak berwajib.

Dalam kasus ini, polisi menilai kesesuaian cerita yang ditampilkan di dalam video dengan kejadian di lapangan. Setelah diperiksa, pihak kepolisian menyimpulkan bahwa narasi pembegalan yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang ditemukan, sehingga rekaman itu dikategorikan sebagai rekayasa untuk konten.

Pengakuan BW juga menegaskan bahwa tujuan awalnya hanya untuk menampilkan diri secara “keren” di hadapan teman-teman. Namun, ketika unggahan yang dimaksud singkat dihapus dari WhatsApp, jejaknya tetap berlanjut lewat perangkat milik teman, dan dari situ video kembali menyebar ke media sosial.