jurnalistik.co.id – Seorang pendaki asal Jambi, R Najwarty Mulya Harahap, mengalami hipotermia saat mendaki Gunung Merbabu melalui Jalur Suwanting di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada Selasa (16/6/2026). Penanganan darurat kemudian dilakukan menggunakan Shelter Emergency yang baru dioperasikan di Pos 3 jalur tersebut.
Korban pada awalnya melakukan pendakian bersama tiga rekannya. Namun, saat rombongan bergerak menuju bagian yang lebih tinggi, kondisi tubuhnya mulai menurun hingga akhirnya tidak mampu melanjutkan perjalanan secara normal.
Tanda-tanda gangguan kesehatan mulai muncul ketika rombongan tiba di Pos 2 pada Selasa sekitar pukul 15.00 WIB. Pada saat itu, pendaki mengeluhkan rasa mual, pusing, dan sempat mengalami beberapa kali muntah.
Kondisinya terus melemah, sehingga laju perjalanan menjadi terhambat. Dalam perjalanan menuju Pos 3, ia bahkan harus dibantu pendaki lain yang membawakan tas ranselnya.
Memasuki malam sekitar pukul 20.00 WIB, kondisi korban dilaporkan semakin memburuk. Tubuhnya menggigil hebat sebagai gejala awal hipotermia akibat suhu dingin di kawasan pegunungan.
Mengetahui kondisi tersebut, rekan satu rombongan bersama pendaki lain di jalur tersebut langsung melakukan pertolongan darurat. Upaya itu dilakukan dengan menggunakan emergency blanket dan mendirikan tenda sementara untuk membantu penanganan awal di lapangan.
Selain memberikan pertolongan langsung, mereka juga menghubungi pihak basecamp untuk meminta bantuan evakuasi. Langkah koordinasi tersebut dilakukan sebagai bagian dari respons cepat ketika kondisi korban terus memburuk.
Setelah laporan diterima, petugas dan porter di sekitar Pos 3 segera bergerak menuju lokasi kejadian. Korban kemudian dievakuasi menuju Shelter Emergency Pos 3 Jalur Suwanting agar dapat memperoleh penanganan lebih lanjut.
Di shelter tersebut, pendaki segera diberikan pertolongan pertama. Penanganan mencakup pemberian makanan dan minuman hangat untuk membantu menstabilkan kondisi tubuhnya yang menurun karena paparan suhu dingin.
Kira-kira satu jam setelah penanganan, kondisi korban mulai menunjukkan perbaikan. Suhu tubuhnya dilaporkan kembali normal, dan ia dinyatakan stabil oleh petugas.
Penjelasan petugas di lokasi
Kepala SPTN Wilayah II Balai TN Gunung Merbabu, Tri Wiyanto, menjelaskan bahwa tanda gangguan kesehatan mulai terlihat sejak rombongan tiba di Pos 2 sekitar pukul 15.00 WIB. Menurutnya, eskalasi kondisi kemudian terjadi hingga memasuki malam, saat korban menggigil hebat.
Tri juga menyampaikan bahwa Shelter Emergency di Jalur Suwanting dirancang sebagai fasilitas mitigasi risiko. Ia menegaskan fasilitas itu disiapkan untuk penanganan awal kondisi darurat di jalur pendakian.
âShelter Emergency yang telah kami operasikan di Jalur Suwanting dirancang sebagai fasilitas mitigasi risiko dan penanganan awal kondisi darurat di jalur pendakian,â ucap Tri. Ia menilai kejadian ini menunjukkan manfaat fasilitas tersebut saat pendaki membutuhkan pertolongan cepat di lapangan.
Tri menambahkan, keberadaan shelter memberi dampak langsung dalam situasi darurat seperti yang dialami pendaki asal Jambi tersebut. Ia berharap keberadaan fasilitas ini dapat semakin memperkuat upaya bersama untuk mewujudkan pendakian yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab.
Dengan rangkaian pertolongan yang dilakukan sejak gejala awal muncul, evakuasi ke Shelter Emergency di Pos 3, hingga penstabilan kondisi korban melalui makanan dan minuman hangat, penanganan di lapangan berlangsung secara bertahap. Hasil akhirnya, korban dinyatakan stabil setelah suhu tubuhnya kembali normal.
Kronologi ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan ketika pendaki menghadapi kondisi cuaca yang dingin di kawasan pegunungan. Shelter Emergency yang berfungsi sebagai tempat penanganan awal darurat menjadi salah satu faktor yang membantu mempercepat respons terhadap kondisi hipotermia di jalur tersebut.









