jurnalistik.co.id – Musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang akibat pengaruh El Nino mulai terasa dampaknya di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di Dusun Talgapung, Kalurahan Girikarto, Kapanewon Panggang, warga kembali menaksir sisa cadangan air di bak penampungan sambil menunggu hujan yang belum datang.
Ketika waktu kemarau memanjang, perhitungan yang biasanya dilakukan rutin menjadi semakin mendesak. Kondisi ini membuat warga harus memikirkan cara agar kebutuhan air sehari-hari tetap bisa terpenuhi sampai hujan kembali turun.
Ketua RT Dusun Talgapung Heri mengatakan kekeringan sudah menjadi persoalan yang berulang hampir setiap tahun. Menurut dia, upaya mempertahankan cadangan air membuat warga terdorong untuk menghemat penggunaan air bersih, mulai dari kegiatan mandi hingga mencuci pakaian.
Heri menuturkan warga akan mengandalkan penghematan selama persediaan masih ada. Namun bila cadangan habis, mereka umumnya mengajukan bantuan air bersih, dan menunggu distribusi tersebut sampai tersedia.
“Kami memang benar-benar kesulitan mendapatkan air bersih. Warga harus menghemat penggunaan air. Kalau persediaan habis, kami biasanya mengajukan bantuan air bersih. Jika bantuan belum datang, kami hanya mengandalkan air tadah hujan yang jumlahnya sangat terbatas,” kata Heri dalam rilisnya, Jumat (24/7/2026).
Berdasarkan informasi yang disampaikan, sebagian besar warga di wilayah itu memiliki penampungan air hujan (PAH). PAH tersebut telah dimiliki hampir setiap rumah sejak dekade 1980-an, dengan bak berdiameter sekitar 2,5 meter yang difungsikan sebagai cadangan selama musim kemarau.
Hanya saja, ketika cadangan dalam bak sudah tidak mencukupi, warga tidak punya banyak pilihan. Mereka terpaksa membeli air bersih agar kebutuhan rumah tangga tetap berjalan.
Air bersih yang dibeli biasanya menggunakan tangki dengan kapasitas sekitar 5.000 liter. Satu tangki dijual seharga Rp 170.000 dan, menurut pola pemakaian yang umum, rata-rata hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga selama dua pekan.
Berita Terkait
- Bupati Purworejo Apresiasi Yan Budi Nugroho: Pendamping Puluhan Anak Yatim hingga Warung Sembako Gratis 8 Tahun
- Groundbreaking BRT Cekungan Bandung Dimulai, Brantas Abipraya Lewat KSO Abipraya–SBS jadi Kontraktor
- Bali Tutup Izin PMA di 18 Bidang Usaha, Wayan Koster Soroti Penyalahgunaan OSS untuk Sektor UMKM
Dari perhitungan tersebut, biaya yang harus disiapkan rumah tangga menjadi semakin berat. Setidaknya setiap keluarga perlu mengeluarkan sekitar Rp 340.000 setiap bulan khusus untuk mendapatkan air bersih.
Bantuan didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan harian Melihat kondisi tersebut, Rumah Amal Salman Yogyakarta bersama Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Yogyakarta menyalurkan bantuan air bersih kepada warga yang terdampak kekeringan. Bantuan yang disiapkan berupa distribusi 30 truk tangki air.
Saat kedatangan armada, warga menyambut dengan menyalurkan air langsung ke bak penampungan. Dengan cara itu, air yang masuk dapat segera menjadi cadangan untuk digunakan selama musim kemarau.
Koordinator Rumah Amal Salman Yogyakarta Aroda Fitrah Sukoco menyebut distribusi dilakukan sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan masyarakat. Ia juga menekankan program kolaborasi ini berjalan dengan pendampingan, bukan sekadar penyaluran sekali waktu.
“Program kolaborasi ini sudah berjalan sejak 2025. Rumah Amal bersama IA ITB Yogyakarta terus mendampingi masyarakat dalam upaya penyediaan air bersih,” kata Aroda.
Perlu solusi jangka panjang melalui infrastruktur Ketua IA ITB Yogyakarta, Warih Mahamboro, menilai distribusi air bersih hanya dapat menjadi solusi darurat. Kekeringan yang terus berulang, menurutnya, membutuhkan penanganan yang lebih berkelanjutan agar akses air bersih tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan.
Warih mengatakan daerah tersebut mengalami kekeringan hampir setiap tahun. Ia menilai penyaluran air bersih memang membantu kebutuhan mendesak, tetapi arah penanganan perlu diperluas melalui pembangunan infrastruktur yang sesuai karakter wilayah.
“Daerah ini mengalami kekeringan hampir setiap tahun. Penyaluran air bersih tentu membantu kebutuhan mendesak warga, tetapi persoalan akses air bersih membutuhkan penanganan yang lebih berkelanjutan melalui pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan karakter wilayah,” ujar Warih.
Dengan kondisi seperti itu, warga berharap bantuan dapat terus tersedia saat cadangan air di bak penampungan mulai menipis. Pada saat yang sama, mereka juga memerlukan langkah penyelesaian jangka panjang agar keberlanjutan akses air bersih bisa terjaga meski kemarau datang lebih lama.












