jurnalistik.co.id – Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol dan Argentina di MetLife Stadium, New Jersey, akan diwarnai pertunjukan musik pada jeda babak—sebuah format yang untuk pertama kalinya hadir dalam turnamen ini.
Menurut pengumuman, jeda tersebut akan berlangsung hingga 25 menit, lebih lama dari batas yang biasanya diacu untuk penghentian permainan. Hal ini langsung memunculkan perdebatan di kalangan penggemar dan pihak olahraga.
Jeda hingga 25 menit memicu pro-kontra
Pada malam Minggu, penonton akan menyaksikan penampilan dari Madonna, Shakira, BTS, dan Justin Bieber. FIFA menggambarkan acara itu sebagai “landmark celebration at the intersection of sport, music and global impact”.
Namun, kontroversi muncul karena durasi istirahat yang bisa mencapai 25 menit itu dinilai menabrak ketentuan yang menyebut pemain berhak atas penghentian maksimal 15 menit. Dalam pandangan sejumlah pengamat, perpanjangan jeda seperti itu berpotensi mengganggu ritme pertandingan dan memberi dampak pada aspek kebugaran pemain.
Penayangan televisi dan tradisi jeda yang berubah
FIFA juga memastikan gelaran tersebut akan menjadi bagian dari paket acara Piala Dunia yang ditonton luas. Diharapkan BBC dan ITV akan menyiarkan pertunjukan secara lengkap, sementara di sela proses pemasangan dan pembongkaran panggung, siaran akan diisi dengan sesi analisis dari komentator/pakar.
Rangkaian ini tidak hadir tanpa preseden. Pada final Piala Dunia Antarklub tahun lalu yang juga digelar di New Jersey dan ditata oleh FIFA, jeda babak berlangsung 24 menit dan dimeriahkan musik langsung dari Coldplay, J Balvin, Doja Cat, dan Tems.
Betty Glover—penyiar olahraga yang selama sebulan terakhir meliput Piala Dunia di Amerika Serikat—menyebut upaya untuk menarik penonton lokal berpengaruh pada cara acara dipaketkan. Ia mengatakan, “There’s a battle to get more Americans involved and fall in love with this game – it’s obviously not their main sport, but when you’re walking around speaking to people, more are getting on board with it.”
Glover menilai perubahan ini selaras dengan dinamika audiens, meski ia juga menggarisbawahi bahwa format hiburan harus ditempatkan secara hati-hati agar tidak mengorbankan esensi pertandingan.
Alasan industri: tuntutan penonton dan suasana laga final
James Massing, dari tim Live Nation yang bertanggung jawab atas pertunjukan jeda final, menyatakan harapan penonton terhadap acara besar semakin meningkat. Ia menjelaskan, “expectation from fans has heightened” ketika sebuah acara berkelas diselenggarakan.
Menurut Massing, industri olahraga perlu berinovasi karena kompetisinya bukan hanya dengan pertandingan lain, melainkan pengalaman hiburan langsung lain. Ia menilai dirinya perlu bersaing dengan aktivitas seperti “going to the museum, going to the theatre, going to the cinema”.
Dalam pandangannya, penambahan penampilan musik membuat final terasa lebih “final”. Massing menambahkan, “a final feel like a final”. Ia juga membandingkan pengalaman ketika menonton The Killers tampil menjelang final Liga Champions UEFA antara Arsenal dan Paris Saint-Germain pada bulan Mei; menurutnya, “you felt the energy in the stadium peak”.
Massing juga menegaskan integritas olahraga tidak boleh ditawar. Ia menyatakan, “there is no compromise when it comes to the integrity of the sport” dan menambahkan bahwa “player welfare is absolutely fundamental” saat merancang pertunjukan jeda.
Dari Super Bowl hingga Piala Dunia: tren global dan kekhawatiran domestik
Kerangka diskusi ini juga dihubungkan dengan kebiasaan di kompetisi olahraga lain. Massing mengingatkan bahwa sejumlah liga telah lebih dulu mengintegrasikan hiburan musik dalam jeda. Misalnya, Super Bowl di Amerika Serikat sudah menghadirkan pertunjukan jeda sejak 1967.
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa di Inggris dan Eropa, penerapannya lebih lambat. Champions League, misalnya, baru mulai memunculkan pertunjukan musik sekitar sepuluh tahun terakhir, sedangkan Formula 1 di Grand Prix Inggris menambah musik ke penawaran di Silverstone tiga tahun lalu.
Di sisi lain, perkembangan olahraga global turut mendorong format acara menjadi lebih seragam. Massing menilai, “What is starting to happen is a lot of sports are becoming more global.” Ketika itu terjadi, menurutnya, fokus bergeser untuk membuat suatu peristiwa menjadi “an occasion and a moment rather than a game”.
Namun, gagasan tersebut tidak diterima semua pihak. Ellis Platten—pencipta konten sepak bola asal Inggris—mengaku tidak menyukai sejumlah inisiatif pada Piala Dunia tahun ini, termasuk pertunjukan jeda dan jeda hidrasi.
Ia menjelaskan jeda hidrasi terjadi pada menit ke-22 pada setiap babak dan pernah digunakan untuk menampilkan iklan di beberapa jaringan televisi AS. Platten mengatakan, “I get that it’s the World Cup final, but it’s the most-watched event in the world already and I don’t think you need to add these things to it.”
Ia juga menambahkan kekhawatiran soal suasana di stadion. “Being a football fan in a stadium, by the end of half time people are quite restless.” Platten, 28 tahun, mengatakan selama sebulan terakhir ia berkeliling negara tuan rumah untuk menyaksikan pertandingan Piala Dunia, dan menyatakan rasa ingin tahu tentang bagaimana pertunjukan jeda memengaruhi jalannya permainan secara lebih luas: “curious to see how the half-time show affects the game in general”.
Isu keselamatan pemain dan prioritas bintang
Platten merujuk pada penolakan IFAB terhadap rencana memperpanjang jeda babak di luar 15 menit. Menurutnya, alasan penolakan sebelumnya mencakup kekhawatiran keselamatan pemain dan kemungkinan cedera setelah periode tidak aktif yang lebih lama.
Ia mengatakan, “You’d almost have to make a sub at half time because of player welfare.” Ia juga menilai komunikasi pihak penyelenggara lebih menonjolkan sisi selebritas ketimbang konsekuensi teknis. Platten menambahkan, “They’re not thinking about that, they’re just thinking ‘oh we can have Justin Bieber on stage’ but Messi’s in a World Cup final – I think he’s slightly more important.”
Glover menguatkan sikapnya dengan menilai sepak bola tidak selalu membutuhkan jeda hiburan. Ia menyatakan, “I’m not sure football needs” pertunjukan jeda, serta menilai liputan musim ini terasa sangat “Amerikan”. Menurutnya, ia menonton liputan di AS yang “you’ve got so many adverts, they barely do any analysis”.
Kurasi penampilan dan klaim dukungan dana pendidikan
Faktor susunan acara juga menjadi bagian penting dari diskusi. Chris Martin dari Coldplay disebut sebagai kurator pertunjukan final Piala Dunia, dan penampilan Burna Boy akan menjadi bagian dari rangkaian tersebut.
Menurut FIFA, para penampil tidak dibayar, tetapi acara ini akan mengumpulkan dana untuk sebuah education fund. FIFA juga menempatkan Piala Dunia sebagai panggung yang menonjolkan keterlibatan selebritas di berbagai momen, mulai dari menyerahkan bola pertandingan hingga melambaikan tangan kepada kamera setelah tampil di layar besar.
Akankah ide ini menular ke turnamen lain?
Platten menyatakan kekhawatirannya: jika FIFA mengadopsi format itu, jeda hiburan bisa ikut menjadi bagian dari kompetisi sepak bola domestik. Ia memandang hal tersebut tidak perlu.
Glover tidak yakin apakah konsep itu akan benar-benar populer. Ia menyebut ia “can’t imagine this happening in Spain, Portugal and Morocco for the next World Cup”.
Meski demikian, Glover tetap memberi penilaian bersyarat. Ia menilai, “If entertainment attracts new fans without compromising the football itself then it is a positive thing.”
Dengan final yang berlangsung pada 25 menit jeda dan menampilkan empat nama besar dunia di panggung yang disiapkan di MetLife Stadium, perdebatan soal batas waktu, keselamatan pemain, dan integritas kompetisi tampaknya akan menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita Piala Dunia 2026—bahkan sebelum pertandingan usai.












