Peristiwa

Polisi Pastikan Siswa SMP Kutai Timur Tewas Kena Dodos Sawit, Bukan Korban Begal

×

Polisi Pastikan Siswa SMP Kutai Timur Tewas Kena Dodos Sawit, Bukan Korban Begal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bukan Korban Begal, Pelajar SMP di Kutai Timur Meninggal Akibat Dodos Sawit

jurnalistik.co.id – Polisi memastikan kematian BE (15), pelajar SMP di Kutai Timur, bukan akibat begal sebagaimana sempat beredar. Setelah penyelidikan, aparat menyimpulkan korban meninggal karena terkena dodos milik seorang petani berinisial S saat keduanya melintas di jalan yang sama.

Peristiwa itu terjadi di tepi Jalan Loging, Desa Tanjung, Kecamatan Rantau Pulung, Kutai Timur, pada Jumat (17/7/2026) siang. Saat kejadian, korban disebut berada di samping sepeda motornya dengan kondisi luka yang mengakibatkan banyak darah.

Kasus ini berawal dari laporan warga kepada Polsek Rantau Pulung. Warga melapor sekitar pukul 14.30 WITA bahwa ada anak terkapar bersimbah darah di samping sepeda motor yang masih menyala.

Mendapat laporan tersebut, Kapolsek Rantau Pulung, IPTU Samuel Tarihora, menjelaskan personel langsung menuju lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari pemeriksaan awal, ditemukan luka robek menganga pada bagian leher korban akibat senjata tajam, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi yang diterima pada Minggu (19/7/2026).

Dalam proses selanjutnya, petugas gabungan melakukan olah TKP ulang dan memeriksa sejumlah saksi. Selain itu, aparat menelusuri rekaman kamera pengawas (CCTV) di sepanjang rute yang relevan dengan kejadian untuk menyusun kembali kronologi di lapangan.

Berdasarkan petunjuk yang terkumpul, polisi kemudian mengarah pada tersangka berinisial S. Dari keterangan saksi, S melintas di Jalan Loging menggunakan sepeda motor dengan memikul dodos di bahu kirinya dan membawa angkong (kerongkongan/troli semen).

Ujung dodos berbentuk mata tombak lebar dan tajam dibawa dalam kondisi terbuka tanpa bungkus pengaman. Menurut keterangan saksi, pada saat melintas di lokasi kejadian, korban yang mengendarai sepeda motor dari arah belakang diduga melaju terlalu dekat sehingga terjadi bersenggolan langsung dengan ujung dodos tersebut.

Sabetan dodos disebut melukai bagian leher korban seketika. Walau masih berupaya menahan sakit sambil melanjutkan perjalanan, BE akhirnya tumbang beberapa puluh meter dari titik benturan dan meninggal dunia di tempat akibat pendarahan.

Setelah rangkaian pemeriksaan, pihak kepolisian juga memaparkan pengakuan S terkait tindakannya setelah kejadian. Dalam keterangannya, S mengaku sempat melihat korban menghentikan motornya dan turun ke tepi jalan.

Namun, karena didera kepanikan serta takut diamuk massa, S memilih menutup mata dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Polres kemudian menyampaikan bahwa S pada akhirnya menyerahkan diri, sehingga proses penyelidikan dapat diperdalam berdasarkan keterangan tersangka dan saksi yang telah dihimpun.

Dengan demikian, aparat menegaskan kembali bahwa penyebab kematian BE adalah akibat terkena dodos saat bersenggolan di Jalan Loging, bukan karena aksi begal. Pernyataan tersebut sekaligus menjawab dugaan awal di tengah masyarakat yang menyebut korban merupakan sasaran perampasan.

Dalam pemaparan lanjutan, polisi menekankan bahwa penelusuran dilakukan melalui rangkaian langkah terstruktur sejak laporan diterima. Aparat menghubungkan keterangan warga dengan hasil pemeriksaan lapangan agar alur kejadian dapat dirangkai secara berkesinambungan.

Olah tempat kejadian perkara yang dilakukan setelah pemeriksaan awal berfokus pada temuan di sekitar lokasi serta pemeriksaan saksi di sekitar rute yang dianggap berkaitan. Penyelidik juga menelaah rekaman kamera pengawas untuk membantu memastikan posisi dan pergerakan kedua pihak pada saat kejadian.

Dari hasil penelusuran itu, polisi menyusun gambaran bahwa S membawa dodos dan angkong saat melintas, sementara korban datang dari arah belakang. Diduga saat keduanya berada pada jarak yang sangat dekat, ujung dodos yang dibiarkan terbuka menimbulkan benturan pada bagian leher korban.

Setelah kejadian, polisi menilai tindakan tersangka tidak seperti dugaan perampasan. Dalam keterangan yang disampaikan, S mengakui sempat melihat korban menghentikan laju sepeda motornya dan turun ke tepi jalan, tetapi kemudian melanjutkan perjalanan pulang karena kepanikan serta rasa takut apabila diamuk massa, sebelum akhirnya menyerahkan diri untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.