jurnalistik.co.id – Ben Duckett menorehkan 141 pada ODI ketiga dan terakhir Inggris melawan India di Lord’s, sebuah pencapaian yang langsung mengubah catatan rekor turnamen.
Dalam laga tersebut, Duckett tampil dengan angka 141 yang menjadi sorotan utama karena berhasil melampaui rekor tertinggi sebelumnya yang tercatat di venue yang sama.
Skor 141 itu juga dicatat sebagai rekor angka tertinggi oleh pemain pria pada ODI di Lord’s. Dengan demikian, pencapaian Duckett berdiri sebagai tonggak baru untuk daftar rekor di lapangan bersejarah itu.
Performa Duckett bukan sekadar menambah angka di papan skor, melainkan sekaligus memecahkan batas yang selama ini menjadi acuan bagi para pemukul di ODI.
Rekor yang dipecahkan merupakan milik Sir Viv Richards. Pada 1975, Richards tercatat memegang angka 138 sebagai skor tertinggi pemain pria dalam ODI di Lord’s.
Dari sini terlihat betapa rapatnya jarak tantangan di level rekor. Duckett kemudian tampil dengan 141, mengungguli 138 yang sebelumnya menjadi standar tertinggi di Lord’s untuk ODI putra.
Angka 141 itu menjadikan inning Duckett sebagai momen yang berhubungan langsung dengan sejarah rekor yang telah bertahan sejak 1975, sekaligus memberi “ruang” pada rekor baru di halaman buku statistik kriket.
Dengan memecahkan angka 138, Duckett tidak hanya mencatat pencapaian pribadi, tetapi juga membuat rekor yang berkaitan dengan venue dan format pertandingan bergeser ke angka yang lebih tinggi.
Berita Terkait
Di ODI ketiga melawan India, momen krusial datang saat Duckett berhasil mengonversi kesempatannya menjadi skor besar hingga akhirnya mencapai 141, angka yang kemudian menjadi penentu perubahan rekor di Lord’s.
Pencapaian itu sekaligus menegaskan bahwa Lord’s masih menjadi panggung penting bagi lahirnya rekor-rekor besar dalam kriket ODI putra.
Secara statistik, rekor 141 Duckett menempati posisi tertinggi sebagai skor pria dalam ODI di Lord’s, dan secara spesifik mengalahkan rekor sebelumnya sebesar 138 yang dicatat Sir Viv Richards pada 1975.
Hasilnya, inning Duckett tercatat sebagai kisah baru yang menggantikan rekor lama di level venue dan format, sekaligus membuat catatan rekor ODI di Lord’s punya pemegang baru untuk angka tertinggi.
Dengan kata lain, 141 yang dibukukan Duckett menjadi penanda bahwa perburuan rekor di ODI pada level tertinggi dapat berakhir pada angka lebih besar—dan dalam kasus ini, terjadi di laga ketiga dan terakhir Inggris kontra India di Lord’s.
Di Lord’s, capaian besar seperti itu tidak hanya dibaca sebagai angka akhir, tetapi juga sebagai pembuktian bahwa batas rekor dapat bergeser ketika seorang pemukul mampu menjaga momentum hingga menjadi inning yang “mengunci” tonggak baru.
Rentang antara 138 dan 141 juga menunjukkan betapa presisi tuntutan dalam ODI putra. Hanya selisih beberapa angka saja sudah cukup untuk mengubah siapa pemegang rekor tertinggi di venue yang sama, sekaligus menutup bab statistik lama yang sudah bertahan puluhan tahun.
Setelah standar tertinggi era 1975 ditetapkan oleh Sir Viv Richards di angka 138, Duckett datang membawa respons langsung lewat 141. Dengan begitu, yang tercatat bukan semata prestasi individu, melainkan perpindahan posisi teratas pada level paling spesifik: skor pria ODI di Lord’s.
Kemenangan rekor itu pada akhirnya menjadi penanda bahwa ajang bersejarah seperti Lord’s tetap relevan sebagai tempat lahirnya angka-angka baru. Dalam laga ketiga dan terakhir Inggris kontra India, inning Duckett mengalihkan fokus dari rekor lama menuju pemegang baru, lalu meninggalkan daftar statistik dengan angka yang lebih tinggi.












