jurnalistik.co.id – Militer Iran pada Jumat (5/6/2026) menyatakan telah menembakkan rudal ke arah dua kapal perusak Angkatan Laut Amerika Serikat di Teluk Oman. Pernyataan itu muncul di tengah situasi gencatan senjata yang sedang berlangsung.
Menurut laporan media pemerintah Iran yang dikutip AFP, dua kapal perusak AS meninggalkan Teluk Oman “setelah penembakan rudal peringatan” oleh pasukan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasan operasi yang dilakukan pasukan Iran.
Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah IRNA, militer Iran menyebut operasi itu dilakukan sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai “pelanggaran aturan maritim dan pelecehan, serta pembajakan kapal komersial dan kapal tanker minyak oleh pasukan angkatan laut teroris Amerika Serikat.”
Iran juga mengaitkan pernyataannya dengan dugaan pelanggaran dan tindakan yang diklaim terjadi di kawasan pelayaran. Dengan demikian, versi Iran menempatkan insiden di Teluk Oman sebagai tindak balasan atas situasi yang sebelumnya mereka tuduhkan.
Di sisi lain, pemerintah dan militer AS membantah adanya serangan Iran terhadap kapal perang mereka. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan, “Pasukan Iran TIDAK menyerang atau menembaki kapal perang Angkatan Laut AS. Melakukan hal tersebut akan menjadi pelanggaran berat terhadap gencatan senjata.”
CENTCOM juga menyatakan pasukannya “terus beroperasi secara bebas di perairan regional” serta menjalankan blokade tandingan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa AS menilai gencatan senjata harus dihormati.
Konflik narasi yang saling bertentangan itu membuat insiden di Teluk Oman menjadi salah satu perkembangan terbaru yang mengguncang gencatan senjata. Dalam konteks yang sama, kedua pihak sama-sama mengklaim tindakan mereka berada dalam kerangka yang mereka tafsirkan sebagai wajar di bawah kondisi penghentian permusuhan.
Insiden tersebut terjadi setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut bahwa perang antara AS dan Iran telah berakhir. Rubio menyampaikan pernyataannya pada Rabu (3/6/2026).
Rubio mengatakan Washington “tidak lagi melakukan serangan berkelanjutan” terhadap Iran karena Operasi Epic Fury—nama yang digunakan AS untuk operasi serangannya terhadap Iran—telah berakhir. Ia juga menyebut Amerika Serikat telah menghancurkan apa yang tersisa dari angkatan udara Iran serta “menghancurkan seluruh angkatan laut konvensional mereka.”
Di tengah pernyataan Rubio, CENTCOM kemudian meluncurkan bantahan cepat terkait laporan adanya serangan. Bagian ini menegaskan adanya benturan informasi antara klaim yang disampaikan pihak Iran dan respons resmi yang diberikan otoritas militer AS.
Ketegangan juga terkait dengan dinamika upaya mengakhiri perang melalui kanal perundingan langsung maupun mediasi. Upaya tersebut, menurut uraian pemberitaan, sejauh ini belum membuahkan hasil.
Gencatan senjata yang dimaksud disepakati pada 8 April. Kesepakatan itu sebagian besar menghentikan permusuhan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel setelah pecahnya perang pada 28 Februari, ketika pasukan sekutu melancarkan serangan terhadap Iran.
Meski permusuhan besar dinilai telah berhenti, rangkaian perkembangan setelah kesepakatan tetap menimbulkan ketidakpastian. Karena itu, insiden di Teluk Oman hadir sebagai sinyal bahwa situasi di lapangan tetap berpotensi memicu ketegangan.
Selain itu, persaingan terkait aktivitas maritim juga menjadi bagian penting dari konteks yang lebih luas. Sejak awal perang, Iran telah memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz, jalur strategis yang menghubungkan Teluk dengan Samudra Hindia.
Amerika Serikat kemudian membentuk blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Dalam kondisi normal, sekitar seperlima minyak dunia melewati jalur sempit tersebut, sehingga Selat Hormuz disebut sebagai salah satu titik paling penting bagi perdagangan energi global.
Persaingan blokade di area tersebut menjadikan setiap insiden di sekitar jalur strategis memiliki dampak yang lebih besar dari sekadar peristiwa sesaat. Narasi Iran tentang “penembakan rudal peringatan” dan bantahan CENTCOM mengenai tidak adanya penyerangan berada dalam kerangka yang sama: masing-masing pihak berusaha menjelaskan tindakan mereka tanpa mengakui pelanggaran.
Dengan demikian, pernyataan militer Iran di Teluk Oman, penyebutan Marco Rubio bahwa perang telah berakhir, serta respons CENTCOM yang menekankan kepatuhan terhadap gencatan senjata membentuk gambaran perbedaan persepsi yang nyata. Pada akhirnya, insiden ini memperlihatkan bahwa meski gencatan senjata telah disepakati, pengawasan atas perairan regional tetap menjadi titik rapuh dalam hubungan Iran dan AS.












