jurnalistik.co.id – otoritas Rusia kembali menekan pihak yang menentang invasi, dengan dua langkah terpisah: satu tokoh oposisi didenda, sementara seorang blogger ditahan. Langkah ini terjadi ketika ruang gerak kritik di dalam negeri kian menyempit, termasuk bagi figur yang sebelumnya mencoba maju ke jalur politik.
Boris Nadezhdin, 63 tahun, divonis bersalah atas tuduhan “displaying extremist symbols”. Putusan tersebut membuatnya tidak bisa mengumpulkan tanda dukungan untuk pemilu parlemen yang dijadwalkan pada September mendatang.
Dalam perkara itu, Nadezhdin menerima denda sebesar 1.000 rubel (sekitar ÂŁ9,50; $13). Ia menyebut ada tujuan lain di balik proses hukum yang menimpanya, yakni untuk membungkam sekaligus menghentikannya mencalonkan diri ke Duma.
Nadezhdin baru saja menghadapi rentetan pembatasan. Pekan lalu, ia sempat dinyatakan sebagai “foreign agent”, sebelum akhirnya ditahan pada Senin terkait unggahan ulang video pada 2023 yang memunculkan gambar Alexei Navalny.
Setelah status “foreign agent” diumumkan, Nadezhdin juga diberi larangan meninggalkan Rusia. Menurut narasi yang ia sampaikan, pembuktian di pengadilan tidak menggambarkan kesalahannya, melainkan upaya untuk menutup aksesnya terhadap kontestasi politik.
Pada persidangan di kota kelahirannya, Dolgoprudny yang berada di utara Moskow, Nadezhdin sempat jatuh dan membutuhkan penanganan medis singkat. Ia hidup dengan kondisi tekanan darah tinggi serta diabetes.
Pengalaman Nadezhdin sendiri pernah menjadi sorotan dua tahun lalu saat ia mencoba maju sebagai kandidat presiden melalui platform yang menentang perang. Namun, ia tidak lolos ke tahap berikutnya karena otoritas pemilu menilai tanda dukungan yang ia ajukan bermasalah.
Saat ini, hanya sedikit politisi oposisi yang masih bertahan di Rusia. Banyak tokoh memilih menjalani kehidupan di pengasingan, sementara figur yang paling dikenal, Alexei Navalny, meninggal mendadak di sebuah koloni penjara di Arktik pada Februari 2024. Rusia menyatakan kematian Navalny disebabkan faktor alam, tetapi Inggris dan empat negara Eropa lain menyatakan mereka yakin ia diracuni dengan “lethal toxin”.
Blogger ditahan dua bulan
Di jalur berbeda, pihak berwenang menahan blogger Ilya Remeslo selama dua bulan. Remeslo, yang sempat dikenal mendukung Vladimir Putin, melakukan perubahan sikap secara drastis pada Maret lalu dengan menilai presiden sebagai “war criminal and thief” sekaligus menyerukan pengunduran diri.
Berita Terkait
Remeslo ditahan dengan kecurigaan menyebarkan informasi palsu tentang militer. Setelah mendengar tuduhan tersebut, ia dibawa ke pengadilan dan ditetapkan menjalani penahanan pra-persidangan selama dua bulan.
Pengacaranya mengatakan Remeslo dibawa ke Moskow setelah penahanan dilakukan beberapa jam sebelumnya di kota tempat ia tinggal, yakni St Petersburg. Di dalam pengadilan Moskow, ia menghadap proses hukum dengan tuduhan terkait konten yang ia tulis.
Remeslo menyatakan ia dituduh mendiseminasikan “fake news” mengenai militer, khususnya berdasarkan unggahan blog pada Maret 2026 bertajuk “Five reasons why I stopped supporting Vladimir Putin”. Dalam konten tersebut, ia mengkritik kebijakan pemerintah dan mengubah posisi politiknya dari dukungan sebelumnya.
Menurut cerita yang ia bangun, unggahan Remeslo di Telegram juga muncul sebagai kejutan karena sebelumnya ia pernah mendukung Putin dan menyerang oposisi, termasuk Navalny. Ia menyinggung dampak kerusakan ekonomi Rusia serta pembatasan yang diberlakukan terhadap internet dan kebebasan media.
Tak lama setelah kritik tersebut, Remeslo disebut dikirim ke rumah sakit jiwa selama satu bulan. Setelah keluar, ia mengaku bahwa pengobatan itu diterima bukan atas kemauannya, melainkan dikirim secara paksa.
Sebelum penangkapannya, pada Kamis malam Remeslo sempat memposting pernyataan di Telegram bahwa kondisi bagi Putin semakin memburuk secara cepat. Ia mengaitkannya dengan krisis energi Rusia serta memanasnya konflik di kalangan elit.
Dalam konteks tersebut, ia menyoroti bahwa Ukraina menargetkan kilang minyak dan fasilitas penyimpanan di sejumlah wilayah Rusia. Dampaknya disebut terasa hingga kekurangan bahan bakar di banyak daerah, termasuk di Moskow.
Opini publik: dukungan Putin menurun
Sejalan dengan narasi peringatan yang dibawa Remeslo, dua survei opini di Rusia menunjukkan penurunan popularitas Putin pada bulan ini. Lembaga Public Opinion Foundation (FOM) melaporkan tingkat persetujuan Putin turun menjadi 66%, melemah lima poin pada pekan menuju 12 Juli.
Sementara itu, survei lembaga negara VTsIOM menunjukkan penurunan yang lebih kecil, dengan rating 65,1%. Angka tersebut diklaim menjadi yang terendah sejak awal perang skala penuh di Ukraina pada Februari 2022.
Dalam kesimpulan yang ia sampaikan, Remeslo menyatakan “segala sesuatu bergerak menuju situasi di mana dorongan kecil sekalipun bisa membuat Putin kehilangan kekuasaan”. Pernyataan itu menjadi bagian dari argumentasinya bahwa ruang toleransi terhadap perbedaan pendapat semakin rapuh, namun justru itu pula yang membuat tekanan di lapangan makin terasa.












