Olahraga

Pengejaran Sandro Tonali Tottenham menunjukkan kesenjangan yang harus dijembatani Newcastle

×

Pengejaran Sandro Tonali Tottenham menunjukkan kesenjangan yang harus dijembatani Newcastle

Sebarkan artikel ini
Spurs' Tonali hunt shows chasm Newcastle must bridge
Ilustrasi: Newcastle: Tottenham's Sandro Tonali hunt shows chasm between clubs

jurnalistik.co.id – Pengejaran Sandro Tonali oleh Tottenham menyajikan gambaran gamblang tentang kesenjangan yang masih menganga antarklub Liga Premier. Di tengah upaya Spurs membangun kembali momentum, Newcastle dituntut menjembatani jarak finansial dan daya tarik pemain.

Tahun lalu, suasana sempat diguncang oleh pernyataan Damian Vidagany di acara penghargaan akhir musim Aston Villa. Ia menyatakan, “There is no big six anymore,” dan gaungnya mendapat sambutan besar di Tyneside.

Wajar jika sentimen itu punya pengikut. Villa pernah mengganggu tatanan yang dianggap mapan dengan lolos ke Liga Champions pada 2024 dan 2026, dan Newcastle juga menunjukkan hal serupa melalui langkah mereka di 2023 dan 2025.

Namun, ketika persaingan masuk ke ruang yang lebih praktis—gaji, pemasukan, dan kemampuan menawar—klub-klub berpendapatan tertinggi tak mudah ā€œsurutā€ oleh tantangan dari luar kelompok elit. Karena itu, perburuan Spurs terhadap Tonali menjadi pengingat bahwa jarak antarklub tidak selalu mengecil hanya karena performa lapangan naik.

Spurs berupaya menarik Tonali ke London Utara hanya beberapa minggu setelah Roberto de Zerbi berhasil membawa timnya menghindari degradasi pada hari terakhir. Menghadapi musim baru, fokus Spurs adalah bangkit pada Agustus, dan salah satu jalannya adalah mendatangkan pemain kunci dari Newcastle.

Sementara Newcastle sendiri mengakhiri musim dengan posisi ke-12 yang tidak sesuai harapan, sumber daya finansial Spurs memberi mereka ruang gerak yang lebih besar. Laporan keuangan terbaru Spurs menunjukkan mereka menghasilkan pendapatan sebesar £230m lebih besar dibanding Newcastle pada musim 2024-25.

Dengan selisih pemasukan itu, Spurs dapat menawarkan gaji yang lebih tinggi kepada Tonali sekaligus mengajukan tawaran besar, sekitar Ā£80m untuk gelandang asal Italia. Meski demikian, tawaran tersebut dinyatakan gagal—dan selama Arsenal serta Manchester City belum juga ikut masuk ke meja perundingan, Newcastle masih berada dalam posisi kuat untuk meminta nilai lebih besar jika sejumlah klub akhirnya mengajukan penawaran.

Namun, jika Tonali benar-benar hengkang, Newcastle harus menerima kenyataan bahwa dalam rentang satu tahun mereka berpotensi kehilangan tiga dari empat pemain terbaiknya. Alexander Isak dijual ke Liverpool dengan nilai £125m, sementara Anthony Gordon pindah ke Barcelona seharga £69m.

Situasi ini terasa semakin berat karena Newcastle tengah membangun kembali kepercayaan setelah momen yang menandai era baru. Eddie Howe dan skuadnya baru saja mengakhiri penantian 70 tahun untuk meraih trofi domestik utama dengan mengalahkan Liverpool di final Piala EFL. Mereka juga mendapatkan tiket Liga Champions untuk kali kedua dalam tiga musim.

Meski begitu, upaya mendatangkan dan mempertahankan nama yang benar-benar diincar tetap tidak mudah. Howe pernah menegaskan, “It was very difficult to attract the players that we wanted, that we felt could really make a difference to the team,” lalu menambahkan, “I certainly don’t think that challenge is going to be easier. It’s going to be harder.”

Kalimat itu terbukti seperti penanda arah. Newcastle berhasil merekrut kiper Ewen Jaouen dari Stade de Reims seharga £18.5m bahkan sebelum jendela transfer dibuka secara resmi. Tetapi ketika mereka tampak berada dalam posisi unggul untuk mendatangkan target utama Victor Munoz, winger asal Spanyol itu justru memilih bergabung dengan Liverpool dari Osasuna.

Rasa ā€œperulanganā€ sempat muncul bagi pendukung Newcastle. Joao Pedro, Hugo Ekitike, James Trafford, dan Benjamin Sesko musim panas lalu memilih tujuan berbeda: Chelsea, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United. Newcastle pun terpaksa menggeser prioritas, dan sepanjang musim ini, selain bek Malick Thiaw, mereka belum melihat hasil yang cukup kuat dari belanja bersih yang menembus Ā£100m.

Pengembangan sebagai tawaran, namun pendapatan tetap menentukan

Newcastle tidak mampu mengulang cerita yang sama seperti masa lalu, tetapi penting juga mengingat bahwa jendela transfer baru dibuka pada 15 Juni—sebuah tenggat yang tidak lama untuk menilai dampak penuh dari keputusan pemain dan proses adaptasi.

Di sinilah gaya pendekatan Howe kerap dipakai sebagai ā€œpaketā€ yang lebih dari sekadar angka transfer. Ia tidak menawarkan jaminan langsung soal prestasi, melainkan menekankan perkembangan, cara kerja staf, serta bagaimana tim dapat mendorong permainan pemain ke level yang lebih tinggi.

Tidak semua perekrutan kemudian berkembang sesuai harapan di bawah Howe. Meski begitu, titik yang menonjol adalah budaya perbaikan yang berulang kali disebut oleh para pemain. Gordon, misalnya, berkali-kali menunjuk pada “culture” peningkatan di Newcastle saat ia akhirnya mengunci kepindahan impiannya ke Barcelona.

Seorang sumber yang mengikuti proses tersebut juga menyampaikan detail tentang bagaimana pemain lain memandang Newcastle. Ia mengatakan, “He wanted to come to Newcastle,” lalu menambahkan, “He had a couple of other opportunities but he had a good chat with the manager and believed in the project, the squad, the club and the league. That’s where he wanted to belong.”

Sumber itu juga menekankan ambisi pemain tersebut, “His ambition is quite high. He wants to measure himself with the top elite players. It was just a match between Newcastle and him. There’s no doubt.”

Stadion dan pendapatan sebagai jembatan kesenjangan

Namun, fase berikutnya tetap rapuh. Ada pembicaraan bahwa Newcastle ingin bersaing sebagai salah satu klub terbesar dunia pada 2030, tetapi dalam waktu dekat yang lebih penting adalah tindakan konkret.

Seiring mendekatnya peringatan kelima pengambilalihan oleh pihak Saudi pada Oktober, klub juga belum mengumumkan rencana fasilitas latihan berstandar baru yang canggih setelah identifikasi lokasi di Woolsington dekat Newcastle Airport. Di luar latihan, ada isu yang tak kalah besar: stadion.

Stadion dinilai krusial karena terkait langsung dengan jarak pendapatan. Newcastle pernah mengantongi £2.8m lebih besar dari Spurs dalam pendapatan match-day saat Spurs masih bermain di White Hart Lane pada 2007. Saat itu, kesenjangan total hanya berkisar £16m.

Namun, di laporan keuangan terbaru masing-masing klub, jurangnya melebar menjadi “kebun jurang” yang nyata. Spurs bahkan mendatangkan 14 kali lipat surplus dibanding periode sebelumnya. Penyebabnya terutama datang dari perbedaan pendapatan match-day: Newcastle berada pada angka Ā£51.6m pada 2024-25, sedangkan Spurs mencapai Ā£126.5m.

Faktor lain juga memperbesar jarak, terutama pendapatan komersial. Acara dan konser, termasuk kemitraan terkait seperti NFL dan F1 Drive, membantu klub London mengumpulkan £277.1m pendapatan komersial pada periode yang sama, sementara Newcastle mencatat £120.2m.

Menurut pakar keuangan sepak bola Kieran Maguire, kemampuan Spurs menutupi musim domestik yang menantang lewat jalur pendapatan di luar lapangan menjadi alasan Newcastle pada akhirnya harus mengikuti langkah tersebut. Ia menyatakan, “If the Newcastle owners want a football club which is regularly competing for one of the Champions League places, they have to move.”

Maguire menambahkan, “If they want Newcastle to be a regular top-10 club competing in the Europa League and Europa Conference League, tweak St James’ Park.” Baginya, keputusan itu sangat menentukan arah klub ke depan.