jurnalistik.co.id – Alan Shearer menilai, Harry Kane tampak berbeda di Piala Dunia 2026 dibanding saat edisi sebelumnya. Menurutnya, perubahan itu terlihat dari cara Kane memulai laga, kondisi fisiknya, hingga kekuatan mental ketika berada di momen menentukan.
Di Piala Dunia 2022 di Qatar, Shearer mengingat bahwa butuh empat pertandingan dan 269 menit bagi Kane untuk akhirnya mencatat satu tembakan tepat sasaran. Kane terlihat mulai terasa lelah sejak awal turnamen, sehingga Shearer merasa Kane memerlukan jeda setelah dua laga pertama Inggris. Namun, kali ini situasinya sama sekali tidak seperti itu.
Shearer menyebut Kane akan langsung ada di puncak sorotan setelah mencetak dua gol dalam kemenangan 4-2 atas Kroasia. Sebagai penyerang, Shearer mengatakan hal paling diinginkan di turnamen besar adalah memulai dengan baik, karena momentum awal bisa menjadi penopang untuk pertandingan berikutnya.
Ia bahkan membandingkannya dengan pengalamannya sendiri bersama Inggris pada Piala Dunia 1998. Shearer merasa lega besar tidak hanya karena tim menang, tetapi juga karena ia bisa mencetak gol sebagai kapten dan pencetak gol utama ketika semua menunggu kontribusi darinya.
Shearer menilai Kane tampaknya merasakan hal yang sama setelah tampil pada Rabu lalu. Kane harus duduk bersama skuad Inggris sepanjang pekan, menyaksikan pertandingan lain sambil melihat bintang-bintang seperti Kylian Mbappe, Erling Haaland, dan Lionel Messi mulai “hidup” di turnamen—bukan cuma dengan satu gol, melainkan minimal dua gol.
Shearer menambahkan, Kane pasti sangat ingin ikut meramaikan sejak pertandingan pertamanya. Ketika akhirnya bisa mencetak gol pada menit ke-12 dan kemudian menambah satu gol lagi, hasil itu menjadi dorongan besar bagi Kane sekaligus bagi Inggris.
Di Qatar 2022, ketika Kane akhirnya mendapat tembakan tepat sasaran pada babak 16 besar melawan Senegal, ia langsung membobol gawang. Kini, kata Shearer, Kane sudah memiliki “faktor perasaan bagus” sejak awal, dan Inggris bisa melihat dampaknya sejak dini.
Shearer juga mengaitkannya dengan catatan Kane pada Piala Dunia 2018 di Rusia, ketika ia mencetak lima gol di dua pertandingan pertama Inggris. Dengan pertandingan Grup yang sangat sulit sudah dilewati—Shearer menyebutnya sebagai partai terberat di Grup L—laga berikutnya adalah melawan Ghana dan Panama, sehingga ia yakin sorot mata Kane akan semakin bersemangat.
Kondisi fisik dan cara bermain yang terasa pas
Selain gol, Shearer menyoroti bahwa Kane terlihat berada pada kondisi puncak. Setelah awal lambat di Qatar, ia tidak menilai Kane tampil seratus persen bugar pada Euro 2024, dan Inggris juga kesulitan memaksimalkan peran Kane di turnamen itu.
Menurut Shearer, masalahnya berkaitan dengan susunan tim. Ketika Kane turun lebih dalam untuk menerima bola, tidak ada penyerang yang bisa dituju dengan umpan keluar (out-ball), baik untuk Kane maupun untuk rekan-rekannya. Kane juga membawa tambahan pemain bertahan kembali ke area tengah, sehingga ruang dan waktu bagi Inggris di zona tersebut menjadi lebih sempit.
Kini, Shearer menyatakan semuanya berbeda karena Thomas Tuchel. Di bawah Tuchel, kata Shearer, Inggris memakai Kane dengan pola yang mirip seperti yang dilakukan Bayern Munich. Tuchel pernah menangani Kane saat di Bayern, sehingga ia memahami cara terbaik untuk memunculkan kualitasnya dan menganggap hal itu integral bagi harapan Inggris di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Shearer menggambarkan momen saat Kane kembali mencari bola melawan Kroasia. Noni Madueke, Jude Bellingham, dan Anthony Gordon disebut berlari melewati area Kane dan bergerak maju dengan kecepatan serta energi, sehingga menghadirkan ancaman bagi pertahanan lawan.
Namun, perubahan terbesar juga datang dari Kane sendiri. Shearer mengatakan Kane tetap bermain dengan gaya yang sama, tetapi kini tampak lebih fit dan lebih kuat dibanding sebelumnya. Kane masuk ke turnamen ini setelah kampanye brilian bersama Bayern Munich dan terlihat sangat tajam serta percaya diri, sebagaimana biasanya setelah mencetak 61 gol dalam satu musim.
Shearer menyebut angka-angka itu “luar biasa”. Ia mengatakan pernah mendengar Kane berbicara bahwa kali ini ia mencetak sekitar 20 gol lebih banyak dibanding capaian terbaiknya sebelumnya. Ia mengaitkannya dengan perjalanan kariernya sendiri saat debut profesional untuk Southampton pada 1988, ketika hanya dengan 20 gol saja dianggap sukses.
Shearer menegaskan Kane memang sudah membukukan angka besar ketika masih bersama Spurs dan kemudian saat bermain di Jerman, lalu menambahkan sekitar 20 gol lagi setelahnya. Baginya, bentuk performa seperti itulah yang membuat harapan Inggris sangat bertumpu pada Kane.
Sebagai kapten dan pemain terbaik, Kane menanggung tanggung jawab besar. Namun Shearer menilai Kane jelas menikmati peran itu, bukan sekadar menjalankannya.
Kekuatan mental saat momen sulit
Shearer juga menekankan bahwa Kane tetap bekerja keras untuk Inggris dari sisi bertahan. Di laga yang dibahas, Kane disebut sempat memblok tembakan hanya satu yard dari garis gawang miliknya pada menit-menit akhir. Walau demikian, kata Shearer, Kane tidak berhenti mencetak gol.
Shearer menyebut ada sedikit “keberuntungan” ketika Kane memulai rentetan gol lewat penalti yang harus diulang (retaken) melawan Kroasia. Meski demikian, momen itu tetap menunjukkan kekuatan mental Kane.
Shearer mengaku tidak pernah mengalami skenario serupa, tetapi ia pernah menghadapi situasi penalti di Piala Dunia. Ia menyebut saat melawan Argentina pada 1998, Shearer menjalani satu penalti pada waktu normal dan satu lagi pada adu penalti, lalu mencetak kemenangan atas Carlos Roa dua kali.
Menurut Shearer, kesulitan mengambil penalti kedua sangat besar karena begitu banyak hal yang melintas di pikiran. Penendang mencoba menebak pilihan penjaga gawang, sementara kiper juga berusaha membaca niat penendang. Pada saat yang sama, ada pertempuran melawan pikiran negatif tentang kemungkinan gagal.
Shearer menilai, kemampuan Kane untuk mengatasi tekanan itu lalu mengeksekusi penalti kedua dengan posisi yang sama seperti penalti pertama yang sempat diselamatkan adalah pencapaian yang tidak mudah. Ia kemudian menyoroti gol sundulan Kane, menyebutnya sundulan yang sangat brilian.
Shearer menyatakan pertama-tama itu berawal dari umpan yang bagus dari Declan Rice. Ia mengakui pertahanan Kroasia juga tampil kurang solid, tetapi Kane membuat keputusan terbaik dan mengeksekusi penyelesaian dengan sempurna: membaca arah bola dengan cepat dan mengakhiri peluang secara akurat.
Perburuan Sepatu Emas dan “race” yang sudah dimulai
Setelah start yang sangat cepat, Shearer mengatakan wajar jika Kane sudah memikirkan kemungkinan meraih kembali Sepatu Emas Piala Dunia. Ia percaya penyerang seperti Kane memang akan sangat berharap bisa mengulang pencapaian itu.
Shearer menambahkan, Kane bersama Mbappe dan James Rodriguez dari Kolombia termasuk tiga pemain di turnamen ini yang memiliki “patch” khusus di lengan baju—tanda bahwa mereka pernah memenangkan Sepatu Emas sebelumnya. Shearer menyebut ia paham cara pikir seorang pencetak gol, dan yakin Kane sangat ingin menjadi pemain pertama yang meraih Sepatu Emas untuk kedua kalinya.
Namun, Shearer menegaskan persaingan tidak hanya soal Kane. Mbappe juga akan memiliki ambisi yang sama, sementara Messi dan Haaland tentu juga akan menaruh perhatian pada trofi tersebut. Meski ketiganya adalah tipe pemain yang berbeda, Shearer melihat satu kesamaan: tim mereka dirancang untuk memaksimalkan kualitas para pencetak gol tersebut.
Dengan Inggris yang kini memakai Kane dengan cara yang pas, Shearer menyimpulkan bahwa persaingan sudah dimulai. Ia mengatakan terlalu dini untuk memastikan siapa yang akan mengunci gelar, tetapi ia merasa senang Kane ada dalam “mix”, karena bila Inggris ingin melangkah jauh di Piala Dunia ini, Kane perlu tampil pada performa terbaiknya.












