jurnalistik.co.id – Di Piala Dunia 2026, persaingan tidak hanya terjadi antara negara dan strategi, tetapi juga di antara keluarga. Rivalitas saudara kandung yang memilih membela tim berbeda menghadirkan cerita emosional—sekaligus ujian besar—di panggung paling bergengsi.
Gambaran paling menarik datang dari pasangan kakak-adik yang berpotensi saling berhadapan pada musim panas ini. Desire dan Guela Doue, yang sama-sama lahir dari garis keluarga yang sama, kini menempuh jalan internasional yang tidak selaras, namun tetap terhubung erat.
Desire dan Guela Doue: kedekatan yang mungkin diuji
Desire Doue, pemain yang berusia 21 tahun dan telah menjadi dua kali pemenang Liga Champions bersama PSG, bersiap membela Prancis. Sementara itu, Guela Doue yang berusia 23 tahun berada dalam skuad Pantai Gading. Keduanya berasal dari kota Angers di Prancis: ibunya berasal dari Prancis, sedangkan ayahnya dari Pantai Gading.
Dalam karier klub, Desire membela Paris St-Germain, sedangkan Guela bermain untuk Strasbourg. Perbedaan jalur ini tidak menghapus kedekatan mereka. Desire pernah mengatakan bahwa ia dan sang kakak saling berbagi banyak hal dan “tidak ada rahasia”, menyebut Guela sebagai dukungan besar dalam kehidupan sehari-harinya.
Namun, kedekatan itu bisa menjadi tantangan ketika Piala Dunia memasuki fase yang lebih menentukan. Jika Prancis finis sebagai runner-up Grup I dan Pantai Gading finis sebagai runner-up Grup E, kedua bersaudara berpeluang bertemu di babak 32 besar, tepatnya di Arlington, Texas, pada 30 Juni.
Potensi pertemuan itu sudah terasa dalam dinamika menjelang turnamen. Saat Pantai Gading mengalahkan Prancis 2-1 dalam laga persahabatan pra-Piala Dunia pada 4 Juni, Guela menyanyikan lagu kebangsaan kedua negara sebelum pertandingan. Desire, yang sebelumnya meraih trofi Liga Champions dengan PSG lima hari lebih awal, hanya menjadi pemain cadangan yang tidak dimainkan.
Usai laga, Guela menyampaikan penyesalan karena tidak bisa berhadapan langsung, tetapi ia juga menunjukkan sikap sportif. Menurutnya, ini merupakan pertemuan pertama antara Prancis dan Pantai Gading bagi kedua bersaudara, sehingga ia merasakan momen itu sebagai sesuatu yang spesial.
Kasus serupa sebelumnya: Boateng dan Kevin Prince
Cerita tentang saudara kandung yang berada di tim berbeda di Piala Dunia sebelumnya memang tidak sering terjadi. Hanya ada satu contoh yang tercatat, dan itu berlangsung dalam dua edisi berturut-turut.
Pada Piala Dunia 2010 di Johannesburg, Jerome Boateng dari Jerman menghadapi kakak setengahnya, Kevin Prince dari Ghana. Jerman menang 1-0. Empat tahun kemudian di Brazil, keduanya kembali berada di sisi yang berbeda ketika laga fase grup berakhir 2-2.
Dengan kemunculan Desire dan Guela, ada kemungkinan sejarah kecil itu kembali berlanjut—memberi sinyal bahwa Piala Dunia 2026 mungkin akan menghadirkan duel antarsaudara kandung yang benar-benar dramatis.
Inaki dan Nico Williams: dua negara, satu keluarga
Pasangan saudara kandung lain yang turut menjadi sorotan adalah Inaki dan Nico Williams. Keduanya memiliki latar belakang kelahiran dari Basque dan sama-sama bermain untuk Atletico Bilbao di level klub.
Namun, cerita internasional mereka berbeda. Nico yang berusia 23 tahun tampil menonjol saat Spanyol mengalahkan Inggris pada final Kejuaraan Eropa dua tahun lalu. Sementara itu, Inaki yang berusia 32 tahun memilih membela Ghana dalam turnamen ini.
Kontras pilihan tersebut menambah lapisan emosional: ketika keluarga yang akrab di lapangan klub harus berubah menjadi lawan di level negara, arti kompetisi berubah menjadi sesuatu yang lebih personal bagi para pemainnya.
Harry dan John Souttar: ikatan keluarga lintas skuad
Australia juga membawa cerita saudara kandung. Mereka memilih bek tengah kelahiran Aberdeen, Harry Souttar, yang berusia 27 tahun. Di saat yang sama, sang adik, John Souttar, berusia 29 tahun, berada di Piala Dunia bersama timnas Skotlandia.
Ayah dan ibu mereka membentuk latar yang memengaruhi pilihan sepak bola. Ibunya, Heather, berasal dari Australia. Sebelum mengunci keputusan, Harry pernah bermain untuk tim muda Skotlandia, lalu beralih kesetiaan pada tahun 2019.
Perjalanan John pun tidak kalah panjang. Ia memulai debut untuk Dundee United pada usia 16 tahun, kemudian tampil untuk Skotlandia pada usia 21. Dalam langkah turnamen Australia, Harry bahkan memegang peran memimpin: ia menjadi kapten saat Australia meraih kemenangan 2-0 atas Turki pada laga pembuka fase grup.
Derrick Luckassen dan Brian Brobbey: saudara dengan jalur berbeda
Cerita keluarga juga datang dari Ghana melalui Derrick Luckassen dan Brian Brobbey. Luckassen adalah bek yang lahir di Belanda, berusia 30 tahun, dan kali ini bergabung dengan saudara tirinya, Brobbey, yang berusia 24 tahun, dalam skuad Piala Dunia.
Keduanya berbagi satu ibu yang sama, tetapi memiliki ayah yang berbeda. Di awal perjalanan timnya, Brobbey sempat masuk sebagai pemain pengganti pada menit-menit akhir saat Belanda menjalani laga fase grup pembuka, ketika pertandingan berakhir 2-2 melawan Jepang.
Laros dan Deroy Duarte: mimpi bertumbuh di momen sulit
Selain empat pasangan yang paling menonjol, artikel ini juga menyorot tiga kelompok saudara kandung lainnya yang ikut mewakili negara berbeda di Piala Dunia 2026.
Laros Duarte berusia 29 tahun menjadi starter untuk Tanjung Verde menghadapi Spanyol pada 17 Juni. Ia kemudian digantikan oleh adiknya, Deroy Duarte yang berusia 26 tahun, pada menit ke-61 di Atlanta.
Derby emosional semacam itu terjadi bersama kisah yang lebih besar: saudara-saudara dari Rotterdam membantu “Blue Sharks” meraih satu poin, ketika debutan tersebut sukses menahan juara dunia 2010 dengan hasil imbang tanpa gol yang mengejutkan. Setelah pertandingan, Laros mengungkapkan bahwa mereka melihat orang tua menangis, dan perasaan tersebut sulit dijelaskan—sebuah pencapaian yang selama ini hanya mereka impikan.
Leandro dan Juninho Bacuna: harapan kecil dari Curaçao
Tim Curaçao menjadi catatan tersendiri, karena mereka menjadi negara terkecil berdasarkan ukuran dan populasi yang pernah ambil bagian dalam Piala Dunia. Dalam laga melawan Jerman pada 14 Juni, Curaçao sempat berani bermimpi: mereka sempat menyamakan kedudukan sebelum akhirnya kalah 7-1.
Di skuad itu ada saudara kandung Bacuna. Leandro Bacuna berusia 34 tahun, dan Juninho Bacuna berusia 28 tahun. Leandro pernah bermain sebagai gelandang untuk Aston Villa, sementara Juninho memiliki pengalaman bersama Birmingham City dan Rangers.
Juninho menjelaskan bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Menurutnya, ketika mereka masih kecil, mereka selalu berharap bisa tampil bersama dalam satu tim dan di satu lapangan yang sama.
Lucas dan Theo Hernandez: ikatan keluarga dalam skuad Prancis
Prancis, salah satu kekuatan utama di turnamen ini, juga membawa dua saudara kandung yang membela negaranya. Lucas Hernandez berusia 30 tahun dan Theo Hernandez berusia 28 tahun. Mereka bermain untuk klub yang berbeda: Lucas tercatat bermain untuk Paris Saint-Germain, sedangkan Theo membela Al Hilal.
Keduanya pernah memulai kerja sama yang sama di level tim nasional ketika pertama kali bermain bersama untuk Les Bleus pada tahun 2021. Pelatih Prancis Didier Deschamps menyebut bahwa mereka memiliki ikatan keluarga yang jelas. Ia juga menegaskan bahwa hal tersebut tidak otomatis mengubah apa pun dalam rencana tim, karena ia akan menghadapi dua pemain yang memiliki hubungan itu secara profesional.
Piala Dunia memang memisahkan pemain berdasarkan jersey dan nama negara, tetapi kisah saudara kandung ini menunjukkan bahwa ikatan paling dekat tetap bertahan. Ketika detail seperti usia, pilihan negara, dan momen-momen laga persahabatan bertemu pada satu turnamen besar, setiap pertandingan menjadi lebih dari sekadar statistik—ia menjadi pertemuan antara impian keluarga dan keputusan sepak bola yang tidak selalu bisa dipelihara bersama.












