jurnalistik.co.id – Menjelang Piala Dunia 2026, BBC Sport merangkum pengalaman para reporternya dari tiga negara penyelenggara—Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada—dengan pertanyaan sederhana: stadion mana yang paling berkesan dan paling memenuhi harapan selama turnamen berlangsung.
Dari Azteca Stadium di Meksiko yang menjadi tempat laga pembuka, hingga New York New Jersey Stadium yang akan menggelar final pada 19 Juli, para pemain, penggemar, dan awak media menghadapi berbagai venue baru yang berbeda gaya dan karakternya.
Azteca Stadium (Meksiko)
John Murray menempatkan Azteca sebagai pilihan utamanya karena “sejarah sepak bola” yang terasa di setiap sudut stadion. Ia menekankan bahwa meski arena ini sudah dimodernisasi, Azteca tetap lekat dengan momen-momen besar yang ia ingat dari era lampau.
Menurut Murray, di sinilah Carlos Alberto mencetak gol keempat Brasil yang terkenal pada final 1970, serta tempat Diego Maradona “melakukan halnya” untuk Argentina pada 1986. Ia juga menyoroti kualitas rumput yang, dalam ingatannya, masih memberikan nuansa berkilau seperti saat menonton pertandingan lewat televisi bertahun-tahun lalu.
Bagi Murray, atmosfer menjadi bagian penting dari pengalaman itu. Ia menyebut latar dukungan para suporter Meksiko—termasuk “cascade of sombreros” pada laga pembuka—membuatnya yakin tidak ada panggung yang lebih baik untuk turnamen ini, bahkan stadion ini “seharusnya” menjadi tuan rumah final.
Boston Stadium (Boston)
Pat Nevin melihat Boston sebagai venue yang menawarkan pengalaman menonton dengan standar tinggi. Stadion ini menjadi kandang New England Patriots, dan ia menilai tiap kursi memiliki pandangan yang kuat berkat tribun yang bertingkat dan membentuk sudut curam.
Namun, dari kacamata media, Nevin mengatakan keunggulan itu terasa berbeda. Ia menyebut untuk analisis taktik justru menarik, tetapi identifikasi pemain menjadi kurang membantu—bahkan Erling Haaland pun akan tampak “seperti semut” dari ketinggian tersebut.
Ia juga memuji bentuk mangkuk raksasa yang mampu menahan atmosfer, meski ada kendala sejak awal. Menurutnya, proses masuk ke stadion tidak dibantu oleh papan penunjuk arah yang “mungkin yang paling tidak memadai” yang pernah ia temui di Piala Dunia, sementara waktu perjalanan dari Boston pun terasa “tidak sebentar”.
Di sisi lain, Nevin menambahkan bahwa petugas membantu meredakan efek buruk tersebut, meski mereka “pada umumnya” juga tidak sepenuhnya tahu arah.
Seattle Stadium (Lumen Field)
Gary Rose menilai Lumen Field sebagai stadion yang paling mendekati pengalaman sempurna dari tiga venue yang ia kunjungi. Ia menempatkan stadion ini sebagai pilihan yang paling memenuhi banyak kotak baginya karena lokasi yang berada di pusat kota.
Setelah berada di dalam stadion, Rose merasakan keberadaan pemandangan yang kuat. Di satu sisi tampak gedung-gedung pencakar langit Seattle, sementara di sisi lain berdiri latar Mount Rainier yang tertutup salju di atas tribun.
Ia lalu menyoroti atmosfer yang menurutnya dibentuk oleh desain stadion. Rose menyebut desain atap lengkung pada dua tribun memanjang membuat sorak penonton “memantul” kembali menuju lapangan, hingga stadion dapat “bergetar” secara fisik karena kebisingan.
Vicki Sparks menambah penilaian yang lebih keras soal suara, dengan menyatakan bahwa Lumen Field adalah stadion yang “benar-benar membuatnya terdiam” karena sangat keras. Ia bahkan menyebut stadion itu tercatat dalam Guinness Book of World Records sebanyak “dua kali” untuk level kebisingannya.
Sparks menghubungkan kemampuan itu dengan bentuk stadion yang menyerupai “horseshoe” sehingga lebih banyak suara tersimpan di dalam venue. Meski demikian, ia menegaskan bahwa raungan stadion tetap bisa terdengar dari jarak sekitar “25 menit” berjalan kaki.
Ia juga menyoroti bagian north stand yang menurutnya menjorok seperti haluan kapal di puncak ombak, sementara langit terbuka di kedua sisi area tempat duduk memberi pandangan yang menawan ke skyline Seattle. Menurutnya, koridor dalam stadion juga luas, dan meski kosong pun tetap terasa punya karakter dan warisan.
Di dalamnya, Sparks merujuk pada deretan jersey yang menandai artis-artis terkenal yang pernah bermain di Lumen Field, termasuk Taylor Swift dan Ed Sheeran. Ia juga menyebut Seattle Seahawks Wall of Legends sebagai elemen yang turut memberi suasana.
Philadelphia Stadium
Neil Johnston menggambarkan Philadelphia Stadium sebagai venue yang “benar-benar merangkul” Piala Dunia ini. Ia menyinggung kerumunan penggemar dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di sekitar patung “Rocky” di luar Museum of Art.
Johnston juga merasakan langsung atmosfer di stadion ketika Brasil mengalahkan Haiti 3-0 pada hari Jumat sebelumnya. Ia menyebut Philadelphia termasuk salah satu lapangan yang memberi ruang untuk tailgating, yakni momen ketika para penggemar bertemu di area parkir di luar stadion untuk memasak, makan, dan minum sebelum pertandingan.
Ia menuturkan bahwa energinya terasa dari dalam arena, terutama ketika pendukung Haiti yang senang bisa melihat tim mereka berlaga di panggung Piala Dunia menari bersama suporter Brasil. Bagi Johnston, kombinasi momen-momen itu membuat Philadelphia punya kekuatan khusus sebagai tempat pertandingan.
Dallas Stadium
Phil McNulty memuji Dallas Stadium yang menurutnya tertata sangat baik dengan atap yang “tetap tertutup”. Ia juga menyebut stadion dilengkapi pengatur udara (air-conditioned) agar lingkungan tetap dingin, baik untuk pemain maupun suporter.
McNulty menilai tribun bertingkat memberi atmosfer yang kuat, sementara area concourse yang lebar membuat pergerakan penonton lebih nyaman. Ia juga menyoroti layar besar yang menurutnya “seperti itu—dan bahkan lebih dari itu”.
Di sisi media, ia menggambarkan media tribune sebagai ruang yang lapang dan tertutup, dengan jendela terbuka yang membuat sebagian atmosfer tetap dapat “mengalir” masuk. Ia menambahkan bahwa stadion mudah diakses dan keluar dari arena pun lancar karena jalan-jalan besar di sekitar venue membantu kendaraan bergerak tanpa terjebak kemacetan.
Sementara itu, Kelly Somers menyoroti pengalaman yang ia rasakan sejak langkah pertama masuk ke stadion. Menurutnya, keluasan Dallas Stadium membuatnya “kehabisan napas” karena ketinggiannya menjulang dan membuat orang merasa kecil.
Somers menambahkan bahwa ia punya ketertarikan khusus pada stadion yang masih kosong. Ia mengatakan mereka berada di sana sehari sebelum Inggris melawan Kroasia, dan saat berjalan-jalan, rasanya seperti arena yang cocok untuk momen besar, terutama di tengah cuaca panas yang juga terasa di Amerika Serikat.
Ia memuji sistem pendingin udara sebagai bantuan nyata, serta peran atap yang membantu menjaga kebisingan tetap terkendali dan memperkuat suasana. Somers juga menyebut rasa terima kasihnya pada layar-layar di stadion, khususnya yang berada di atas lapangan di bagian tengah, karena posisi kursinya yang tinggi tetap memudahkannya untuk melihat pertandingan.
New York New Jersey Stadium & Atlanta Stadium
Ian Dennis mengatakan New York New Jersey Stadium—yang rebrand untuk Piala Dunia—meninggalkan kesan paling besar dari tiga stadion yang ia kunjungi. Ia mencatat kapasitasnya “hampir 80.000”, tetapi meski begitu ia tetap merasa lebih condong pada Atlanta secara keseluruhan.
Dennis menyebut reaksi pertamanya tentang MetLife sempat viral di Amerika Serikat setelah ia mengunggah di media sosial, “wow… a stadium to take your breath away”. Ia menambahkan bahwa kemudian ia mengetahui stadion itu rupanya tidak terlalu disukai di AS.
Bagi Dennis, momen “wow” muncul karena ketika berjalan masuk pada ketinggian tertentu, ia merasa seolah dapat menyentuh awan. Ia menggambarkan bagaimana mangkuk terbuka yang luas seperti “terbuka” di hadapan matanya saat ia melangkah masuk dari ketinggian.
Soal Atlanta, Dennis menilai stadion ini menawarkan pengalaman suporter terbaik. Ia menggambarkan bentuk luarnya yang “mencolok” dengan sudut-sudut dari kaca dan baja.
Di dalam, Atlanta menurutnya unik dengan susunan tribun yang terputus, eskalator, dan walkway di belakang salah satu gawang. Ia juga menyebut adanya layar televisi berbentuk lingkaran besar yang menggantung dari atap, meski ia tidak bisa melihat garis pinggir lapangan yang dekat dari posisi tempat duduknya.
Kansas City Stadium (Arrowhead Stadium)
Elizabeth Conway menilai Arrowhead Stadium sebagai venue terbuka yang fenomenal dengan pandangan luas ke seluruh kota serta pengalaman hari pertandingan yang berkesan. Ia menekankan bahwa Kansas City memiliki budaya tailgating yang legendaris dan dikenal sebagai salah satu yang terbaik di negara, termasuk tradisi barbecue yang menonjol.
Menurutnya, atmosfer di dalam stadion juga ikut memberi kesan besar. Stadion ini menjadi panggung bagi pertandingan pembuka Piala Dunia Argentina melawan Aljazair, ketika Lionel Messi mencetak hat-trick bersejarah dalam kemenangan 3-0.
Conway juga mengingat momen saat matahari terbenam di atas stadion, sementara Messi menuliskan namanya lebih jauh dalam sejarah sepak bola. Ia menilai energi dan kebisingan kerumunan pada saat itu membuatnya menjadi kesempatan yang tak terlupakan.












