jurnalistik.co.id – Persaingan industri global kini memasuki babak baru. Jika sebelumnya transformasi berpusat pada digitalisasi ala Industry 4.0, kini dunia bergerak menuju Industry 5.0 yang bertumpu pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Dalam konteks pergeseran tersebut, Swiss menekankan bahwa negara yang terlambat membangun kapasitas inovasi berisiko bergantung pada teknologi negara lain. Peringatan itu disampaikan Dominic Gorecky dari Switzerland Innovation Park Biel/Bienne dalam International Smart Factory Summit di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, pada Kamis (25/6/2026).
Gorecky menilai hanya sedikit negara yang benar-benar memegang kendali pasar pada fase baru ini. “Saat ini hanya Amerika Serikat dan China yang benar-benar mendominasi pasar ini. Bahkan Swiss dan Eropa mungkin belum cukup kuat untuk ikut dalam perlombaan tersebut,” kata Gorecky.
Ia menggambarkan perkembangan ini sebagai persaingan yang bernuansa kekuatan teknologi. “Ini adalah perlombaan menuju supremasi teknologi. Inilah perlombaan baru yang sedang kita saksikan, dan secara mendasar berbeda dengan konsep Industry 4.0,” ujarnya.
Tenaga kerja baru dalam Industry 5.0
Menurut Gorecky, perubahan paling menonjol pada Industry 5.0 terlihat dari konsep tenaga kerja yang memadukan manusia dengan teknologi cerdas berbasis AI. Dalam skema ini, operator tidak lagi bekerja sendirian, melainkan didampingi oleh AI agent yang mampu menyediakan informasi yang tepat agar keputusan dapat diambil pada waktu yang tepat.
Ia menambahkan bahwa AI agent tidak hanya menjalankan tugas tertentu secara mekanis. Sistem tersebut berorientasi pada penyelesaian misi, sehingga dapat bekerja selama 24 jam sehari untuk menangani berbagai persoalan yang muncul.
Gorecky juga menyoroti perkembangan berikutnya yang ia sebut mencakup AI fisik. Dalam pandangannya, physical AI mencakup beragam bentuk, mulai dari robot adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, drone otonom, hingga robot humanoid.
“Inilah lompatan berikutnya. Bukan hanya robot humanoid, tetapi juga robot yang lebih adaptif, kendaraan tanpa pengemudi, dan drone. Inilah tenaga kerja masa depan kita, dan saat ini kita sama sekali belum siap menghadapinya,” kata Gorecky.
Baginya, lompatan tersebut membawa tuntutan kesiapan yang tidak bisa ditunda. Dengan hadirnya sistem yang lebih adaptif dan dapat bergerak dalam berbagai kebutuhan produksi, tantangan keterampilan dan kesiapan organisasi dinilai akan berubah secara signifikan.
Contoh pembelian produk: dari konfigurator digital ke negosiasi AI agent
Untuk menjelaskan perbedaan mendasar antara Industry 4.0 dan Industry 5.0, Gorecky menggunakan contoh pembelian produk. Pada Industry 4.0, konsumen masih memilih sendiri produk melalui konfigurator digital yang terhubung dengan pabrik.
Sementara itu, pada Industry 5.0, mekanismenya dinilai berbeda. AI agent memahami kebutuhan pengguna, mengetahui preferensinya, menilai tingkat urgensi, kemudian bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok agar produk terbaik dapat diperoleh dalam waktu tercepat.
Ia menekankan bahwa peran AI agent tidak berhenti pada rekomendasi. “AI agent tersebut pada akhirnya juga akan bernegosiasi dengan pabrik dan rantai pasok untuk memastikan Anda memperoleh produk terbaik dalam waktu yang paling optimal,” ujarnya.
Dari sudut pandang ini, alur kerja yang semula banyak bergantung pada keputusan manusia di tahap akhir, bergeser menjadi proses yang lebih terkoordinasi oleh sistem AI. Negosiasi dengan rantai pasok juga menempatkan respons terhadap kebutuhan pelanggan pada tempo yang berbeda dibandingkan era sebelumnya.
Apakah manusia tetap menjadi pusat?
Meskipun Industry 5.0 kerap dibingkai dengan gagasan memadukan manusia dan teknologi, Gorecky mempertanyakan apakah konsep tersebut benar-benar masih menempatkan manusia sebagai pusat. Ia menilai banyak pemimpin perusahaan justru menginginkan pabrik dengan jumlah pekerja manusia yang semakin sedikit.
Dengan demikian, ia melihat adanya jarak antara narasi “berpusat pada manusia” dan arah implementasi yang mungkin terjadi di lapangan. Pada akhirnya, pergeseran menuju sistem yang semakin otonom dan berbasis misi dapat mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja.
Gorecky tidak menyatakan bahwa manusia menjadi tidak relevan sama sekali, namun ia menyoroti kecenderungan bahwa keputusan investasi dan desain pabrik bisa mengarah pada pengurangan peran pekerja manusia. Dalam situasi seperti itu, kapasitas inovasi dan kesiapan industri dinilai akan menjadi penentu agar negara tidak tertinggal dalam persaingan berbasis teknologi.
Peringatan Swiss yang disampaikan Gorecky bermuara pada satu pesan: perlombaan menuju supremasi teknologi berjalan cepat, dan negara yang tidak membangun kapabilitas AI dapat berakhir pada ketergantungan. Pada fase Industry 5.0, peran AI agent, physical AI, hingga cara pabrik merespons kebutuhan konsumen dipandang menjadi penentu apakah suatu wilayah mampu bersaing atau justru menjadi “koloni AI”.












