jurnalistik.co.id – Andy Burnham akan berbicara di Dewan Rakyat (Commons) untuk pertama kalinya sebagai perdana menteri, saat para anggota parlemen kembali bekerja setelah libur musim panas. Momen itu diprediksi sarat ketegangan karena ia datang dengan sorotan yang tak hanya datang dari ruang sidang, tetapi juga dari publik luas.
Kurang dari enam minggu setelah ia berjalan masuk ke Downing Street, Burnham juga menghadapi kembali pengalaman yang sudah lama tidak ia rasakan di podium parlemen. Terakhir kali ia berdiri di dispatch box bersama pemerintahan Partai Buruh terjadi 16 tahun lalu, sehingga pertemuan kali ini terasa sangat “baru” sekaligus menentukan.
Di ruang sidang yang sempit, ia akan berhadapan langsung dengan lawan-lawannya. Di belakangnya, anggota-anggota Buruh akan menjadi penyangga politik, sementara pertanyaan, serangan, sindiran, hingga tanggapan cepat dari berbagai pihak akan menjadi ujian cara ia mengelola forum.
Menurut pengamatannya, musim panas Burnham sebenarnya relatif mudah. Ketika ia mulai menjalankan tugas sebagai perdana menteri, anggota parlemen sudah lebih dulu mengambil jeda, sehingga ruang gerak untuk mempresentasikan kebijakan lebih longgar sebelum tantangan politik menumpuk lagi.
Selama periode itu, Burnham menyingkap sejumlah langkah yang ditujukan untuk membantu beban biaya hidup. Di antaranya, ada batas tarif sebesar £2 untuk ongkos bus, penghapusan PPN dari tagihan energi untuk kebutuhan domestik, serta pemotongan business rates untuk pub, klub, dan venue musik sebesar 20% pada tahun berikutnya.
Tetapi masa kemudahan itu kini berakhir. Autum yang menunggu akan menghadirkan serangkaian tes politik yang lebih berat, baik dari agenda parlemen maupun dinamika dalam partai-partai.
Bicara di Commons pada hari Selasa akan menjadi titik tumpu ketika jadwal resmi kembali padat. Ia juga diperkirakan menjalani Prime Minister’s Questions untuk pertama kalinya pada Rabu, sebelum memasuki perhatian publik yang biasanya meningkat di sela konferensi partai.
Setelah itu, Burnham akan menghadapi pemotretan dari publik dan oposisi ketika menyusun agenda anggaran, termasuk Budget pertamanya. Lebih jauh, pada periode berikutnya ia dijadwalkan menyampaikan pidato yang memuat rencana 10 tahun bagi negara.
Dalam pekan ini, ada dugaan ia akan menekankan rencana untuk membawa kembali layanan yang diprivatisasi ke bawah kendali publik. Argumen yang muncul adalah bahwa langkah seperti itu dapat membantu meringankan tekanan yang menekan anggaran rumah tangga.
Pihak Number 10 menyatakan Burnham akan memberi pesan kepada parlemen bahwa pemerintah akan terus mengambil tindakan terkait biaya hidup. Pernyataan itu merujuk pada komitmen untuk menjanjikan upaya yang membuat hidup lebih terjangkau “di mana pun memungkinkan”.
Di sisi lain, Partai Konservatif dan Reform UK mempersiapkan serangan terhadap kebijakan-kebijakan Burnham. Fokusnya kemungkinan akan bertumpu pada pertanyaan mengenai cara kebijakan tersebut dibiayai, serta apakah pada akhirnya akan muncul kenaikan pajak baru.
Berita Terkait
Pada Senin, Kemi Badenoch melakukan perombakan tim kabinet bayangan untuk menyiapkan konteks serangan tersebut. Ia mengangkat Andrew Griffith sebagai shadow chancellor baru, sebuah penunjukan yang sekaligus dipakai untuk memperkuat narasi oposisi di momen awal pemerintahan Burnham.
Konservatif menyoroti latar belakang Griffith di dunia usaha. Sebelum terjun ke politik, ia disebut pernah menjadi chief financial officer dan chief operating officer di Sky, serta menjadi ketua Just Eat. Dari situ, oposisi mengarahkan janji bahwa pemerintahan Konservatif bisa menghadirkan “lower, simpler taxes, get Britain drilling again to bring down energy costs, slash the red tape holding Britain back, and scrap the job-killing measures in Labour’s (Un)Employment Rights Act”.
Namun, Buruh dan Liberal Demokrat menanggapi dengan cara berbeda. Mereka menekankan bahwa Griffith adalah menteri di Kementerian Keuangan dalam pemerintahan Liz Truss, serta secara terbuka membela “mini-budget” pada masa itu.
Bridget Phillipson, selaku ketua Partai Buruh, mengkritik kubu Konservatif dengan menyebut “Tories’ top team is crammed full of the same vandals who hammered family finances and left our public services crumbling”. Sementara Daisy Cooper, juru bicara Keuangan Liberal Demokrat, mengatakan penunjukan Griffith menunjukkan Konservatif “happy to forfeit any claim to economic credibility”.
Burnham juga diperkirakan mendapat kritik dari Partai Hijau (Greens). Zack Polanski, pemimpin partai tersebut, menilai gagasan Burnham mengenai kontrol publik yang lebih besar atas layanan vital hanya “just tinkering”.
Polanski menyatakan jika Burnham ingin menghadirkan harapan, ia perlu mengatur pajak yang lebih berat bagi kelompok berada, menarik kembali air dan energi ke kepemilikan publik, menerapkan rent controls, serta menolak pengerukan baru di North Sea.
Selain itu, Liberal Demokrat telah lebih dulu menyerang rencana Burnham dalam menangani krisis penjara. Jess Brown-Fuller, juru bicara keadilan mereka, mengatakan janji membangun sel-sel baru tidak disertai dukungan dana yang baru, sehingga menunjukkan “just how unserious this Government remains about fixing our justice system”.
Di luar perdebatan anggaran dan kebijakan layanan, tantangan lain yang besar adalah urusan pertahanan. Burnham harus menjawab bagaimana rencana yang ia warisi dari Sir Keir akan dibiayai, serta seberapa cepat pengeluaran akan ditingkatkan untuk memenuhi komitmen NATO.
Keputusan-keputusan terkait eksploitasi migas juga berada di depan mata. Ada pertimbangan mendesak apakah akan menyetujui pengeboran minyak dan gas baru di North Sea, sementara pilihan lain juga menunggu seiring naiknya biaya energi pada musim dingin mendatang.
Beban politik itu juga akan menyeret pertanyaan mengenai apakah pajak perlu ditambah pada saat Budget. Di sisi yang lebih panjang, pemerintahan Burnham akan berhadapan dengan isu reformasi tunjangan (welfare), perawatan sosial (social care), serta hubungan dengan Uni Eropa.
Dengan tumpukan pertanyaan dari banyak pihak, pengamatan Damian Grammaticas mengarah pada kesimpulan bahwa saat Burnham berdiri untuk menjawab anggota parlemen pada Selasa, itulah momen yang menutup “masa bulan madu”. Setelah itu, pekerjaan yang berat dan persaingan yang lebih tajam diperkirakan benar-benar dimulai.












