jurnalistik.co.id – Fenomena pengendara yang mudah terpancing emosi hingga berujung kekerasan di jalan, menurut psikolog, tidak selalu berakar pada stres sesaat. Dalam penilaian Psikolog Novita Tandry, ada rangkaian faktor yang menumpuk dan akhirnya membuat seseorang kehilangan kendali.
Novita menegaskan, kondisi psikologis yang rapuh bisa terbentuk ketika tekanan hidup datang terus-menerus, sementara kemampuan mengelola emosi tidak pernah dilatih atau tidak lagi memadai. Ia melihat, kombinasi tekanan yang berkelanjutan, kelelahan mental, serta ketidakmampuan mengontrol emosi menjadi pendorong utama orang untuk bereaksi berlebihan saat berkendara.
Ia juga mengingatkan agar publik tidak buru-buru menyimpulkan setiap kasus kekerasan di jalan sebagai akibat stres semata. Alasannya, setiap peristiwa bisa memiliki latar yang berbeda, sehingga penyebabnya tidak bisa disamaratakan tanpa melihat konteksnya.
“Kalau yang pertama, saya melihat dari video yang beredar, itu bukan semata-mata karena stres. Dia memang ingin melampiaskan kemarahannya,” kata Novita kepada Kompas.com melalui telepon, Jumat (10/7/2026).
Dalam contoh yang ia bahas, terdapat kasus pengendara sepeda motor yang melibatkan dugaan tindakan penganiayaan terhadap pengendara lain di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Peristiwa itu terjadi Sabtu (4/7/2026), dengan narasi bahwa korban mengaku menjadi pihak yang diserang oleh pria berkaus biru saat melintas di Jalan Raya Jagakarsa. Novita menilai, pola tindakan dalam kasus seperti ini tidak cukup untuk dijelaskan hanya sebagai luapan stres sesaat.
“Kalau yang kedua, menurut saya ada unsur kriminal juga. Ada dugaan ingin memalak,” ujar Novita saat membahas kasus lain yang terjadi di Sunter, Jakarta Utara. Ia merujuk pada peristiwa di mana pengemudi taksi online dilaporkan merusak mobil di kawasan tersebut, dengan indikasi motif yang berbeda dari sekadar emosi sesaat di jalan.
Meskipun demikian, Novita tidak menampik bahwa tekanan hidup yang terus menumpuk dapat membuat seseorang semakin sulit mengendalikan emosi. Menurutnya, kondisi itu dapat muncul ketika seseorang berada dalam situasi yang menekan sekaligus, lalu informasi dan beban harian terus menguras daya psikologisnya.
“Kalau memang alasannya stres dan hanya mencari pelampiasan, menurut saya penyebabnya bisa karena kelelahan mental,” ucap Novita.
Berita Terkait
Ia menjelaskan bahwa kelelahan mental tidak datang tiba-tiba, melainkan berkembang dari akumulasi persoalan. Dalam keseharian, masyarakat menghadapi berbagai tekanan secara bersamaan, mulai dari cuaca yang sangat panas hingga kesulitan ekonomi. Tuntutan pekerjaan dan derasnya arus informasi negatif yang dikonsumsi setiap hari juga ikut memperbesar beban yang dipikul.
Novita menilai, paparan berulang terhadap berbagai pemberitaan besar dapat memperberat kondisi psikologis terutama pada orang yang tetap harus memenuhi kebutuhan hidup. Ia menggarisbawahi kesenjangan perasaan antara apa yang terlihat di layar dan apa yang dialami langsung saat menjalani rutinitas.
“Orang zaman sekarang menghadapi banyak tekanan. Cuaca sangat panas, sulit mencari pekerjaan, belum lagi setiap hari membaca berita tentang korupsi yang begitu masif,” katanya.
Untuk menggambarkan keterkaitan antara informasi dan kondisi mental, ia menyebut contoh keseharian saat seseorang terus menghadapi berita bernilai besar. Ia menekankan bahwa ketika beban hidup nyata harus ditanggung sambil menyaksikan banyak narasi tentang uang dan kekayaan dalam jumlah fantastis, kelelahan mental bisa semakin cepat terbentuk.
“Bayangkan, setiap hari kita membaca berita tentang uang ratusan miliar, emas puluhan kilogram. Sementara kita bekerja dengan cara yang halal, melihat orang-orang di jalan harus berpanas-panasan mencari nafkah. Itu bisa memicu kelelahan mental,” ujar dia.
Ketika kelelahan mental sudah menjadi kondisi yang berlangsung, Novita memandang dampaknya tidak berhenti pada gangguan suasana hati sesaat. Tekanan yang tidak diolah dapat berkembang menjadi keadaan kronis sehingga seseorang lebih mudah marah, lebih sulit tidur, serta kehilangan kemampuan mengendalikan emosi.
Dalam konteks berkendara, ia menempatkan jalan raya sebagai situasi yang memicu reaksi, bukan penyebab tunggal. Artinya, saat seseorang sudah berada dalam kondisi psikologis yang lelah dan tertekan, insiden kecil di jalan dapat terasa lebih berat dan memantik respons yang lebih ekstrem.
Pada akhirnya, penilaian Novita Tandry mengarah pada satu pesan: pengendara yang mengamuk tidak selalu sedang mengalami stres sesaat, melainkan sering kali menghadapi akumulasi tekanan yang membuat emosi sulit terkelola. Dengan melihat perbedaan latar di tiap kasus, publik dapat memahami bahwa setiap peristiwa kekerasan memiliki penjelasan yang tidak bisa disederhanakan menjadi satu faktor saja.











