jurnalistik.co.id – Banyak orang pernah merasakan suasana hati memburuk saat akhir pekan hampir berakhir. Menjelang Senin pagi, pikiran tentang pekerjaan yang menunggu sering memicu rasa cemas, gelisah, hingga sulit menikmati waktu istirahat.
Namun, psikolog mengingatkan bahwa kecemasan yang muncul menjelang hari kerja tidak selalu bisa dipahami sebagai sekadar “malas kembali rutinitas”. Dalam kondisi tertentu, perasaan tersebut dapat menjadi isyarat adanya tekanan psikologis yang lebih serius terkait pekerjaan.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., Psikolog, menekankan pentingnya membedakan fase yang masih wajar dengan kondisi yang sudah mulai mengganggu kesehatan mental. Hal tersebut disampaikan Danti saat diwawancarai Kompas.com pada Kamis (11/6/2026).
Danti menjelaskan, pada awal karier atau ketika menghadapi pekerjaan baru, wajar bila seseorang mengalami kebosanan, ketidaknyamanan, atau merasa kurang tertantang. Dalam fase ini, individu umumnya masih bisa menempatkan pekerjaannya sebagai proses belajar.
Menurut Danti, seseorang yang masih berada pada adaptasi yang sehat dapat memandang pekerjaannya sebagai batu loncatan sementara meski belum sepenuhnya puas. Ia juga menyebut bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri biasanya tetap ada.
“Pada fase adaptasi yang wajar, saat seseorang mungkin merasa bosan atau kurang tertantang, namun orang tersebut bisa tetap memandang pekerjaan tersebut sebagai batu loncatan sementara,” ujar Danti.
Danti menambahkan, energi emosional yang terkuras selama hari kerja pada umumnya dapat pulih ketika seseorang beristirahat pada akhir pekan. Artinya, ada ruang untuk pemulihan sehingga ketidaknyamanan yang muncul tidak terus menempel tanpa jeda.
Meski demikian, Danti mengingatkan bahwa masalah bisa muncul ketika perasaan tidak nyaman terhadap pekerjaan berubah menjadi tekanan yang terus-menerus dan sulit dihilangkan. Pada titik ini, kecemasan yang semula diperkirakan normal dapat berkembang menjadi sinyal bahaya.
Ia menjelaskan, kecemasan yang sudah mengarah ke kondisi serius biasanya ditandai dengan munculnya perasaan putus asa, menyalahkan diri sendiri, dan menganggap diri sebagai sosok yang gagal. Selain itu, seseorang dapat mulai merasa terjebak pada penilaian negatif tentang dirinya.
“Situasi sudah berdampak negatif dan berbahaya bagi mental jika mulai menyalahkan diri sendiri, merasa terjebak dalam keputusasaan, dan menganggap diri sendiri sebagai produk gagal,” kata Danti.
Dalam situasi tersebut, Danti menegaskan bahwa kecemasan menjelang Senin pagi bukan lagi sekadar enggan bekerja. Perasaan tersebut dapat menjadi bagian dari kelelahan emosional yang lebih mendalam, sehingga istirahat yang seharusnya memberi pulih tidak lagi berfungsi optimal.
Bagi banyak pekerja, rasa cemas di akhir pekan bisa terasa akrab karena terkait rutinitas yang kembali berjalan. Namun, mengutip penjelasan Danti, yang perlu diperhatikan adalah perubahan kualitas kecemasan: apakah masih berada dalam kerangka adaptasi yang wajar, atau justru berkembang menjadi tekanan yang menetap dan merusak cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Dengan menyadari perbedaan itu, seseorang diharapkan lebih peka terhadap kondisi mentalnya sendiri. Jika gejala mulai mengarah pada putus asa, self-blame, dan keyakinan bahwa diri adalah “produk gagal”, maka kecemasan yang muncul menjelang hari kerja sudah layak mendapat perhatian lebih serius.
Dalam menilai kondisi mentalnya, seseorang dapat memperhatikan apakah ketidaknyamanan yang muncul di akhir pekan masih bersifat sementara. Jika setelah beristirahat pada akhir pekan energi emosional kembali pulih, maka kecemasan cenderung masih berada dalam ruang adaptasi yang wajar. Sebaliknya, ketika pemulihan tidak lagi terasa optimal, tanda tekanannya bisa semakin dalam.
Dari penjelasan Danti, penentu penting juga terletak pada cara pikiran menilai diri sendiri saat hari kerja akan dimulai. Bila pikiran negatif mulai bergeser menjadi putus asa, disertai kebiasaan menyalahkan diri, dan membentuk keyakinan bahwa diri adalah “gagal”, kecemasan yang semula hanya terkait pekerjaan bisa berubah menjadi penilaian yang merusak cara seseorang memandang nilai dirinya.
Karena itu, fokus perhatian tidak hanya pada munculnya rasa cemas menjelang Senin pagi, tetapi juga pada kualitasnya dari waktu ke waktu. Ketika kecemasan berubah menjadi tekanan yang terus-menerus dan sulit dihentikan, upaya istirahat yang seharusnya memberi jeda tidak lagi bekerja seperti semestinya, sehingga perhatian yang lebih serius menjadi semakin relevan.









